Beranda Daerah Sragen Kisah Mbah Surami, Janda Miskin asal Jenar Yang Memilih Bertahan di...

Kisah Mbah Surami, Janda Miskin asal Jenar Yang Memilih Bertahan di Tengah Ancaman Maut

54
BAGIKAN
Ketua RT, Sugiyo saat menunjukkan rekahan dan tanah ambles di pekarangan Mbah Surami yang mengancam keselamatan dan rumah janda tua itu. Foto/JSnews

SRAGEN–  Musibah tanah ambles yang menimpa 250 meter tanah milik Mbah Surami (65), warga Dukuh Pungkruk RT 4, Desa Ngepringan,  Jenar, memang mengejutkan warga. Namun di tengah ancaman longsor dan maut yang makin meningkat,  nenek miskin yang tinggal sebatang kara itu ternyata memilih bertahan di rumahnya.

Kondisi retak serta longsor tersebut terjadi ketika turun hujan deras, Selasa (9/1/2018) pukul 09.00 WIB.  Pagi itu, nenek renta itu sedang memasak dan mendadak dikejutkan munculnya rekahan di dapur yang kemudian ambles sedalam hampir 50 sentimeter.

Kondisi di pekarangan luar rumahnya justru lebih parah lagi. Tanah ambles dan merekah sedalam hampir satu meter. Meski cemas dan panik,  Mbah Surami menyatakan sudah pasrah dan siap menghadapi segala risiko.

“Sebenarnya juga takut ketika ini nanti benar benar longsor ke bawah. Sebenarnya juga sudah disuruh mengungsi sama pak RT ada rumah kosong suruh nempati saya. Tapi saya juga gak bisa ninggalin rumah apa lagi sampai bawa bawa barang banyak seperti ini, ini sebenarnya saya juga khawatir Mas tapi mau gimana lagi, ” ujarnya Minggu (14/1/2018).

Surami mengaku sejak diunggah media, ia sudah mendapatkan sejumlah bantuan sembako dari pemerintah maupun aparat. Ketua RT 4, Dukuh Pungkruk,  Sugiyo mengaku udah menyarankan Surami pindah rumah menempati rumah kosong miliknya.

Baca Juga :  Terlalu Ugal-ugalan, Pemotor Beat Gasak Nenek 76 Tahun Hingga Tewas di Gondang Sragen

Pasalnya kondisi tanah samping rumah Surami sudah menghawatirkan dan sewaktu-waktu bisa hanyut terbawa longsor.

“ Kondisi longsor dan amblas bertambah terus mas, ini sekitar 250 meter yang ambles dan longsor. Pemiliknya (Mbah Surami) tetap enggak mau keluar dari pekarangan sini Pak, ” ujarnya.

Ia juga tak serta merta bisa memaksa lantaran kehidupan anak-anak Mbah Surami juga belum mapan. Meski sudah menikah,  anaknya tinggal di Gondang dan Sragen namun masih kos.

“Anaknya cuma bekerja bantu – bantu jualan makanan tetapi hanya buruh,” tukas Sugiyo. Wardoyo