loading...


Ilustrasi pesta miras oplosan

SRAGEN- Insiden pesta miras berujung maut di Nogosari dan Kalijambe beberapa waktu silam,  akhirnya membuka tabir seputar aktivitas pesta gang ciu kawasan segitiga Kalijambe-Kalioso-Nogosari dengan segala eksperimennya. Untuk menghindari penggerebekan, pesta air haram itu pun digelar secara berpindah-pindah.

Yang mencengangkan, mereka ternyata tak segan untuk bereksperimen dengan mencampur bahan-bahan mulai dari getah ketela hingga serbuk obat nyamuk bakar dengan tujuan agar minuman menjadi mantap dan membuat mereka cepat melayang.

Kematian tiga warga Sragen dan Karanganyar akibat konsumsi miras oplosan bukan kali pertama terjadi. Sekitar dua bulan silam tepatnya tanggal 2 Juli 2011, pesta miras oleh kelompok segitiga Kalioso-Nogosari-Kalijambe juga merenggut empat korban nyawa.

Lantas pada saat yang bersamaan,empat warga Gondangrejo, Karanganyar juga tewas akibat mengonsumsi miras oplosan di kawasan Nogosari.

Namun seolah tak mengenal kata jera, aktivitas pesta miras oplosan di tiga kawasan itu tetap berjalan bahkan semakin menjadi. Berdasarkan hasil investigasi ke sejumlah warga di Nogosari dan Kalaijmbe, pesta ciu oplosan yang digelar oleh gang tersebut memang sulit terpantau.

Baca Juga :  Dana BKK Cor Jalan Diduga Bocor Jutaan Rupiah, Warga Sepat Masaran Demo Bawa Spanduk Tengkorak 

Selain lokasi pestanya berpindah-pindah, aksi  pesta yang lebih banyak memilih waktu tengah malam dan digelar di lokasi yang sepi membuat aktivitas mereka sulit terendus aparat.

“Biasanya kalau ketahuan langsung pindah ke lokasi yang sepi. Kadang ya di pinggir sawah, di bawah pohon yang sepi dan tidak terlihat orang. Yang bikin jengkel kadang mereka itu pestanya ndak kenal wayah, siang malam bahkan sampai pagi. Kadang sudah ketahuan dan diingatkan pun tetap saja tak mengubris,” ujar Mbah Yem (60), warga Karangjati, Kalijambe yang tinggal di pinggir desa dan sering memergoki aktivitas pesta pesta miras Eri dan Nurrohim cs bersama rekan-rekannya.

Sama seperti aktivitas kelompok Kalijambe, pola yang sama juga dilakukan kelompok Kalioso dan Nogosari. Dua kelompok ini biasanya juga berpindah-pindah namun lokasi berkumpulnya sama yakni di sekitar perlintasan rel kereta di daerah Kliwonan, Nogosari, Boyolali.

Baca Juga :  Hari Antikorupsi Sedunia, Kapolres Sragen Serukan Suap dan Pungli Termasuk Korupsi. Masyarakat Diminta Proaktif!  

“Biasanya kalau masih agak petang di Kliwonan, kalau sudah agak malam baru berpindah agar tidak ketahuan. Biasanya mereka juga mengontak teman-temannya dari mana-mana untuk gabung,” ujar Yanto, salah satu warga di Ngemplak, Boyolali yang kerap melihat aktivitas pesta miras di Nogosari.

Menariknya, selain lokasi pesta yang berpindah, gang juga selalu bereksperimen dengan mencari ramuan yang pas. Tidak hanya bahan-bahan suplemen seperti minuman serbuk, mereka juga tak segan menambah bahan-bahan lain.

Rivanol dan Serbuk Baygon

Mulai dari getah batang ketela, darah, cairan alkohol pembersih luka (rivanol), obat nyamuk oles hingga serbuk obat nyamuk bakar yang ditumbuk. Semua dilakukan untuk satu tujuan yaitu agar mabuk mereka menjadi lebih mantap.

Sementara menurut pengakuan salah satu mantan pecandu ciu oplosan kelompok tersebut, Jo (29), eksperimen-eksperimen gila itu dilakukan untuk mendapatkan rasa mabuk yang berbeda. Tidak banyak keluar biaya namun cepat memberikan efek mabuk yang diinginkan.

Baca Juga :  Sragen Raih Penghargaan Bhumandala Award 2018 

“Kalau rasanya tidak terlalu penting. Yang dicari itu, bagaimana biar tidak mabuk tapi bisa melayang-layang. Makanya kadang kalau ditambah satu bahan tidak mempan, ya cari bahan lain,” urai pemuda yang kini mengaku insyaf itu.

Sementara, menurut salah satu pakar medis RSUD Sragen bahwa efek langsung dari konsumsi miras bisa mengakibatkan luka dan pendarahan banyak pada lambung serta saluran pencernaan. Sedang efek sistemiknya bisa mengakibatkan keracunan sampai pada otak sehingga bisa mengakibatkan kematian. Wardoyo

 

Loading...