JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Harapan sebagian anak muda terhadap kehadiran figur generasi muda di pucuk kepemimpinan nasional justru berubah menjadi kekecewaan. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kini bahkan menjadi sasaran tuntutan pemakzulan dari kalangan Generasi Z (Gen Z).
Aspirasi tersebut diungkapkan anggota DPR RI dari Fraksi PKB, Eka Widodo alias Edo. Ia mengaku menerima langsung keluhan dan protes sejumlah anak muda ketika menggelar kegiatan reses di daerah pemilihannya, Jawa Tengah IX.
Menurut Edo, kedatangan anak-anak muda tersebut bukan sekadar menyampaikan kritik biasa. Mereka membawa kegelisahan mengenai persoalan hukum dan proses politik yang mengantarkan Gibran menduduki kursi wakil presiden.
“Ketika saya reses di Dapil Jawa Tengah IX, saya dikerumuni anak-anak Gen Z. Mereka menyampaikan kekecewaan yang sangat mendalam terhadap kasus Gibran. Mereka merasa konstitusi telah dirusak dan hati anak-anak muda terluka. Ini murni suara anak-anak Gen Z yang disampaikan kepada saya ketika reses,” ujar Edo, Rabu (4/11/2026).
Edo menjelaskan, salah satu hal yang dipersoalkan adalah proses pencalonan Gibran dalam Pilpres 2024. Sebagian Gen Z menilai jalan menuju jabatan wakil presiden terbuka karena Gibran merupakan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat itu.
Mereka juga menyoroti Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang mengubah ketentuan persyaratan usia calon presiden dan wakil presiden. Putusan tersebut dinilai membuka peluang bagi Gibran untuk maju sebagai calon wakil presiden meski belum memenuhi batas usia sebelumnya.
Edo mengatakan, situasi tersebut memunculkan anggapan bahwa akses menuju kepemimpinan nasional tidak sepenuhnya terbuka bagi semua kalangan. Anak-anak muda dari keluarga biasa dikhawatirkan harus menghadapi hambatan lebih besar dibandingkan mereka yang memiliki hubungan dengan lingkaran kekuasaan.
“Ini yang sangat menyedihkan. Anak-anak muda merasa seolah-olah untuk menjadi pemimpin harus menjadi anak presiden atau anak pejabat. Kalau bukan anak pejabat, mereka merasa tidak punya kesempatan. Padahal, demokrasi seharusnya memberikan ruang yang sama bagi setiap warga negara,” ujarnya.
Janji 19 Juta Lapangan Kerja Ikut Disorot
Kekecewaan yang disampaikan Gen Z, lanjut Edo, tidak hanya berkaitan dengan persoalan konstitusi dan pencalonan Gibran. Mereka juga menyinggung janji penciptaan 19 juta lapangan kerja yang dinilai belum sesuai dengan kenyataan.
Edo menyebut kondisi pengangguran yang masih menjadi persoalan sebagai salah satu alasan munculnya rasa kecewa di kalangan anak muda.
Ia bahkan mengutip data BPS 2026 yang menurutnya menunjukkan 67 persen Gen Z saat ini menganggur. Kondisi tersebut membuat sebagian generasi muda merasa janji yang pernah disampaikan Gibran tidak terwujud.
Dalam penyampaian aspirasi saat reses, sejumlah anak muda bahkan secara terbuka meminta agar Gibran diberhentikan dari jabatan wakil presiden melalui proses pemakzulan.
“Anak-anak Gen Z menyampaikan bahwa mereka ingin Gibran dimakzulkan. Mereka merasa kecewa karena harapan terhadap kepemimpinan anak muda justru tercoreng oleh persoalan ini,” ungkapnya.
Edo Soroti Tiga Persoalan Hukum
Selain menyampaikan aspirasi yang diterimanya dari Gen Z, Edo juga mengemukakan tiga persoalan hukum dan konstitusional yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam mengevaluasi kedudukan Gibran sebagai wakil presiden.
Persoalan pertama adalah Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang mengubah persyaratan batas usia calon presiden dan wakil presiden. Keputusan tersebut menjadi salah satu landasan yang memungkinkan Gibran mengikuti kontestasi Pilpres 2024.
Kedua, Edo menyoroti persoalan ijazah pendidikan Gibran. Ia menyebut dalam pertimbangan putusan MK terdapat persoalan terkait tidak ditemukannya ijazah Gibran atau ijazah setingkat SMA.
Ketiga, ia mengangkat putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan surat keterangan (suket) penyetaraan pendidikan Gibran tidak sah dan batal demi hukum.
Menurut Edo, ketiga persoalan tersebut tidak semestinya diabaikan karena berkaitan dengan proses dan persyaratan pencalonan wakil presiden.
Ia pun meminta pemerintah dan lembaga terkait memberikan perhatian terhadap suara masyarakat, terutama generasi muda yang merasa kecewa terhadap perkembangan persoalan tersebut.
Edo mendorong agar tuntutan pemakzulan Gibran segera ditindaklanjuti. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















