loading...
Tenaga angkut mendistribusikan rastra di Kecamatan Ngadirojo.JSNews/Aris Arianto

WONOGIRI-Program beras sejahtera (rastra) akan berakhir pada Maret mendatang. Sebagai gantinya, warga miskin atau keluarga penerima manfaat (KPM) bakal mendapatkan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Dalam program BPNT, KPM akan mendapatkan jatah bantuan uang per bulan sebesar Rp 110 ribu. Namun tidak diwujudkan dalam bentuk tunai, melainkan dalam tabungan.

“Nanti KPM menerima kartu yang bisa digunakan untuk membelanjakan keperluan di e-Warong. Diharapkan uang tersebut dibelanjakan beras dan telur. Dengan asumsi, warga miskin kurang gizi, jadi perlu asupan protein,” jelas Kepala Dinas Sosial Wonogiri, Suwartono, Senin (19/2/2018).

Jumlah KPM penerima bantuan, yaitu 74.740. Jika dalam satu bulan, KPM tidak berbelanja, maka jatah uangnya tidak akan hangus. Melainkan bisa diakumulasikan ke bulan-bulan selanjutnya.

Baca Juga :  Ini Daftar 8 Pasangan Cabup-Cawabup PDIP di Jateng Yang Diundang ke DPP Terima Rekomendasi. Sragen Yuni-Suroto, Klaten Sri-Aris, Wonogiri Joko-Sriyono

Dia menerangkan, program BPNT alam digulirkan mulai April mendatang
Program Rastra masih bergulir hingga Maret mendatang.

Lebih lanjut dia memaparkan, untuk tahap pertama e-Warong yang akan melayani kebutuhan KPM sudah diusulkan sebanyak 60 titik yang tersebar di 25 kecamatan. Secara teknis, saban satu e-Warong mampu mengkover kebutuhan 200-300 KPM.

“Untuk kesiapannya, menunggu dari pusat,” jelas dia.

Pihaknya telah menggelar rakor untuk kesiapan program BPNT, khususnya kesiapan e-Warong. Secara garis besar, e-Warong nantinya dibuat di rumah KPM secara permanen.Tapi tentunya dengan sejumlah alat kelengkapan dan sarana serta pendampingan oleh pihak perbankan.

Baca Juga :  Kouta Hanya 65.535 Warga, Puluhan Ribu Keluarga Miskin di Sragen Tak Menerima Program Sembako BPNT. Nilai Bantuan Naik Rp 40.000 Jadi Rp 150.000 Perbulan

Pengelolaan e-Warong diserahkan  kepada KPM. Termasuk untuk pengadaan beras, pengelola bisa kerjasama dengan Bulog atau petani langsung. Aris Arianto