Beranda Umum Opini Karhutla dan Bangsa yang Tone Deaf terhadap Suara Alam

Karhutla dan Bangsa yang Tone Deaf terhadap Suara Alam


Oleh:
Niken P. Satyawati
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Karanganyar (Umuka)/ Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi UNS

Pada pertengahan Oktober 2026, langit Palangka Raya berubah oranye di siang hari. Pada Selasa, 20 Oktober, Dinas Kesehatan kota itu melaporkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Juni telah mencapai 11.276. Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 306 ribu kasus ISPA akibat karhutla hingga pertengahan Oktober, dengan anak usia 6–9 tahun sebagai kelompok yang paling banyak terdampak: 77.022 kasus. Pekan yang sama, media melaporkan seorang anak enam tahun di Kalimantan Barat dan seorang bayi satu tahun di Kalimantan Timur meninggal setelah mengalami gangguan pernapasan berat akibat pekatnya asap.

Kita tidak kekurangan sinyal. Ada satelit yang menghitung titik panas, ada badan cuaca yang memprakirakan kemarau. Ada data dalam hektare yang diperbarui hampir setiap hari. Namun, bencana ini terus berulang, seakan-akan kita mendengar bunyinya tetapi gagal menangkap nadanya. Dalam bahasa musik, itulah tone deaf. Telinga berfungsi, tetapi nada tidak dikenali. Karhutla bukan hanya kegagalan teknis, lebih dari itu adalah kegagalan komunikasi, komunikasi manusia dengan alam.

Angka-angka karhutla 2026 memang mengejutkan. Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat lebih dari 202 ribu hektare lahan terbakar sepanjang Januari–Agustus, dan Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas terbesar, sekitar 38 ribu hektare. Catatan itu merujuk pada enam provinsi prioritas penanganan, sehingga bukan potret seluruh negeri. Sebuah estimasi kelompok lingkungan yang dikutip Reuters pada 13 Oktober bahkan menyebut luasnya mencapai 637 ribu hingga 900 ribu hektare. Lembaga CELIOS memperkirakan kerugian ekonomi dan biaya kesehatan hingga Rp123,1 triliun, sementara Pantau Gambut memperkirakan sekitar 16 juta dari 24 juta hektare gambut Indonesia makin rentan terbakar.

Manusia pandai menghitung. Tetapi Donal Carbaugh, ilmuwan komunikasi yang banyak menulis tentang lingkungan, telah mengingatkan bahwa angka dan istilah adalah cara manusia merepresentasikan dunia, bukan dunia itu sendiri. Dalam tulisannya tentang kata “lingkungan” yang diberi tanda kutip, ia menganjurkan kesetiaan ganda: setia pada kata-kata manusia sekaligus pada dunia material yang dirujuknya. Bahasa tidak pernah netral, tetapi dunia juga tidak boleh dilebur menjadi bahasa. Tone deaf bermula di sini. Kita mungkin setia pada kata, seperti “indikasi lahan terbakar”, “status siaga darurat”, dan “titik panas”, namun kemudian lupa pada dunia yang dirujuknya: gambut yang membara di bawah permukaan, paru-paru anak yang sesak, hutan yang kehilangan penghuninya.

Dalam buku Theories of Human Communication, Littlejohn dan kawan-kawan memuat satu bab khusus tentang komunikasi melampaui manusia (beyond human communication). Gagasan pokoknya sederhana, tetapi mengguncang: model komunikasi yang hanya mengenal manusia sebagai pengirim dan penerima pesan terlalu sempit. Alam, hewan, benda, dan mesin ikut membentuk apa yang terjadi, sehingga agensi, yakni kemampuan membuat perbedaan, tidak hanya dimiliki manusia, melainkan tersebar dalam jaringan hubungan.

