loading...
Loading...
TAB saat menyambangi dealer Honda Ahass keenamnya di Gabugan, Tanon. Foto/JSnews

SRAGEN– Setelah melalui perjuangan keras dengan biaya hasil buka servis elektro sampingan, TAB menamatkan bangku SMA di Solo dengan nilai lumayan bagus. Namun di tengah darah kecintaan elektro serta mesinnya yang sangat besar, mendadak setamat SMA ia sangat terobsesi bisa masuk Akabri.

Ia pun mencoba peruntungan mendaftarkan Akabri namun gagal. Kemudian ia mendaftar ujian perguruan tinggi negeri dan diterima di Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang. Sayang, saking kecewanya gagal masuk Akabri, dia sampai lupa tanggal daftar ulang di Undip.

“Saat ingat daftar ulang, tanggalnya sudah lewat akhirnya bablas langsung dianggap gugur. Setelah itu saya pilih di rumah dulu. Menenangkan pikiran. Baru ikut ndaftar Akabri tahun berikutnya, dan Alhamdulilah ternyata belum diparingi rejeki. Gagal lagi, sampai tahun ketiga, ternyata juga nggak masuk Akabri. Saking pinginnya masuk Akabri, saya sampai frustasi waktu itu,” kenang TAB.

Baca Juga :  Akhirnya, Gubernur Ganjar Ungkap Deretan Para Pengusaha Yang Mengaku Buang Limbah ke Bengawan Solo

Setelah gagal di percobaan ketiganya, Bayu TAB kemudian memutuskan menenangkan pikiran dengan istirahat di rumah sembari merenung. Hingga akhirnya semangatnya bangkit lagi untuk memutuskan hijrah ke Jakarta tahun 1991 untuk melanjutkan kuliah.

Dia memutuskan mengambil jurusan Teknik Mesin di Universitas Jayabaya. Karena biayanya mahal dan tak ingin membebani orangtua, dia memilih tinggal ikut saudaranya di Jakarta. Untuk mencari biaya, dirinya mengambil jadwal kuliah malam agar paginya bisa bekerja.

“Saat itu hobi saya utak-atik motor dan elektro muncul lagi. Jadi pagi saya nyari motor-motor bekas, saya beli murah. Lalu saya benahi dan modifikasi jadi bagus lalu dijual. Malamnya baru kuliah. Alhamdulilah saya jadi lulusan tercepat hanya empat tahun wisuda sarjana tahun 1995,” tuturnya.

Baca Juga :  Kondisi Dunia Usaha Makin Lesu, Pimpinan Pabrik Tekstil di Sragen Ini Ungkit Kebijakan Penyelamatan Era Presiden Soeharto 

Lulus dengan nilai bagus dan tercepat membuat TAB bahkan langsung direkrut masuk di perusahaan otomotif ternama yakni PT Indomobil International di Jakarta, sebelum wisuda. Hanya 13 bulan bergabung, tahun 1996 ia mendapat tawaran lebih bagus di PT Astra International sebagai servise supervisor. Hampir 20 tahun berkarier, ia akhirnya menduduki puncak kariernya sebagai Technical Development Manager. Dan setelah 20 tahun berakrier ia pun… (Bersambung). Wardoyo

Loading...