Beranda Daerah Sragen Menguak Sindikat Miras Oplosan Geng Segitiga Emas Kalioso-Kalijambe-Nogosari Yang Merenggut Banyak Nyawa (Bagian...

Menguak Sindikat Miras Oplosan Geng Segitiga Emas Kalioso-Kalijambe-Nogosari Yang Merenggut Banyak Nyawa (Bagian 1). Selalu Ngeyel, Tak Pernah Mengenal Kata Kapok… 

310
BAGIKAN
Ilustrasi tragedi miras oplosan Sragen. Dok/Wardoyo

SRAGEN- Kematian puluhan nyawa akibat  korban pesta miras oplosan di beberapa daerah belakangan ini,  seolah menguak luka lama tragedi miras oplosan yang pernah terjadi di Sragen.

Beberapa waktu silam,  tiga warga Sragen dan Karanganyar juga meregang nyawa akibat konsumsi miras oplosan yang ditenggak saat lebaran beberapa tahun silam.

Insiden itu pun membuat kami berusaha menelusuri miras oplosan maut yang konon banyak beredar di kawasan perbatasan tiga kabupaten (Sragen-Karanganyar-Boyolali) yang dikenal dengan istilah kawasan segitiga emas.

Sindikat yang menggawangi di kalangan pelaku akrab disebut geng ciu segitiga emas.

Namun, tak sedikit warga dan tokoh masyarakat yang justru merespon positif insiden tersebut lantaran sudah jenuh dan resah dengan ulah peminum miras yang selain ugal-ugalan juga dikenal tak mau nasehat.

Suasana duka terlihat dari kediaman Nurrohim (17), warga Karangjati, RT 10, Kalijambe Sragen yang diduga meninggal akibat pesta ciu oplosan

Sabtu (3/9) kemarin. Kedua orangtuanya, Parmin (50)  dan Suntini (45) masih tampak syok. Tidak hanya itu, kerabat dan kakaknya pun juga terlihat begitu terpukul dengan kepergian bungsu tiga bersaudara yang biasa disapa Watu itu.

Begitu kani tiba di halaman rumah duka, semula kerabat menyambut dengan baik. Namun, setelah sempat ngobrol dan mengetahui profesi jurnalis, mendadak kerabat meminta agar tidak mengambil gambar dan mewawancarai siapapun.

“Sudah lah mas. Biarkan yang sudah terjadi. Biarkan dia pergi dengan tenang. Bapak juga masih syok jangan diwawancarai. Tidak ada apa-apa, kematiannya karena sakit,” ujar salah satu pria muda yang kemudian diketahui sebagai kakak korban.

Tidak ada penjelasan apapun yang disampaikan oleh kerabat. Saat ditanya mengenai insiden pesta miras yang disebut-sebut menjadi pemicu kematian Watu, tak satupun yang berani menjawab seolah ada yang takut ketahuan.

Meski berusaha ditutupi, dari obrolan beberapa warga dan tokoh masyarakat yang hadir melayat  memang sempat terdengar bahwa kematian Nurrohim erat terkait dengan aksi pesta miras yang digelar selama dua hari selama takbiran hingga lebaran kemarin.

“Ben dadi pelajaran mas. Habis gimana, sudah tahu minuman keras tapi kalau sudah minum terus tidak mengenal waktu. Ngedur dua hari pas takbiran dan lebaran,” ujar Atmo, salah satu pelayat yang duduk di luar.

Baca Juga :  PPDB SD dan SMP di Sragen Digelar Mulai 22-28 Juni. Kuota Miskin dan Luar Zona 20 %, Berikut Info Lengkapnya!

Dari obrolan itu pula, terekam jika aktivitas pesta miras Nurrohim Cs memang sudah di luar batas kewajaran. Tidak mengenal tempat dan waktu.

Bahkan, rombongan pemabuk yang biasanya berkumpul dan datang dari beberapa desa itu selalu membantah jika dinasehati orang tua maupun sesepuh warga yang memergoki aksi pesta mereka.

“Sebagai wong tua kami sudah tidak kurang-kurang memberi nasehat. Tapi ya selalu ngeyel. Pernah saya bilangin pada-pada go tuku omben mbok duwite go tuku omben sing apik, eh malah dijawab iki yo omben apik mbah. Ya sudah,” ujar Mbah Yem, salah satu sesepuh desa setempat yang kebetulan sering memergoki rombongan pemuda pemabuk yang salah satunya diketahui Nurrohim.

Mbah Yem mengaku jengkel lantaran tidak hanya ngeyel, para pemabuk termasuk korban Nurrohim tak pernah jera dan belajar dari kejadian.

Padahal, belum genap 40 hari, salah satu teman gang korban yakni Eri Sutrisno yang tinggal tak jauh dari rumahnya, sudah mendahului tewas juga akibat pesta miras. Pemuda yang hanya lulus SMP itu sendiri juga sempat diketahui sakit parah akibat miras namun kemudian sehat lagi.

“Mestinya kalau sudah sakit ya berhenti. Tapi kok keliatannya ndak ada kapok-kapoknya. Padahal yang satu saja belum ada 40 hari kok ini malah diulangi lagi,” urai Mbok Yem.

Suasana duka juga terlihat di kediaman Jamal Edi Purnomo, di Tuban Kidul RT 2/V, Tuban, Gondangrejo. Jamal yang masih kerabat Nurrohim juga tewas akibat konsumsi miras di Nogosari pada malam lebaran. Jamal dan satu teman yang juga tewas yakni Joko diduga kuat merupakan jaringan peminum lintas daerah yang termasuk kelompok segitiga Kalijambe, Kalioso, Nogosari. Namun pihak kerabat juga menutup rapat informasi penyebab kematiannya. Wardoyo