JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kasus Proyek Komputer Desa, 10 Desa di Kecamatan Sidoharjo Beli Komputer di Toko Yang Sama

Para Kades se-Kecamatan Sidoharjo saat memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Sragen, Kamis (22/2/2018). Foto/Wardoyo
Para Kades se-Kecamatan Sidoharjo saat memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Sragen, Kamis (22/2/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN– Pemeriksaan 12 Kades di Kecamatan Sidoharjo oleh Kejari Sragen terkait dugaan penyimpangan proyek pengadaan komputer program Sistem Informasi Desa (SID) 2017, menguak fakta soal lokasi pembelian perangkat komputer itu.

Dari 12 desa di Kecamatan Sidoharjo,  10 desa diantaranya diketahui memang membeli dari satu rekanan yang sama yakni WD Computer Sragen.

Sedangkan 2 desa lainnya membeli dari rekanan berbeda namun spek komputernya tetap menyesuaikan petunjuk teknis dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD). Wakil Ketua Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD) Sragen yang juga Kades Jetak,  Siswanto menyampaikan untuk pengadaan komputer di 12 desa di Kecamatan Sidoharjo, memang dibeli dari tiga tempat.

Ia tak menampik jika 10 diantaranya membeli dari WD Computer Sragen dan dua lainnya dari toko berbeda. Dua desa itu adalah Jetak dan Jambanan.

“Untuk Desa Jetak belinya di CV Multi Ton Grafika Indonesia Jalan Agus Salim Mojomulyo, Sragen. Sedangkan Desa Jambanan belinya dari toko di Surabaya, Jatim. Tapi semua berpedoman spek yang ditentukan dari Dinas PMD, ” papar Siswanto seusai pemeriksaan di Kejari Kamis (22/2/2018).

Ia menguraikan dalam pemeriksaan itu, para Kades memang diminta menjawab pertanyaan yang dikemas dalam kuisioner berisi 16 pertanyaan. Di antaranya pertanyaan apakah benar pengadaan komputer itu dibiayai dari Dana Desa (DD).

Baca Juga :  Dewan Rakyat Jelata Sragen Geruduk Kejaksaan Desak Kasus Dugaan Tipikor di DPUPR Diusut Tuntas. Kajari Isyaratkan Segera Panggil Kepala DPUPR!

Kemudian,  apakah dalam pengadaan ada petunjuknya. Menurutnya pada 2017 memang ada petunjuk dari Bupati Sragen yakni petunjuk teknis tentang DD Kabupaten Sragen.

“Dalam petunjuk DD itu ada Rp 80 juta Dana Desa untuk dialokasikan salah satunya untuk pengadaan komputer. Dalam pengadaan juga ada petunjuk dari Dinas PMD harus menggunakan spek tertentu,” paparnya.

Setelah anggaran DD turun, menurutnya,desa baru mengalokasikan pembelian sesuai dengan spek yang ditentukan oleh PMD.

Khusus untuk Jetak,  menurutnya pengadaan dimulai saat sekitar Agustus ada dua marketing yang datang menawarkan ke desa. Yang pertama dari WD Computer Sragen dan CV Multiton Sragen. Keduanya datang dengan melampirkan brosur dan berikut speknya.

“Waktu itu saya sampaikan ke bendahara desa saya kalau harus hati-hati dan mencermati dulu penawarannya dan speknya. Setelah kami cermati,  saya setuju ambil dari CV Multiton. Saya lihat speknya saya konsultasikan dengan anak saya yang memang paham komputer dan spesifikasi. Kami minta Windowsnya yang ori dan printernya Laser Jet. Harganya Rp 18,850 juta. Dengan kesepakatan PPN ditanggung CV itu, ” jelasnya.

Baca Juga :  Ramai-ramai Pilkada Ditunda, Bupati Sragen Tegaskan Penundaan Tanpa Kepastian Bukan Solusi. Sebut Dampak Kondusivitas, Legalitas Pemerintahan Hingga Potensi Polemik Berkepanjangan Perlu Dipikirkan!

Menurutnya,  semua mekanisme pembelian dan segala macan sesuai dengan prosedur dan Juknis dari PMD. Ia juga memastikan tidak ada arahan untuk membeli ke toko tertentu.

Sementara, Ketua Paguyuban Kades Kecamatan Sidoharjo yang juga Kades Taraman, Agus Widodo mengatakan, pemanggilan penyidik kejari ini dalam rangka klarifikasi data dan keterangan. Dipastikan semua pertanyaan penyidik sudah dijawab dengan kondisi yang sebenarnya.

“Kami juga sampaikan bahwa spesifikasi komputer yang dibeli sudah sesuai dengan permintaan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD),” tuturnya.

Menurut Agus, pelaksanaan proyek pengadaan komputer desa ini diawali dengan penyampaian penawaran dari pihak CV penyedia jasa ke desa. Tentunya penawaran CV tersebut sudah disesuaikan dengan kriteria atau spesifikasi yang diminta PMD. Nilai proyek pengadaan komputer di 2017 ini adalah sebesar Rp 20 juga perdesa.

Agus memastikan sebelum menyepakati pengadaan komputer, pihaknya telah membuat perjanjian dengan penyedia barang. Jika tidak sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan, akan mengajukan gugatan ke penyedia barang.

“Semua perjanjian itu sudah dibuat sejak awal. Intinya jika spesifikasi tidak sesuai, kami akan menggugat,” tandasnya. Wardoyo