loading...


Sejumlah tokoh warga di Gunung Kemukus Sumberlawang saat beraudiensi dengan Komisi I DPR Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Sejumlah tokoh masyarakat di wilayah obyek wisata Gunung Kemukus atau Makam Pangeran Samudera di Pendem, Sumberlawang menggeruduk DPRD Sragen. Selain mempertanyakan kebijakan Pemkab yang tak kunjung memberi solusi pemberdayaan,  mereka juga mengecam aksi razia yang digencarkan Satpol PP hingga berdampak mematikan arus pengunjung.

Hal itu terungkap saat sejumlah tokoh dan pelaku dari berbagai usaha di wilayah Kemukus menyampaikan aspirasi dalam audiensi dengan Komisi I DPRD serta dinas terkait, dua hari lalu.

Audiensi dipimpin koordinator Mujito,  salah satu tokoh di Dukuh Gunung Sari,  Pendem,  Sumberlawang. Ia mengatakan audiensi dilakukan untuk mencari kejelasan atas kebijakan Pemkab yang berjanji memberikan solusi pasca penutupan untuk kegiatan hiburan, prostitusi atau pelanggaran norma susila di wilayah Gunung Kemukus.

Juru bicara warga Kemukus,  Muzakir mengatakan dalam audiensi itu, ia membawa beberapa tokoh warga, tokoh agama, pedang sayur, pedagang makanan, pedagang kembang, tukang ojek, nelayan, pengusaha hiburan dan jasa pencucian mewakili warga Kemukus.

Baca Juga :  Komplotan Pencuri Nekat Preteli Monitor dan Alat Backhoe di Masaran Sragen. Kerugian Rp 50 Juta 

Menurutnya, inti kedatangan warga adalah untuk menagih janji solusi dari pemerintah pasca larangan hiburan di Kemukus. Sebab dampak dari penutupan itu telah membuat pengunjung semakin sepi dan roda ekonomi warga di Kemukus, lumpuh total.

“Warga semakin kesulitan ekonomi karena pengunjung makin sepi. Jualan jadi nggak laku, usaha ojek, laundri dan hampir semua usaha mati. Sampai sekarang juga nggak ada solusi dari pemerintah, ” paparnya.

Mereka juga mengecam tindakan razia sporadis yang terus menerus dilakukan oleh aparat maupun Satpol PP. Hal itu dinilai telah berdampak psikologis bagi pengunjung dan memicu ketakutan sehingga pengunjung makin enggan datang.

Tak hanya itu,  di forum itu,  ia juga mengecam pemberitaan salah satu media Australia yang beberapa waktu lalu memuat berita Kemukus dan diplintir seolah-olah kemukus sebagai tempat ritual sex bebas.

Baca Juga :  Misteri Ratusan PSK di Gunung Kemukus Sragen. Menghilang Saat Dirazia, Tapi Menjamur Saat Malam Ritual

“Kami sebagai warga kemukus sangatlah keberatan, karena hal itu tidak benar adanya. Dampak yang di timbulkan setelah pemberitaan media, timbullah surat edaran Sekda dan menindak lajuti surat edaran bupati Sragen tertanggal 27 September 2011 Nomor 640/1140/29/2017 prihal larangan untuk kegiatan hiburan, prostitus pelagaran norma susila wilayah gunung kemukus dan berdasarkan perda No 8 tahun 2014 tentang penyelanggaran usaha hiburan dan rekreasi,” urai Zakir.

Atas hal itu,  ia berharap untuk mengkaji kembali atas penutupan Kemukus karena sangat berimbas pada sendi perekonomian warga yang sudah berpuluh tahun menggantungkan hidup dari arus kunjungan wisatawan di Kemukus.

Salah satu anggota DPRD yang menemui, Faturrahman,  menyampaikan inti dari audiensi itu warga memang merasakan dampak kesulitan perekonomian sejak penutupan Kemukus dari lokasi hiburan dan lainnya.

Baca Juga :  Puluhan Napi Lapas Sragen Diberdayakan Produksi Keset Untuk Diekspor ke Australia. Eksportir Irma Suryati dan Artis Bertrand Antolin Sampai Tergerak Datang ke Sragen 

Warga mendukung penutupan praktik prostitusi akan tetapi berharap Satpol PP tak terus menerus melakukan razia karena berdampak memicu ketakutan pengunjung karena menganggap Kemukus tak aman dikunjungi.

“Harapan kami eksekutif bisa segera menepati komitmen untuk memberi solusi karena sampai saat ini kebijakan penutupan itu belum ada tindaklanjutnya. Akhirnya warga yang jadi korban karena mereka kehilangan pendapatan dan roda ekonomi jadi terhenti,” paparnya. Wardoyo

Loading...