loading...
Loading...
Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi didampingi Psikolog Dewi Novita saat memberikan terapi psikis kepada siswi SD di Gemolong yang menjadi korban pencabulan gurunya, Kamis (22/2/2018). Foto/Istimewa

SRAGEN– Kelakuan seorang oknum guru di sebuah SD di Kecamatan Gemolong ini benar-benar tak patut diteladani. Pasalnya, meski sudah uzur, guru berinisial SW (55) itu dilaporkan tega mencabuli siswinya sendiri sebut saja Mawar (11).

Bahkan akibat tak tahan terus dicabuli,  Mawar mengalami trauma berat dan memilih memutuskan berhenti sekolah di awal tahun ajaran ini. Padahal,  korban sudah duduk di bangku kelas V dan tinggal setahun lagi lulus sekolah.

Tragisnya lagi,  korban diketahui berasal dari keluarga tidak mampu dengan kondisi ekonomi orangtuanya sangat memprihatinkan.

Baca Juga :  Otak Pelaku Pengeroyokan Sadis Juragan Ayam asal Mondokan Akhirnya Dibekuk Polisi. Tersangka Berasal Dari Tanon, Ditangkap di Jalan Raya Solo-Purwodadi 

Kasus dugaan pencabulan itu terungkap ketika orangtua korban meminta pendampingan dari Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen, Kamis (22/2/2018). Koordinator APPS,  Sugiarsi mengatakan dirinya diminta mendampingi kasus itu sekaligus memberikan terapi psikis kepada korban yang saat ini mengalami depresi berat atas kejadian itu.

“Kemarin kami ke rumah korban bersama psikolog Dewi Novita untuk memberikan pendampingan mental.  Karena kondisi psikisnya memang drop. Kasihan sekali wong tuwane sangat miskin. Tahunya, ibunya itu curiga dan bingung sudah beberapa bulan anaknya nggak mau sekolah dan sering ngengkleng (bengong). Ternyata setelah ditanya mengaku digitukan oleh gurunya itu sejak lama, ” papar Sugiarsi Kamis (22/2/2018).

Baca Juga :  Cerita Miris Veteran Pejuang Kemerdekaan di Sukodono Sragen Bertahun-tahun Tinggal di Rumah Tak Layak. Kini Akhirnya Bisa Tersenyum Berkat Kolaborasi TNI dan BRI

Menurut Sugiarsi, kasus dugaan pencabulan oleh oknum guru itu sudah dilaporkan ke Polres Sragen sekitar sepekan silam. Dari pengakuan korban, kata dia, aksi pencabulan dilakukan sejak lama dan berulangkali.

“Melakukannya di beberapa tempat.  Kadang di sekolah,  di kamar mandi sekolah. Pengakuan korban di manapun ada kesempatan,  pelaku ini selalu memanfaatkan dan melakukan itu, ” jelasnya.

Sembari membantu pemulihan psikis korban,  aktivis perempuan berusia 75 tahun itu sangat berharap Polres segera memproses dan mengusut tuntas kasus itu. Sebab selain merusak korban,  perbuatan pelaku juga memicu trauma berat sehingga membuat korban sampai memilih berhenti sekolah.

Baca Juga :  Sesosok Mayat Pria Ditemukan di Sumur Ladang Desa Jambangan Mondokan. Sempat Terdengar Teriakan Minta Tolong

“Ya mulai tahun ini korban sudah nggak mau sekolah. Padahal jane tinggal setahun lagi lulus, ” tukasnya.

Dikonfirmasi,  Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman membenarkan adanya laporan tersebut.  Menurutnya saat ini kasusnya masih ditangani oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim mengingat korban diketahui masih di bawah umur. Wardoyo

 

 

Iklan
Loading...