Teori jaringan-aktor (actor-network theory) yang dibahas memberi kita kacamata yang tajam. Sesuatu dianggap memiliki agensi bila ia membuat perbedaan dalam rangkaian tindakan. Dengan ukuran itu, karhutla adalah jaringan panjang: pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian, izin dan tata ruang, gambut yang kehilangan air, kemarau panjang yang dipicu El Niño, angin yang membawa asap melintasi batas provinsi, hingga satelit dan algoritma yang mendeteksi titik panas. Gambut yang kering bukan sekadar latar. Ia aktor yang mengubah nasib kota, penerbangan, sekolah, dan kesehatan jutaan orang. Laporan yang disampaikan kepada Presiden pada 12 Oktober bahkan mencatat bahwa asap tebal menghambat operasi udara karena jarak pandang rendah. Api yang diburu dari udara ternyata dihalangi oleh asapnya sendiri.

Baca Juga :  Indonesia Kaya Hadirkan Legenda Nusantara dalam dalam Format Mikro-Drama-Musikal Vertikal melalui #MusikalDiRumahAja

Bukan berarti menyamakan alam dengan manusia, apalagi mengklaim bahwa gambut “berbicara” dalam kalimat. Justru jarak dan keberlainan harus diakui. Yang diminta adalah kerendahan hati untuk memperhatikan umpan balik dunia material di sekitar manusia. Kualitas air yang berubah, pola cuaca yang bergeser, tanah yang mengering. Begitulah alam “berkomunikasi”, yakni melalui akibat.

Menurut Tema Milstein, tradisi berpikir yang memisahkan manusia dari alam bertumpu pada tiga pasangan gagasan: penguasaan versus keharmonisan, alam sebagai “pihak lain” versus keterhubungan, serta eksploitasi versus idealisme. Dalam wacana dominan, kemajuan manusia ditempatkan di atas keseimbangan ekologis, dan alam dipandang sebagai sesuatu yang tersedia untuk dimanfaatkan.

Cobalah mendengarkan bahasa kita sendiri. Laporan kebencanaan kerap menyebut kebakaran terjadi di “lahan kosong”. Wacana perkebunan dan pertanian berbicara tentang “membuka lahan”. Gambut yang terdegradasi disebut “lahan tidur”. Carbaugh menunjukkan bahwa nama yang diberikan pada suatu tempat membentuk makna budaya sekaligus berkonsekuensi fisik. Sungai yang disebut sumber kehidupan mengundang pemeliharaan. Sedangkan sungai yang hanya disebut sumber daya mengundang eksploitasi. Kata “kosong” menghapus mikroba tanah, pepohonan, burung, dan serangga dari pandangan, seolah-olah yang ada hanyalah ruang yang menunggu diisi manusia.

Carrie Packwood Freeman menambahkan dimensi lain. Menurutnya, spesiesisme, yakni pengutamaan kepentingan manusia atas makhluk lain, hidup dalam cara kita membingkai berita. Media cenderung memperlakukan hewan sebagai komoditas, ancaman, atau alat ekonomi. Jarang dia dimaknai sebagai makhluk yang punya kepentingan sendiri. Coba perhatikan berapa banyak berita karhutla yang bertanya berapa hektare terbakar, dibandingkan yang bertanya siapa saja yang tinggal di sana dan ke mana mereka pergi.

Steven Schwarze menjelaskan bahwa gerakan lingkungan sering memakai melodrama: strategi retoris yang mengubah persoalan teknis menjadi konflik moral antara pihak yang dirugikan dan kekuatan mapan, lengkap dengan empati dan rasa benar bersama. Terence Check menambahkan peran kemarahan moral. Di Vieques, Puerto Riko, kematian seorang warga akibat bom yang jatuh tidak sengaja menjadi titik balik yang mengubah rasa tidak berdaya menjadi mobilisasi politik.

Kita bisa melihat gema pola serupa. Seorang paman korban di Kalimantan Barat berkata di televisi, “Nunggu korban berapa orang lagi baru kau bilang ini bencana nasional?” Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk raksasa dari Patung Selamat Datang di Bundaran HI. Desakan agar karhutla ditetapkan sebagai bencana nasional menguat. Di sisi lain, pemerintah mengerahkan personel gabungan dan helikopter water bombing. Sementara relawan memadamkan bara gambut dengan metode “suntik gambut”. Keduanya fakta, dan keduanya perlu didengar.

