JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Seni Budaya

Busana adat Jawa dan Maknanya

Koleksi Surawan Dibyosuwarno
loading...

Busana adat Jawa bisa juga disebut dengan busana kejawen yang mempunyai makna dan filosofi tertentu bagi si pemakainya. Busana Jawa Tengah tersebut penuh dengan piwulang sinandhi yang kaya akan makna tersirat untuk bekal hidup di dunia dan akherat. Secara umum dibagi menjadi 12 Busana Jawa Tengah dan maknanya :

Iket

Foto Koleksi Surawan Dibyosudarmo

Iket disini bisa disebut sebagai tali kepala. Ya mungkin bisa kita lihat pada perang melawan penjajah dulu ya, banyak yang memakai ikat kepala ini sebagai tanda siap dan pantang mundur. Di Jawa sendiri iket ini dimaknai agar manusia mempunyai pemikiran yang kuat, fisik yang kuat, mental yang kuat, sehingga bisa disegani oleh negara-negara lain yang ingin mengusai budaya atau tanah air kita.

Udheng

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Udheng berasal dari kata mudheng yang artinya paham atau pemahaman yang kuat. Udheng juga sama halnya seperti penutup kepala seperti blankon dan sejenisnya. Dari arti kata udheng yang artinya paham ini bisa menjelaskan bahwa manusia itu harus paham apa tujuan utama hidup di dunia. Harus dengan ilmu pengetahuan dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa agar bisa meningkatkan kepahaman itu.

Rasukan

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Rasukan berasal dari kata ngrasuk atau masuk secara penuh. Maksudnya adalah kita harus mempelajari sesuatu itu sampai mendarah daging. Harus sampai akar-akarnya. Rasukan ini nyatakan dalam bentuk pakaian adat.

Benik

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Busana beskap selalu dibarengi dengan benik atau kancing dan ditempatkan di kanan dan kiri. Filosofi dari benik itu sendiri adalah segala sesuatu harus diniknik, yaitu memperhitungkan dengan cermat apapun keputusan yang diambil, sehingga tidak merugikan orang lain.

Sabuk

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

 Sabuk atau ikat pinggang digunakan untuk menjaga pakaian agar terlihat rapi dan kuat. Makna dari sabuk ini adalah mengenai keistiqomahan dan konsistenitas manusia dalam menjaga iman dan Taqwanya kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Epek

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Epek berasal dari kata epek artinya golek atau mencari. Bahwasanya dalam hidup kita diwajibkan harus mencari apapun itu baik ilmu maupun rezeki yang disediakan oleh Allah SWT.

Timang

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Timang itu sendiri adalah simbol bahwa ilmu yang dicari wajib dipahami dengan jelas dan mendalam, agar tidak menimbulkan kesalah pahaman dan keraguan dalam mengambil keputusan.

Jarik

Foto Koleksi Surawan Dibyosudarmo

Jarik adalah kain panjang yang fungsinya untuk menutupi tubuh sampai dengan kaki. Jarik artinya ja-rik artinya ojo sirik atau jangan mudah iri dengan rezeki yang diterima oleh orang lain. Karena iri hanya dapat menimbulkan rasa emosional, grusa-grusu, dan mudah dendam kepada orang lain.

Wiru

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Wiru atau wiro adalah melipat-lipta ujung kain sehingga berwujud wiru. Wiru artinya wiwiren aja nganti kleru. Olahlah apapun itu sehingga menimbulkan rasa menyenangkan dan harmonis jangan sampai ada rasa ketidak cocokan apalagi dendam sesama manusia.

Bebed

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Brebed adalah kain jarik yang biasa digunakan oleh pria. Breded memiliki makna manusia harus ubed yakni sungguh-sungguh dan tekun dalam mencari rezeki.

Canela

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Canela dimaknai dari canthelna jroning nala yang artinya adalah peganglah kuat-kuat di dalam sanubarimu. Canela sama dengan selop, cripu, atau sandal. Canela dikenakan di kaki dengan maksud untuk menjaga setiap langkah kita untuk wushul kepada Allah SWT.

Curiga dan Rangka

Foto koleksi Surawan Dibyosudarmo

Curiga adalah keris, dan Rangka adalah wadahnya. Filososinya adalah sebagai bentuk kekuatan fisik dan mental. Munusia harus menjaga kekuatan itu dengan baik agar tidak rusak dan bisa diwariskan kepada generasi penerus mendatang. (dikutip dari koleksi Surawan Dibyosudarmo)