JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Warga 11 RT di Masaran Sragen Demo Proyek Tol Soker, PT Waskita Mendadak Minta Maaf. Ada Apa?

Aksi demo proyek tol soker di Masaran, Sabtu (10/3/2018) pagi. Foto/Wardoyo
Aksi demo proyek tol soker di Masaran, Sabtu (10/3/2018) pagi. Foto/Wardoyo

SRAGEN– Menyusul aksi demo dan tuntutan warga di 11 RT di Masaran Sabtu (10/3/2018) itu,  perwakilan dari PT Waskita, Budi menyampaikan mohon maaf dalam proyek Tol Soker belum sesuai dengan apa yang diharapkan karena berdampak kepada masyarakat.

Ia juga mengakui Overpas Pringanom belum bisa secara sempurna sehingga berdampak tergenangnya air yang meluap. Namun ia berdalih pihak Waskita hanya membangun sesuai gambar yang sudah diajukan dan tidak bisa membangun di luar dari gambar yamg sudah diajukan.

“Kami akan mengajukan permohonan sesuai dengan apa yang diminta oleh warga Masyarakat dan hal tersebut harus juga memberitahukan kepada tiga elemen berwenang, ” katanya.

Baca Juga :  Buntut Aksi Boikot Media Saat Penetapan Paslon Pilkada Sragen, Mantan Komisioner Rame-Rame Soroti Kinerja KPU. Roso Khawatir Kepercayaan Publik Memburuk, Budi Sebut Bikin Malu Sragen!

Pernyataan itu disampaikannya di hadapan puluhan warga di 11 RT di Desa Masaran,  Kecamatan Masaran Sragen yang berdekatan dengan proyek Tol Solo-Kertosono (Soker) saat menggelar aksi demo,  Sabtu (10/3/2018) pagi.

Mereka mengecam para pejabat dan pengelola proyek Tol Soker yang membiarkan keberadaan proyek memicu bencana banjir dan kerusakan infrastruktur yang menyengsarakan warga.

Mereka pun mendesak agar pihak pengelola jalan Tol Soker untuk bertanggungjawab memperlebar dan meninggikan saluran drainase di Tol Soker yang selama ini dianggap terlalu kecil dan menjadi biang pemicu banjir.

Baca Juga :  Biadab, Sudah 3 Siswi SMP Jadi Korban Predator Anak Asal Mondokan Sragen. Korban Selalu Diancam Dibunuh, Dibekap dan Dicekik Sebelum Diperkosa di Kuburan Cina

Warga yang kesal karena aspirasi yang disuarakan sejak 2016 hanya dianggap angin lalu,  juga menumpahkan kegeramannya dalam bentuk kalimat menohok yang dituangkan dalam spanduk.

“Kami minta talud dan drainase dibuat standar. Karena yang dipasang oleh pihak Tol itu hanya 60 sentimeter diameternya. Padahal ketinggian talud di warga saja sudah tiga meter. Akibatnya sejak ada Tol, kalau hujan air nggak bisa mengalir dan memicu banjir di lingkungan kami,” papar Ali Wiyanto,  Ketua RT 22. Wardoyo