JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Salut… Gelar Aksi Cap Jempol Darah, 10.000 Pendekar Silat Semua Perguruan di Sragen Kompak Ikrarkan Perdamaian

Pada pimpinan semua perguruan silat di Sragen bersama Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman, Dandim Letkol Camas dan Forkompida saat menunjukkan jempol mereka berwarna merah seusai membubuhkan cap jempol darah dalam deklarasi damai semua perguruan silat Sragen di Alun-Alun Sragen, Sabtu (24/2/2018). Foto/Wardoyo
   
Pada pimpinan semua perguruan silat di Sragen bersama Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman, Dandim Letkol Camas dan Forkompida saat menunjukkan jempol mereka berwarna merah seusai membubuhkan cap jempol darah dalam deklarasi damai semua perguruan silat Sragen di Alun-Alun Sragen, Sabtu (24/2/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN–  Meningkatnya dinamika dan eskalasi politik menjelang Pilkada serentak dan tahun politik 2019 memantik kesiagaan dari seluruh elemen pendekar perguruan silat di Sragen. Diprakarsasi Polres,  sedikitnya 10.000 pendekar silat dari sembilan perguruan silat di Bumi Sukowati menggelar deklarasi damai dan kesiapan mengamankan Pilkada dan menjaga kondusivitas wilayah.

Uniknya,  deklarasi yang dipusatkan di Alun-alun Sragen itu ditandai dengan aksi cap jempol merah hingga disebut aksi damai cap jempol darah.

Para pucuk pimpinan dari 9 perguruan silat terbesar di Sragen juga membacakan lima poin ikrar di hadapan Forkompida di antaranya Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman, Dandim 0725/Srg Letkol Camas Sigit, Kepala Kesbangpolinmas Heru Martono dan jajaran Muspida lainnya.

Ada dari Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hati Terate,  Tapak Suci,  IKSPI atau Kera Sakti, Pagar Nusa,  Kumbang Malam dan lain sebagainya.

Lima poin itu diantaranya berintikan bahwa semua perguruan silat yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) itu siap menjaga kebersamaan dan persaudaraan,  sanggup menjaga kondusivitas wilayah dan menyukseskan Pilgub 2018.

Baca Juga :  Siswi SMPN 3 Gemolong Raih Juara Puteri Pelajar Indonesia 2024
Foto/Wardoyo

Lantas siap menjadi pelopor antinarkoba dan tertib berlalu lintas, sanggup diproses hukum jika melakukan tindak pidana,  dan siap dikeluarkan dari keanggotaan perguruan dan IPSI jika melakukan pidana dan pelanggaran.

Usai deklarasi, unsur Forkompida dan pimpinan semua perguruan kemudian membubuhkan tanda cap jempol merah di atas kain putih yang memuat isi deklarasi.

Aksi deklarasi damai dan ikrar itu mendapat apresiasi dari banyak pihak. Pasalnya momentum bersatunya puluhan ribu pendekar dari banyak perguruan silat berbeda aliran dan kadang sering bergesekan itu sangat langka terjadi.

“Tujuan deklarasi tadi memang untuk menyatukan dan menjaga kebersamaan dari semua anggota perguruan silat di Bumi Sukowati. Menyatukan persepsi bahwa meskipun berbeda aliran,  pada hakekatnya semua adalah saudara yang punya tanggungjawab untuk menjaga kedamaian dan kondusivitas wilayah. Mereka tadi juga berikrar kalau melanggar pidana siap diproses hukum dan dikeluarkan dari keanggotaan perguruan, ” papar Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman,  seusai memimpin deklarasi.

Namun,  lebih dari itu,  gagasan menyatukan ribuan pendekar dalam momentum deklarasi itu juga dalam rangka mengajak mereka menjaga kondusivitas menjelang Pilkada Jateng. Selain itu,  melalui ikrar itu diharapkan menghindarkan polarisasi dan gesekan yang berpotensi muncul di Pilkada atau momen lainnya.

Baca Juga :  Karang Taruna Prima Sejati Dukuh Driyan, Masaran Gelar Sosialisasi Pencegahan Narkoba di Kalangan Anak Muda

Kapolres berharap ikrar benar-benar dihayati dan diaplikasikan secara nyata oleh semua anggota. Sehingga tujuan akhir untuk menjaga kedamaian,  kebersamaan,  persaudaraan serta kondusivitas wilayah,  bisa terwujud.

Soal apakah aksi cap jempol itu menggunakan darah,  Kapolres menjelaskan bahwa yang dipakai untuk cap jempol adalah bantalan dengan tinta warna merah. Ihwal istilah yang berkembang adalah cap jempol darah,  mungkin untuk lebih menegaskan komitmen dan semangat para pendekar untuk bersama-sama hadir di deklarasi itu.

Menariknya lagi,  semua anggota perguruan silat itu hadir dengan ikat kepala merah putih.

“Kenapa pakai tinta warna merah, agar lebih mudah diingat bahwa mereka pernah berikrar dan deklarasi bersama yang harus ditaati. Kenapa juga pakai ikat kepala merah putih,  agar mereka juga selalu ingat mereka berada dalam satu wadah NKRI,” jelasnya. Wardoyo

 

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com