Beranda Umum Opini Tantangan Komunikasi Pemimpin di Era Millenial Digital

Tantangan Komunikasi Pemimpin di Era Millenial Digital

29
BAGIKAN
Iklan Baris Joglosemar News
Mohamad Zuhri, Magister Keperawatan UNDIP
Kehadiran teknologi dalam berkomunikasi telah memberikan perubahan bagi siapapun yang menggunakan teknologi untuk saling berinteraksi, mereka dapat terhubung dalam waktu bersamaan tanpa mengkhawatirkan batas geografis dan keterlibatan fisik, bahkan teknologi telah mewakili kehadiran dalam berkomunikasi. Adanya perubahan tentang komunikasi pada era media konvensional dan era media millenial digital.
Di era konvensional komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi dalam organisasi berlangsung secara tatap muka dan secara langsung, dimana komunikasi dilakukan dengan berhadapan fisik, pada waktu dan tempat yang telah ditentukan sehingga hal tersebut memerlukan banyak waktu dan biaya, sebagai contoh perlunya biaya transportasi untuk menuju tempat pertemuan dan juga komunikasi tidak dapat dilakukan dimana saja sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan organisasi dalam mencapai tujuan.
Namun  di  era millenial digital, komunikasi dapat dibantu melalui media seperti telepon, internet, teleconference, skype, whatsapp dan lainnya meskipun jarak memisahkannya. Sebagai contoh dalam komunikasi kelompok bisa lebih mudah dengan adanya telepon pintar, dimana orang dapat dengan  mudah membentuk grup atau kelompok tertentu untuk saling berinteraksi melakukan percakapan. Dalam komunikasi di suatu organisasi diantaranya komunikasi antara atasan (pimpinan) dan bawahan, komunikasi di depan publik (presentasi), komunikasi dalam kelompok kecil (kelompok kerja yang mempersiapkan laporan), dan komunikasi dengan menggunakan media (memo internal, e-mail, dan konferensi jarak jauh).
Revolusi media digital telah terjadi sejak tahun 1980an dengan perubahan teknologi mekanik dan analog ke teknologi digital dan terus berkembang hingga hari ini. Perkembangan teknologi ini menjadi masif setelah penemuan personal komputer yaitu sistem yang dirancang dan diorganisasir secara otomatis untuk menerima dan menyimpan data input, memprosesnya, dan menghasilkan output dibawah kendali instruksi elektronik yang tersimpan di memori yang dapat memanipulasi data dengan cepat dan tepat.
Perkembangan teknologi komputer digital khususnya mikroprosesor dengan kinerjanya terus meningkat, dan teknologi ini memungkinkan ditanam pada berbagai perangkat yang dimiliki secara personal. Perkembangan teknologi transmisi termasuk jaringan komputer juga telah memicu para pengguna internet dan penyiaran digital. Ditambah perkembangan ponsel, yang tumbuh pesat menjadi penetrasi sosial memainkan peran besar dalam revolusi digital dengan memberikan hiburan di mana-mana, komunikasi, dan konektivitas online.
Lahirnya situs jejaring sosial yang merupakan sebuah pelayanan berbasis web, memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut. Hubungan antara perangkat mobile dan halaman web internet melalui “jaringan sosial” telah menjadi standar dalam komunikasi digital. Situs pertemanan bernama Friendster terus berkembang kesitus-situs seperti MySpace, Facebook, Twitter dan lain-lain. Revolusi digital merupakan kemampuan untuk dengan mudah memindahkan informasi digital antara media, dan untuk mengakses atau mendistribusikannya jarak jauh.
Komunikasi merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh pemimpin. Kepemimpinan merupakan suatu proses ataupun gaya seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar orang lain tersebut mau mengikuti apa yang diinginkan oleh seorang pemimpin. Penyampaian pesan dari seorang pemimpin dalam kepemimpinannya memerlukan gaya komunikasi yang tepat agar pesan yang disampaikan kepada bawahannya dapat diterima dengan baik oleh para karyawan.
Pemimpin yang efektif pada umumnya memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi yang efektif, sehingga sedikit banyak akan mampu merangsang partisipasi orang-orang yang dipimpinnya. Begitu juga pada era milenial digital diharapkan pemimpin mampu beradaptasi dan menggunakan media digital dalam berkomunikasi.
Media baru digital terutama komputer dan telepon genggam yang terkoneksi dengan Internet merupakan salah satu contoh hasil kemajuan teknologi komunikasi modern yang dapat dijadikan sebagai media komunikasi pemimpin. Peranan media ini sebagai media komunikasi dewasa ini dipandang sangat penting sejalan dengan semakin banyaknya peminat jenis media tersebut dengan alasan : pertama, mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejap dengan biaya dan energi yang relatif terjangkau, Kedua, pengguna jasa Internet setiap tahunnya meningkat drastis, Ketiga, cara penyampaian yang variatif via Internet bisa menjangkau segmen yang luas, Keempat, penyampaian informasi dan ilmu akan berlangsung efektif ketika disosialisasikan secara informal (tidak tegang).
Keuntungan komunikasi di era media baru diantaranya : pesan yang disampaikan lebih kaya akan  informasi, dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, partisipasi orang bisa lebih banyak, biaya lebih hemat dan efisien sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas komunikasi. Paperless merupakan salah satu trend era digital dimana penggunaan kertas menjadi lebih sedikit. Kita tidak harus mencetak foto maupun dokumen yang dibutuhkan pada kertas, melainkan dalam bentuk digital.
