Beranda Umum Nasional Gempa NTT Telan Kerugian Rp 2,2 Triliun, Baznas Soroti Gap Pemulihan hingga...

Gempa NTT Telan Kerugian Rp 2,2 Triliun, Baznas Soroti Gap Pemulihan hingga Rp 593 Miliar  

gempa
Ilustrasi gempa. Foto: pixabay.com

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Gempa bumi yang mengguncang delapan kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan hanya meninggalkan ribuan bangunan rusak dan aktivitas warga yang lumpuh. Di balik masa tanggap darurat, muncul persoalan lain yang tak kalah besar, yakni kebutuhan dana untuk memulihkan kehidupan masyarakat diperkirakan mencapai triliunan rupiah, sementara sebagian kebutuhan rekonstruksi masih menyisakan kesenjangan pembiayaan hingga ratusan miliar rupiah.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memperkirakan total kerugian akibat gempa tersebut mencapai sekitar Rp 2,2 triliun. Perhitungan itu merupakan hasil kajian Damage and Loss Assessment (DALA) yang dilakukan Direktorat Riset, Kajian, dan Pengembangan Baznas RI berdasarkan data hingga 18 Agustus 2026, atau lima hari setelah bencana terjadi.

Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengatakan, sektor perumahan menjadi penyumbang kerusakan terbesar. Sedikitnya 19.317 unit rumah terdampak dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai Rp 1,42 triliun.

“Kerusakan terbesar berasal dari sektor perumahan yang diperkirakan mencapai Rp 1,42 triliun dengan 19.317 unit rumah rusak. Selain itu, kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur mencapai Rp 275,1 miliar,” kata Sodik di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Kerusakan fisik itu belum mencakup seluruh dampak ekonomi yang ditimbulkan gempa. Baznas juga menghitung kerugian akibat aktivitas ekonomi yang terhenti atau terganggu sebesar Rp 334,1 miliar.

“Baznas juga menghitung biaya tambahan akibat bencana sebesar Rp 191,7 miliar,” ujarnya.

Dengan skala kerusakan sebesar itu, pemulihan pascabencana dinilai tidak mungkin hanya mengandalkan satu pihak. Sodik menilai pemerintah, lembaga filantropi, dunia usaha hingga masyarakat perlu mengambil peran masing-masing agar warga terdampak tidak terlalu lama terjebak dalam situasi darurat.

Baca Juga :  Dongkrak Gaji Hakim Yunior 280 Persen, Prabowo Sebut Agar Tak Bisa Dibeli

“Baznas tidak menggantikan peran pemerintah. Kami hadir untuk melengkapi upaya pemulihan, terutama membantu masyarakat yang berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan dukungan untuk kembali bangkit,” kata Sodik.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Baznas adalah pembangunan kembali rumah-rumah warga yang rusak. Berdasarkan hasil kajian, terdapat selisih antara kebutuhan biaya penggantian rumah dengan plafon bantuan yang tersedia melalui skema pemerintah.

Kesenjangan pembiayaan untuk sektor hunian tersebut diperkirakan berada di kisaran Rp 366 miliar hingga Rp 593 miliar. Baznas melihat celah itu sebagai ruang bagi lembaga filantropi dan berbagai pihak untuk terlibat dalam mempercepat pemulihan, terutama bagi masyarakat miskin dan kelompok mustahik.

Wilayah yang mendapat perhatian khusus adalah Kabupaten Manggarai Timur. Daerah tersebut dinilai menghadapi tekanan yang lebih berat karena besarnya tingkat kerusakan tidak sepenuhnya sebanding dengan kemampuan ekonominya.

“Manggarai Timur sendiri menyumbang 54 persen dari total kerugian mustahik. Wilayah tersebut menyumbang 38,7 persen kerusakan rumah dari total delapan kabupaten terdampak. Di sisi lain, pangsa PDRB-nya hanya 9,6 persen dan tingkat kemiskinannya mencapai 23,5 persen,” ucap Sodik.

Baznas pun menyiapkan zakat, infak, sedekah, serta Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL) sebagai salah satu instrumen untuk membantu kebutuhan masyarakat yang belum seluruhnya tertampung dalam skema pembiayaan pemerintah.

Baca Juga :  PDIP Alihkan Kapal Rumah Sakit Apung dari Banten ke NTT untuk Bantu Korban Gempa

“Dana tersebut diarahkan pada kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau oleh skema pembiayaan pemerintah,” ujarnya.

Menurut Sodik, kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai elemen lain akan terus dibuka agar program pemulihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Sebelum masuk pada tahap pemulihan, Baznas telah lebih dahulu menerjunkan personel Baznas Tanggap Bencana (BTB) dan Rumah Sehat Baznas (RSB) sejak masa awal tanggap darurat gempa di NTT.

Berbagai fasilitas pendukung juga telah disiapkan, mulai dari dapur umum, dapur air hingga posko pengungsian sementara.

Dengan nilai kerugian yang telah dipetakan mencapai Rp 2,2 triliun hanya dalam hitungan hari setelah gempa, tantangan berikutnya kini bukan lagi semata soal menyalurkan bantuan darurat. Persoalan yang jauh lebih panjang adalah bagaimana ribuan keluarga, terutama kelompok rentan, bisa benar-benar kembali memiliki rumah, mata pencaharian, dan kehidupan yang pulih setelah bencana.  [*]   Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.