JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Sadis, Hanya Karena Cemburu, Istri Hantam Kepala Suaminya Dengan Palu Hingga Tewas

Ilustrasi
Ilustrasi/Tribunnews

SURABAYA – Lantaran  dicemburui oleh sang istri, seorang lelaki, Fendik Tri Oktasari (27) tewas dihantam palu oleh istrinya sendiri. Setelah itu, sang istri bersandiwara, membuat posisi suaminya seolah mati gantung diri di ruang tamu rumahnya.

Peristiwa itu terjadi di  Sawah Gede, Kedurus, Karangpilang, Surabaya. Sang istri yang bernama Desy Ayu Indriani (26) telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.

Ibu dua anak itu nekat menghabisi suaminya sendiri, karena dibakar api cemburu. Desy beberapa kali mengetahui korban menjalin hubungan dengan perempuan lain. Puncak kemarahan itu berlangsung Jumat (23/3) sekitar pukul 22.00 WIB.

Korban yang bekerja sebagai penjual tahu bulat di Raya Mastrip itu terlibat cek cok mulut hingga korban dicakar istrinya. Korban yang merasa bersalah duduk di ruang tengah sembari mendengar ocehan istrinya.

Pertengkaran suami istri itu tak didengar kedua anaknya, Vicky Rasya Pratama dan Noval Dwi Eagle yang saat itu tidur di kamar. Ketika kemarahan sudah memuncak, tersangka mengambil martil di dapur.

Di dapur itu sebenarnya ada dua martil, tapi tersangka mengambil yang berukuran agak besar (beratnya sekitar 250 gram). Martil dengan pegangan cat hijau itu langsung dipukulkan ke kepala korban bagian kanan.

Baca Juga :  Mutilasi di Kresek dalam Koper, Polisi Kantongi Identitas Pelaku

Korban sontak kesakitan. Rintihan korban menambah tersangka kalap. Ia kembali mengayunkan palu dengan kekuatan yang dimiliki tersangka ke kepala kiri belakang. Kerasnya pukulan kedua membuat korban terkapar, tapi kondisinya masih hidup.

Melihat suaminya tak berdaya, korban mulai bingung. Ia akhirnya memiliki ide, yakni  melakban mulut korban dan melakban kedua tangan korban. Begitu dipastikan korban tidak bernyawa, sekitar pukul 00.00 WIB, tersangka mencari tali sepatu untuk merancang korban seperti bunuh diri.

“Tersangka mulai memasang tali dan menggantung korban ke usuk. Korban juga diberi earphone,” tutur Kapolsek Karangpilang Kompol Noerjanto saat rilis di mapolsek, Sabtu (31/3/2018).

Ketika menarik tubuh korban ke atas, penyidik mencium ada kejanggalan. Karena untuk menarik tubuh korban ke atas dibutuhkan tenaga ekstra. Apakah ada yang membantu dalam peristiwa pembunuhan korban Fendik?

“Untuk sementara, tersangka mengaku melakukan sendiri. Tapi untuk membuktikan itu kami tidak berani berandai-andai. Yang jelas penyidikan terus kami lakukan,” paparnya.

Setelah Desy menghabisi dan menggantung suaminya, ia masuk ke kamar dan tidur dengan dua anaknya.  Sekitar pukul 03.30 WIB Desy pura-pura teriak jika suaminya bunuh diri.

Baca Juga :  Menyusul Ketuanya, Anggota KPU Ini Menyatakan Dirinya Positif Covid-19

Setelah dilaporkan ke Polsek Karangpilang yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan lokasi kejadian, petugas langsung mengamankan Desy. Langkah yang dilakukan penyidik itu karena ada beberapa kejanggalan.

Yakni, korban jika dikatakan bunuh diri lututnya menempel ke lantai. Jeratan tali sepatu tidak persis di leher tapi di dagu korban. Kepala kanan dan kiri belakang ada benjolan seperti usai dihantam benda tumpul.

“Dari kejanggalan yang ada, korban akhirnya diotopsi dan penyebab kematian bukan pada jeratan tali. Tapi akibat hantaman benda tumpul di kepala korban,” jelasnya.

Dari keterangan dokter forensik, Desy yang diamankan di Mapolsek akhirnya dicecar pertanyaan oleh penyidik.

“Alhamdulillah tidak sampai 1×24 jam pembunuhan yang semula dilaporkan bunuh diri akhirnya terungkap,” papar Kompol Noerjanto.

Tersangka saat rilis berlangsung, sempat ditanya terkait cemburu atas dugaan perempuan lain. Namun tersangka hanya menganggukkan wajahnya. Beberapa pertanyaan saat dilontarkan apakah tidak kangen anak, ia hanya menundukkan wajahnya.

Sementara orangtua Fendik Tri Oktasari, Slamet Sari (52) saat ditemui di Polsek Karangpilang tidak terima jika anaknya dibunuh.

“Kami minta hukuman minimal seumur hidup,” tandas Slamet. # Tribunnews