JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Duh, Perang Ternyata Telah Menghabiskan Kaum Pria di Pulau Ini

Tribunnews

Di mana pun dan bagaimana pun, perang adalah kejam. Perang bisa merenggut cinta  dan meninggalkan luka.
Akibat perang yang tak berkesudahan pula, yang telah “menghabiskan” para pria di pulau ini. Yang terisa tinggal perempuan dan anak-anak.

Pulau itu ada di pegunungan di barat laut Kolombia, tiga jam perjalanan dari kota terdekat, terdapat sebuah desa bernama La Puria yang menjadi rumah bagi masyarakat adat Embera Katio. Dalam bahasa mereka, ebera berarti manusia, penduduk asli, atau laki-laki.

Namun uniknya, tidak ada laki-laki dewasa di sana. Perang saudara di Kolombia yang berlangsung selama beberapa dasawarsa telah menghancurkan La Puria secara perlahan.

Baca Juga :  Media Asing Soroti Penanganan Covid-19 di Indonesia, Sebut Menkes Terawan sebagai Orang Paling Bertanggung Jawab atas Krisis Akibat Pandemi yang Dialami Indonesia

Beberapa pria di sana direkrut oleh Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) atau National Liberation Army (ELN), dua kelompok gerilya kiri yang terbesar di negara tersebut.

Sisanya menjadi korban konflik – mengingat kedua kelompok: gerilyawan dan pasukan keamanan menggunakan taktik kekerasan – termasuk penculikan, memasang ranjau darat dan perdagangan obat bius.

Menurut Ivan Valencia, jurnalis foto Kolombia yang menghabiskan waktu berbulan-bulan di La Puria untuk mendokumentasikan kehidupan di sana, saat ini, hanya ada para wanita, anak-anak dan ibu-ibu remaja yang masih tersisa di La Puria.

Para perempuan muda memimpin kelompok untuk mencari dan mengumpulkan makanan di hutan – memegang parang sambil menggendong bayi mereka di punggung. Ketua adatnya pun merupakan perempuan berusia 26 tahun, seorang ibu dari empat anak.

Baca Juga :  Studi Profesor di Universitas AS Klaim Ada Kemungkinan Wabah Demam Berdarah Hambat Penyebaran Covid-19

Suara bermain anak-anak terdengar di setiap rumah yang dibangun ibu mereka sendiri. Anak-anak ini kebanyakan lahir dari rahim remaja yang diperkosa oleh para tentara dari kelompok gerilya lokal.

Di usianya yang masih sangat muda, anak-anak di La Puria sudah terpapar situasi perang. Tahun lalu, selama kegiatan terapi seni di sekolah desa, hampir semua anak-anak menggunakan pensil warnanya untuk menggambar dan mewarnai orang-orang yang membawa senjata api.

www.tribunnews.com