loading...
Loading...

SOLO-Sebagai organisasi wartawan yang usianya paling tua, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) harus tetap responsif dengan isu-isu kekinian yang dialami dan dihadapi wartawan zaman now.

Seiring dengan hadirnya era new media, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) harus mampu menjadi jembatan wartawan zaman old dan wartawan zaman now.

Hal itu menjadi salah satu bahasan dalam perbincangan para ketua PWI se Jawa Bali, Jumat-Sabtu (19-20/1) di Kota Solo dalam sebuah forum wedangan. Dari pertemuan yang bersifat santai di wedangan dan dilanjutkan di restoran Hotel Sunan Solo itu, mereka juga merumuskan sejumlah pemikiran.

Forum Wedangan Solo dihadiri Ketua PWI Jawa Barat Mirza Zulhadi, Ketua PWI Banten Firdaus Ansueto, Ketua PWI Jawa Tengah Amir Machmud NS, Ketua PWI Solo Anas Syahirul, Ketua PWI DIY Sihono HT, Ketua PWI Jawa Timur Munir Akhmad, dan Ketua PWI Bali IGMB Dwikora Putra.

Baca Juga :  Jaksa Agung: Jaksa Terjerat OTT KPK Biar Jadi Peringatan Buat yang Lain

Juru bicara, Anas Syahirul menyampaikan, realitas tantangan yang dihadapi oleh PWI sebagai organisasi profesi kewartawanan pada era sekarang dan ke depan berkembang sangat dinamis.

Realitas tantangan itu, ke depan membutuhkan kepemimpinan yang mumpuni, yakni kualtas yang menyangkut integritas, kompetensi manajerial, intelektualitas akademis, juga menapat dukungan kuat para anggota karena punya rekam jejak yang jelas di PWI.

“Merupakan kenyataan, betapa kuat tumbuh kembangnya era new media, yang tentu membutuhkan topangan kompetensi teknis, sikap, etika, dan karakter tersendiri dalam berjurnalistik dan bermedia. Termasuk dalam menjembatani organisasi PWI dengan kalangan muda seperti kampus untuk membangun eksistensi visi kemudaan PWI. Maka dibutuhkan performa kepemimpinan yang inovatif, kreatif, dan adaptif dalam menghela berbagai ikhtiar peningkatan mutu sumberdaya manusia wartawan. Juga kewibawaan dalam membangun jaringan relasi profesional dengan para mitra kerja, dalam hubungan dengan organisasi profesi kewartawanan yang lain, serta dengan Dewan Pers,” ungkap Anas.

Baca Juga :  Ini 6 Pahlawan yang Dikukuhkan Presiden Jokowi, 2 Dari YOgyakarta

Ia menambahkan, secara teknis manajemen kepemimpinan, PWI Pusat membutuhkan revitalisasi pengelolaan organisasi, antara lain kemampuan membangun jaringan dalam menggali dana untuk kemandirian organisasi, juga penerapan satu pintu rekening PWI. Didorong pula komitmen untuk penyelamatan dan pengelolaan aset-aset PWI. Termasuk harus responsif dalam persoalan-persoalan di daerah, serta menjadi fasilitator untuk kesinambungan program-program PWI daerah.

Untuk mewujudkan itu, tutur Anas, dalam proses suksesi kepemimpinan PWI Pusat dari periode 2013-2018 ke periode 2018-2023, “Forum Wedangan Solo” mengingatkan kepada seluruh organ PWI untuk menjaga suasana demokrasi dan kekeluargaan dengan menghindari pragmatisme, sehingga proses-proses yang berlangsung menjelang hingga saat kongres mendatang melahirkan kepemimpinan yang berbobot untuk menjawab tantangan zaman.

Baca Juga :  Pengamat: Partai Gelora Bisa Berkembang, Atau Malah Layu Sebelum Berkembang

“Dengan realitas tantangan tersebut, kami menyerukan agar seluruh organ PWI dan para pemilik suara dalam kongres mendatang betul-betul mengarahkan pikiran dan sikap untuk melahirkan kepemimpinan dengan performa yang kuat dan berwibawa. Ke dalam, secara konsisten menyelenggarakan upaya-upaya peningkatan profesionalitas dan kesejahteraan anggota. Keluar, membawa PWI betul-betul diperhitungkan sebagai bagian dari elemen bangsa yang punya kontribusi bagi kemaslahatan bangsa,” tuturnya.(*)

Loading...