Beranda Daerah Wonogiri Petani Gajian Jateng Bukan Pinjaman Biasa! Begini Cara Petani Dapat Modal hingga...

Petani Gajian Jateng Bukan Pinjaman Biasa! Begini Cara Petani Dapat Modal hingga Kepastian Harga Panen

Petani
Aktivitas memanen padi di sawah. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Petani kerap menghadapi masalah berulang: modal tanam terbatas, risiko gagal panen, hingga harga gabah dan hasil pertanian yang anjlok saat panen raya. Program JTAB Petani Gajian di Jawa Tengah menawarkan skema berbeda. Petani mendapat dukungan modal, penghasilan selama masa tanam, serta kepastian pembeli hasil panen melalui kesepakatan harga sejak awal.

Cara kerja program ini dirasakan Irfani, petani asal Desa Jatisari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Selain menjadi peserta, dia juga bertugas sebagai koordinator lapangan yang membantu mengoordinasikan petani di wilayahnya.

Irfani mengaku program tersebut sangat membantu, terutama setelah petani di daerahnya mengalami gagal panen padi dan jagung. Kondisi itu membuat mereka kesulitan menyiapkan modal untuk kembali menggarap lahan.

“Jujur, saya sangat setuju dengan program Petani Gajian ini. Saya rasa sangat membantu petani, terutama dalam hal permodalan. Kemarin petani mengalami gagal panen, termasuk jagung dan padi. Dengan adanya program seperti ini, tentu sangat membantu,” kata Irfani, Rabu (21/10/2026).

Salah satu hal yang menarik bagi petani adalah harga pembelian hasil panen yang disepakati sejak awal. PT JTAB bertindak sebagai off-taker atau pembeli hasil produksi. Dengan begitu, petani memiliki gambaran harga jual sebelum memasuki masa panen, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada harga pasar ketika produksi melimpah.

Selama ini, petani di wilayah Irfani memiliki cara masing-masing untuk mencari modal. Ada yang menggunakan sisa hasil panen sebelumnya, ada pula yang harus meminjam uang atau menjual barang milik mereka demi bisa kembali menanam.

“Biasanya modal petani di sini bermacam-macam. Ada yang meminjam, tetapi sebagian besar menggunakan sisa hasil panen kemarin. Tahun ini kami mengalami gagal panen, sehingga ketika ada program Petani Gajian ini, menurut saya pribadi sangat membantu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bencana Kekeringan dan Krisis Air Bersih Wonogiri 10 Truk Digelontorkan ke 3 Desa

Kelompok yang dikoordinasikan Irfani terdiri atas tujuh petani. Mereka telah menerima pencairan modal tahap kedua setelah pencairan pertama pada akhir September 2026. Dana tersebut digunakan untuk menunjang kebutuhan produksi, mulai dari benih, pupuk hingga herbisida.

Lahan yang mereka garap merupakan sawah tadah hujan. Karena bergantung pada curah hujan, petani biasanya menargetkan dua kali musim tanam dalam setahun dengan menyesuaikan ketersediaan air.

Bagi Irfani, kepastian pembelian hasil panen menjadi nilai penting program ini. Petani tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan modal untuk menanam, tetapi juga memiliki kepastian mengenai siapa yang akan membeli hasil produksinya.

“Petani sering menghadapi kondisi ketika panen raya, tetapi harga jual justru turun. Di program ini, harga sudah disepakati sejak awal. Menurut saya, itu yang menguntungkan petani,” katanya.

Dia berharap program JTAB Petani Gajian bisa berlanjut pada musim tanam berikutnya. Sebab, keberlanjutan bantuan modal dan kepastian pemasaran akan membantu petani menjaga usaha mereka, terutama setelah mengalami kerugian akibat gagal panen.

“Harapan saya, program ini tidak berhenti sampai satu putaran saja. Mudah-mudahan tahun depan bisa berlanjut dan petani kembali mendapatkan modal. Kami memang sering kesulitan ketika menjual hasil panen, apalagi saat panen raya harga biasanya turun,” jelasnya.

Direktur Utama PT JTAB, Totok Agus Siswanto, menjelaskan program JTAB Petani Gajian telah diikuti sekitar 80 petani dengan luas lahan kurang lebih 200 hektare per September 2026. Pesertanya mencakup petani pemilik lahan maupun petani penggarap, dengan komoditas padi, bawang merah dan jagung di sejumlah daerah, antara lain Sukoharjo, Sragen, Klaten dan Semarang.

Menurut Totok, program ini menggabungkan dukungan modal produksi, pengaturan komoditas yang ditanam, kepastian pembelian hasil panen, serta penghasilan bagi petani yang disesuaikan dengan upah minimum kabupaten/kota (UMK) per hektare.

Baca Juga :  Nelayan 66 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Boto Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Sempat Terpisah dari Rekannya

“Melalui Program JTAB Petani Gajian ini, kita memberikan kepastian hasil kepada petani, bantuan modal, pengaturan komoditas yang ditanam, lalu kami kasih penghasilan (gaji) sesuai UMK per hektare, dan kemudian kami sebagai off-taker atau pembeli hasil panen,” kata Totok.

Lantas, bagaimana cara kerja skema tersebut?

PT JTAB memberikan modal kepada petani untuk membiayai kegiatan produksi. Sebagai bagian dari kesepakatan program, seluruh hasil panen dijual kepada PT JTAB dengan harga berdasarkan standar yang ditetapkan pemerintah dan kesepakatan awal.

Hasil penjualan kemudian digunakan untuk membayar modal produksi dan penghasilan petani selama masa tanam. Jika setelah pengurangan tersebut masih terdapat sisa hasil penjualan, sisa itu dikembalikan kepada petani.

Untuk mendukung pembiayaan dan mengantisipasi risiko usaha tani, PT JTAB bekerja sama dengan PT BPR BKK, Jamkrida untuk penjaminan kredit petani, serta Jasindo untuk asuransi gagal panen.

Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 1.000 petani. PT JTAB berharap skema ini dapat memberi kepastian usaha sekaligus membuat sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda.

“Harapan kami, dengan adanya kejelasan dan masa depan yang bagus, nanti akan membuat petani-petani muda kita mau terjun ke sawah. Dari awal kita sudah ada kesepakatan harga beli hasil panen,” pungkasnya. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.