JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sosok Soetardjo, Mantan Ajudan Setia Bung Karno Dikenal Sangat Sederhana. Berfoto Pun Jarang..

Suasana pemakaman almarhum Soetardjo, mantan ajudan Presiden Bung Karno di Sragen, Rabu (24/1/2018). Foto/JSnews

IMG 20180124 163841 567x371
Suasana pemakaman almarhum Soetardjo, mantan ajudan Presiden Bung Karno di Sragen, Rabu (24/1/2018). Foto/JSnews

SRAGEN – Kabar duka menyelimuti Sragen. Salah satu putra terbaik yang pernah menjadi anggota pasukan pengawal Presiden Soekarno, Letnan Dua Ahmad Soetarjo, berpulang.

Namun kepergian Soetardjo menyimpan banyak kenangan atas sosoknya yang dinilai menjadi teladan bagi anak-anaknya.  Ya,  mantan Letda yang dikenal sebagai ajudan setia pahlawan Proklamator RI itu dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan enggan tampil bermewahan meski dekat dengan orang pertama di negeri ini.

Baca Juga :  Subhanallah, Emak-emak Korban Tewas Terlindas Tronton di SPBU Tunjungan Sragen Ternyata Pejuang Ekonomi Keluarga. Berprofesi Buruh Konveksi, Tewas dalam Perjalanan Pulang dari Kerjaan

Menurut putra sulung almarhum, Eddy Herwanto, ayahnya memang sangat sederhana dan bahkan nyaris tak pernah memamerkan tugasnya mengawal Presiden kala itu.

“Bapak itu orang yang sederhana dan tidak mau neko-neko, beliau memang jarang bercerita tentang tugasnya,” tandas Eddy yang juga Bendahara Perhimpunan Profesi Likuidator Indonesia tersebut ditemui usai pemakaman, Rabu (24/1/2018).

Bahkan untuk sekedar berfoto pun ayahnya tidak pernah mau. Dokumentasi resmi yang dimiliki keluarga terakhir pada 1 Januari 1959. Itu satu-satunya foto keluarga yang dimiliki.

Baca Juga :  Catat, Pengurus FKPSS 20 Kecamatan Sudah Dilantik, Semua Perguruan Silat di Sragen Kini Diminta Jaga Kerukunan. Assisten I Pesan Jangan Geng-Gengan, Wakapolres Puji Sekarang Nggak Mudah Tergoda!

Anak Soetarjo yang lain, Eddy Hari Susanto menambahkan, ayahnya memiliki 14 anak dari dua kali pernikahan.

Isteri pertama meninggal pada 1965, sebelum meletusnya G30S/PKI. Soetarjo kemudian memutuskan pindah ke Yogyakarta pada 1965. Pada medio 1990-an, Soetarjo kemudian balik tinggal di kampung kelahirannya di Sragen. Wardoyo