Melodrama memang bisa membangunkan, tetapi Schwarze sendiri mengingatkan bahwa ia perlu disertai tanggung jawab agar penyederhanaan tidak menghapus kompleksitas. Karhutla bukan dongeng tentang pahlawan dan penjahat. Ia melibatkan petani kecil, perusahaan, pemerintah daerah, iklim, dan tata kelola gambut yang rumit. Ada pertanyaan yang pantas direnungkan. Mengapa perhatian nasional kerap meninggi ketika asap mendekati pusat? BMKG mencatat asap sempat memasuki Jawa bagian barat pada pertengahan Oktober, padahal warga Sumatra dan Kalimantan sudah berbulan-bulan menghirupnya. Di titik ini Milstein menawarkan gagasan “saksi yang penuh perhatian” (watchful witness) dan keheningan: kesediaan menyaksikan tanpa menjadikan penderitaan orang dan makhluk lain sebagai tontonan atau bahan debat semata.

Baca Juga :  Cara Isi ShopeePay Sesuai Total Checkout agar Tidak Kurang Saldo

Berlatih Mendengar

Kabar baiknya, tonedeaf bukan takdir. Nada bisa dilatih. Carbaugh menawarkan akronim EARTH sebagai lima titik acuan untuk mendengarkan alam, dan masing-masing relevan bagi penanganan karhutla. Environment menuntut kesetiaan pada kata sekaligus dunia. Label “hijau”, “lestari”, atau “telah dipulihkan” harus diuji dengan kondisi tanah dan air, misalnya tinggi muka air gambut, bukan dengan laporan semata. Active berarti keterlibatan yang tanggap: mendengar berarti bertindak sebelum api menyala, bukan hanya memadamkannya setelah asap mengepung. Responsibility menjadikan kebaikan alam sebagai salah satu tolok ukur keputusan, termasuk dalam pemberian izin dan penegakan hukum. Time mengingatkan bahwa mendengar membutuhkan waktu. Pemulihan gambut tidak selesai dalam satu siklus anggaran, dan perhatian publik yang naik-turun mengikuti musim asap tidak cukup. Heuristic mengajak terbuka pada cara memahami yang baru. Pengetahuan warga gambut, relawan, dan masyarakat setempat tentang tanda-tanda musim dan karakter tanah layak duduk sejajar dengan data satelit.

Pengetahuan lokal itu penting karena analisis wacana budaya Carbaugh mengajak kita bertanya apa arti tempat bagi yang menghuninya. Salah satu “pusat makna” dalam kerangka itu adalah dwelling, yakni keberadaan di suatu tempat. Bagi warga, gambut dan hutan bukan sekadar “lahan”, melainkan sumber nafkah, ingatan, dan identitas. Kebijakan yang tidak mendengar makna ini akan terus terdengar sumbang di telinga warga.

Mesin pun perlu didengar dengan cermat. Guzman dan Lewis mengingatkan bahwa agensi sistem cerdas harus dianalisis secara relasional dan bahwa algoritma bukan instruksi yang netral. Sistem deteksi titik panas dan peringatan dini sangat berharga, tetapi pesannya baru bermakna bila warga memahaminya, memercayainya secukupnya, dan tahu apa yang harus dilakukan. Itu pekerjaan komunikasi, bukan hanya pekerjaan teknik.

Akhirnya, bagi jurnalis dan akademisi, tantangannya ialah menulis dan meneliti dengan telinga ganda. Menyertakan suara warga, data ilmiah, pengalaman tubuh, dan kepentingan makhluk nonmanusia dalam satu cerita. Membaca karhutla dengan teori komunikasi tidak menggantikan ilmu gambut, hukum, atau ekonomi politik, dan alam tidak berniat menyampaikan pesan sebagaimana manusia. Tetapi mungkin itulah pelajaran terpentingnya. Komunikasi tidak pernah sepenuhnya transparan, bahkan antarmanusia sendiri, sehingga mendengar adalah kerja yang harus terus dilatih.

Carbaugh menyebut bumi bukan hanya objek yang dijelaskan, lebih dari itu juga sumber koreksi bagi pemahaman manusia. Setiap musim asap adalah koreksi, yang disampaikan dengan cara yang paling keras. Pertanyaannya bukan lagi apakah alam bersuara, melainkan sampai kapan kita memilih tidak mengenali nadanya?

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.