loading...
Loading...
Beberapa tokoh masyarakat Desa Wonokerso, Kedawung saat menunjukkan surat penolakan dari ratusan warga, Kamis (22/2/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN –  Ratusan warga dari beberapa dukuh di Desa Wonokerso, Kedawung melancarkan aksi protes menolak pembangunan pabrik Batching Plan (cor beton)  yang akan ditempatkan di tanah kas desa setempat. Selain khawatir dampak negatif polusi dan lingkungan,  penolakan juga dikarenakan warga merasa ditelikung oleh pihak desa yang tidak melakukan sosialisasi secara transparan ke warga.

Aksi penolakan itu dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani sekitar 200an warga dari berbagai RT di sekitar lokasi tanah kas desa di Dukuh Brambang,  Wonokerso. Pabrik itu diketahui akan didirikan oleh PT Art Deva Jaya milik kontraktor Ari Fajar Wijaya alias Fajar Tato.

Baca Juga :  Kecelakaan 2 Motor Mahasiswi VS Siswi di Pasar Masaran Sragen, Satu Korban Ditemukan Terkapar Luka Parah

Salah satu tokoh Dukuh Brambang RT 29, Anang Haryanto mengatakan penolakan warga juga ditegaskan dalam rapat yang digelar Kades dan perangkat desa di balai desa setempat Rabu (21/2/2018) malam.

“Intinya warga nggak setuju dan menolak di situ didirikan pabrik Batching Plan. Pertimbangannya karena takut dampak polusi bising,  lalu jalan di lokasi itu juga sempit dan rawan kecelakaan. Pasti jalan juga akan cepat rusak dilalui tronton-tronton, ” ujarnya Kamis (22/2/2018).

Tidak hanya itu,  penolakan juga dikarenakan lokasi pabrik didirikan di dekat permukiman warga,  sekolah PAUD,  masjid dan gereja. Lantas, warga merasa sakit hati dilangkahi karena belum dimintai izin dan diberi sosialisasi,  tahu-tahu Kades langsung mengundang dan pekerjaan pengerukan sudah berjalan.

Baca Juga :  Polres Sragen Kembali Berduka, Satu Personel Terbaik Meninggal Dunia Karena Sakit. Dimakamkan di Donoloyo Solo

“Warga tahunya ada pengumuman dari LH dua hari kemudian datang backhoe dan langsung mengeruk. Lha ini apa-apaan warga aja banyak nggak setuju kok tahu-tahu proyek langsung jalan. Makanya warga sepakat intinya menolak dan nggak boleh didirikan batching plan. Kalau nekat,  lihat sendiri nanti. Soalnya Kades juga nggak transparan,  sosialisasi nggak menyeluruh, ” timpal SUR,  tokoh Wonokerso lainnya.

Baca Juga :  Napi Cilik Yang Kabur dari Lapas Sragen Diimbau Segera Menyerahkan Diri. Kalapas:  Kami Buru Sampai Ujung Dunia Mana Pun! 

Pantauan di lokasi, mesin pengeruk memang sudah ada namun Kamis (22/2/2018) berhenti operasional. Lahan milik kas desa itu juga sudah terlihat dikeruk sebagian.

Sayangnya saat dikonfirmasi wartawan,  Kades Wonokerso,  Kedawung,  Sutaryo enggan menemui. Salah satu perangkat desa menyampaikan yang bersangkutan sedang tidak di kantor. Sementara ketika dihubungi, nomor HPnya menunjukkan tidak aktif.

“Pak Kades sedang nggak di kantor. Kami enggak tahu, ” kata perangkat desa perempuan yang menemui awak media Kamis (22/2/2018). Wardoyo

Iklan
Loading...