loading...

Ilustrasi kebocoran pipa Pdam

SRAGEN–  Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sragen kehilangan potensi pendapatan hingga Rp 22 miliar pertahun akibat masih tingginya kebocoran air. Tingkat kebocoran air dalam setahun mencapai tercatat masih 6,1 juta meter kubik.

Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirto Negoro Sragen, Supardi Kamis (18/1/2018) mengatakan, persentase kebocoran air saat ini sekitar 28 persen, masih di atas rata-rata nasional yang ditetapkan 24 persen.

“Tarif air kami Rp 3,700 jika dikalikan 6,1 juta meter kubik berarti kehilangan potensi pendapatan mencapai Rp 22 miliar pertahun,” paparnya.

Menurut Supardi, kebocoran air di perusahaannya paling dominan disebabkan karena pipa yang sudah usang. Pipa yang perlu diganti di antaranya di ruas Jalan Sukowati, Jalan Veteran, Jalan Brigjen Katamso, dan Jalan Ahmad Yani, dengan total panjang sekitar delapan kilometer. Selain itu ada beberapa jaringan di unit yang sudah bocor dan harus segera diganti.

Seperti kebocoran air di Kecamatan Masaran yang mencapai 35 persen per 26 Desember 2017. Setelah dicek ternyata banyak ditemukan kebocoran jaringan di wilayah itu. Mengetahui hal itu tim PDAM langsung melakukan perbaikan. Hasilnya, per 16 Januari 2018 tingkat kebocoran di Masaran berhasil di tekan di angka 18 persen.

“Bila dibandingkan target maksimal kebocoran 20 persen memang masih butuh pembenahan. Tapi tahun ini anggaran untuk perbaikan sangat kecil,” jelasnya.

Loading...

Supardi menjelaskan, kebutuhan anggaran untuk penggantian jaringan pipa tua tersebut sekitar Rp 13 miliar. Dengan skema penggantian yang dibuat, pada 2021 tingkat kebocoran ditarget bisa ditekan menjadi 24 persen.

“Target penurunan kebocoran air adalah dua persen per tahun,” tandasnya.

Supardi menerangkan, masih tingginya kebocoran juga disebabkan alat untuk mengukur tingkat kebocoran air masih dengan metode analog sehingga akurasinya tak sebaik alat digital. “Bila tingkat kebocoran sudah 24 persen, untuk menurunkan lagi lebih susah,” tuturnya.

Supardi menambahkan, pihaknya pada tahun ini fokus agenda pembuatan sumur baru di Kecamatan Sambungmacan. Sumur itu untuk memenuhi kebutuhan air di Kecamatan Tangen dan Jenar yang memang kekurangan air bersih. Karena program itu pula PDAM tak mendapat anggaran penggantian jaringan rusak tahun ini.

Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Sragen, Sri Pambudi, berharap penggantian jaringan pipa rusak bisa konsisten dilakukan tiap tahun. Targetnya agar tingkat kebocoran air PDAM bisa kurang dari 20 persen sesuai amanat undang-undang. Semakin sedikit air PDAM yang bocor, akan semakin banyak pendapatan yang masuk ke kas daerah.

Apalagi saat ini Pemkab sedang butuh tambahan pendapatan asli daerah (PAD) untuk mengangsur utang Rp 200 miliar yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Tak hanya dari PDAM, sumber pendapatan lain harus lebih dioptimalkan. Wardoyo

Loading...