JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Rizal Ramli Tulis Status di Facebooknya Soal Utang LN, Begini Respons Kemenkeu

Rizal Ramli / Tempo.co
Tempo.co

JAKARTA – Rizal Ramli, Ekonom senior Rizal Ramli, pada Jumat lalu mengunggah status mengenai utang di halaman Facebook miliknya. Dia menulis tanggapannya soal utang luar negeri Indonesua, yang sempat dibicarakan oleh MenkeuSri Mulyani Indrawati.

“Sudah lampu kuning. Sudah gali lubang, tutup jurang,” ujar Rizal Ramli seperti dikutip dari status Facebook-nya, Jumat(6/4/018). “Karena primary balance negatif, debt service ratio sudah 39 persen, tax ratio hanya 10 persen, karena pengelolaan fiskal tidak prudent (ugal-ugalan).”

Rizal Ramli yang merupakan mantan Menteri Keuangan dan mantan Menteri Koordinator Perekonomian juga menyebutkan indikator perdagangan dan jasa serta neraca berjalan semuanya negatif. “Di samping faktor US Fed Rate, itulah salah alasan utama kenapa kurs Rupiah terus anjlok! Kok bisa ngaku-ngaku kelola makro ekonomi hati-hati (prudent) ?? Bokis amat,” katanya.

Atas tulisannya tersebut, status Rizal Ramli disukai oleh 6.231 orang dan 3.277 kali dibagikan oleh pengguna Facebook. Hingga saat ini, status tersebut masih aktif ditanggapi oleh warganet.

Baca Juga :  252 Pegawai Kementerian Kesehatan Positif Covid-19, Tertinggi dari Klaster Perkantoran. Ini Kata Kemenkes: Kemungkinan Tertular di Kantor Kecil

Tak hanya kali ini Rizal Ramli mengkritik soal utang pemerintah. Ia sebelumnya juga menyebut tidak tepat jika Bank Indonesia (BI) kerap melakukan perbandingan rasio utang pemerintah dengan produk domestik bruto (Debt to GDP Ratio) Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).

Menurut Rizal Ramli, perbandingan itu sangat tidak proporsional dan dapat memberikan pemahaman yang keliru. “Debt to GDP Indonesia yang sebesar 29 persen tidak bisa dibandingkan dengan AS. Amerika Serikat adalah negara satu-satunya di dunia yang dapat memproduksi dolar AS dan menjualnya ke negara lain. Sementara Indonesia apakah bisa melakukan itu dengan rupiahnya?” ujarnya dalam rapat dengar pendapat di Komisi XI DPR, Jakarta, akhir Maret lalu.

Atas status Rizal Ramli teranyar itu, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti menanggapi melalui status Facebook pribadinya. “Untuk kesekian kalinya, saya menjawab apa yang disampaikan oleh Pak Rizal Ramli (Pak RR) dengan utang,” kata dia Sabtu malam, 7 April 2018.

Baca Juga :  Tenaga Honorer Bakal Dapat Subsidi Gaji Rp 2,4 Juta, Disalurkan 4 Tahap

Nufransa mempertanyakan lampu kuning yang diberikan Rizal Ramli. Sebab, jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia memiliki rasio untang tergadap PDB dan defisit APBN yang relatif kecil dan berati-hati. “Mengapa menolak menggunakan indikator yang digunakan untuk membandingkan antar negara?” kata Nufransa.

Istilah gali lubang tutup jurang yang dituliskan Rizal Ramli juga dipertanyakan karena pemerintah telah menurunkan defisit APBN. Bahkan sejak sejak 2012, kata Nufransa, pemerintah sudah mengalami defisit keseimbangan primer. Ia malah balik menyindir Rizal Ramli yang merupakan bagian dari pemerintah di 2015-2016, yang keseimbangan primer perekonomiannya mengalami defisit tinggi.

Menurut Nufransa, sejak dikukuhkan sebagai Menteri Keuangan pada 2016 lalu, Sri Mulyani mengendalikan tren tersebut dengan hati-hati. “Dengan demikian dalam beberapa tahun ke depan diproyeksikan defisit akan makin mengecil dan primary balance akan makin seimbang atau bahkan mencapai surplus,” tuturnya menanggapi kritik Rizal Ramli soal utang tersebut.

www.tempo.co