Penyimpanan secara digital lebih aman daripada menyimpan bermacam dokumen dalam bentuk kertas. Digitalisasi dokumen berbentuk kertas menjadi file elektronik menjadi lebih mudah dalam berbagi salah satunya e-book. Dengan file digital juga dokumen menjadi jelas lebih ringkas yang setiap saat dapat dibuka melalui komputer dan ponsel.
Menurut Sutarto (dalam Tohardi, 2002:), ukuran keberhasilan dari pemberian komunikasi pimpinan yang efektif terhadap peningkatan kinerja pegawai perlu didukung adanya kerjasama harmonis antara pimpinan dengan pegawai. Maka yang dijadikan kriteria untuk mengukur keberhasilan komunikasi pimpinan antara lain: a). Kejelasan perintah dan petunjuk kerja,b). Keterbukaan (komunikasi terbuka), c). Penghargaan dan perhatian pimpinan bagi pegawai, d). Bimbingan dari pimpinan bagi pegawai, e). Kerjasama. Kemudian menurut Faulus (2002:185), ada lima jenis informasi yang biasa dikomunikasikan pimpinan kepada bawahan, yaitu: a). Informasi bagaimana melakukan pekerjaan, b). Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan, c). Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik organisasi, d). Informasi mengenai kinerja pegawai, e). Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas.
Abudiman (2012) berpendapat bahwa pemimpin di dunia maya lebih diartikan kepada yang mampu menjadi trendsetter dalam kawasan media sosial ini. Hal tersebut tidak terjadi begitu saja, media elektronik merupakan salah satu hal yang memberikan pengaruh kuat. Semakin media menyoroti trendsetter ini, semakin itu pula ia akan menjadi pemimpin yang mampu menggalang massa dalam lingkup media sosial, selain ia harus mampu membaca perilaku para penggguna media sosial lainnya. Peranan dan fungsi media dalam memberikan pemodelan ketauladanan, mediaisasi, dan pengembangan kepribadian tentunya menjadi tanggung jawab yang mungkin dapat diupayakan bersama oleh pemimpin dan staf serta bawahan.
Seorang pimpinan yang efektif tidak hanya bisa mempengaruhi bawahan-bawahannya, tapi juga bisa menjamin bahwa para bawahannya tersebut bekerja dengan seluruh kemampuan mereka,  dimana pemimpin harus mempunyai semangat tinggi yang melebihi semangat dari bawahannya sehingga rasa percaya sangat kuat untuk menjalankan kepemimpinan dan mempunyai tujuan jelas untuk menyongsong kearah yang lebih maju.
Tidak mudah untuk menjalankan kepemipinan yang efektif, apalagi berkembangan zaman sudah modern jadi pemimpin harus mengikuti zaman yang modern, contohnya: dizaman modern ini teknologi sudah berkembang pesat. Siapapun kita semua harus tahu teknologi karena itu salah satu tuntutan untuk kita semua agar kita bisa mengikuti perkembangan zaman. Di zaman yang modern seorang leader harus tahu teknologi informasi dan komunikasi agar bisa mengaplikasikan ke pada bawahannya.
Holmes (2012) dalam bukunya “Media, Teknologi, dan masyarakat”, menyatakan bahwa orang yang hidup dalam information society tidak hanya bertemu dan menggunakan teknologi-teknologi informasi dan komunikasi, melainkan cara tindakan mereka semakin dibingkai oleh teknologi tersebut. Hal ini menimbulkan pergeseran budaya komunikasi pada era konvensional menuju era media baru.
Gasser dan Palfrey (2008) dalam buku yang berjudul Born Digital : Understanding The First Generation of Digital Natives menyatakan hasil risetnya tentang digital natives bahwasanya mereka hidup dan berkomunikasi di dunia online daripada di dunia offline. Mayoritas aspek kehidupan mereka seperti interaksi sosial dan pertemanan dimediasi oleh teknologi digital. Hal ini menyebabkan akses informasi tersebar dengan cepat dan praktis.
Pemimpin saat ini harus memiliki kemampuan interpersonal dan kemampuan komunikasi yang baik. “Kemampuan komunikasi tidak hanya dari segi verbal. Kemampuan tekstual seperti membahas masalah pekerjaan melalui chat juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Saat pemimpin harus rapat melalui Skype, bicaralah dengan baik dengan bahasa tubuh yang mendukung. Jangan terlalu monoton agar pegawainya bisa menyerap informasi yang diberikan dengan baik, serta perlu  memahami aspek legalitas informasi digital.
Aspek legalitas pemanfaatan dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut, sebenarnya telah tersedia peraturannya yaitu undang-undang nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Undang-undang ini banyak memberikan terobosan-terobosan hukum yang berkaitan dengan pemanfaatan data elektronik, prosedur transaksi elektronik dan keamanan dan legalitas data melalui tandatangan elektronik (digital signature).
Di balik kepopulerannya, era teknologi digital memiliki berbagai potensi dan dampak negatif yang bisa merugikan, diantaranya kemudahan segala pekerjaan dengan berbagai aplikasi dan teknologi, menjadikan seseorang lebih sedikit bergerak, aktivitas fisik makin berkurang, Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menjadi bumerang yang memberi dampak negatif bagi penggunanya bersifat adiktif (kecanduan) dan sulit untuk berubah apabila tidak dikendalikan. Muncul nomophobia yang merupakan ketakutan bila peralatan digital seperti ponsel ketinggalan, selalu memeriksa ponsel setiap beberapa menit, kebergantungan pada charger, bahkan merasa ketakutan dan stress bila baterai lemah atau mungkin sinyalnya tidak maksimal.
Era digital harus disikapi dengan bijak, menguasai, dan mengendalikan peran teknologi dengan baik agar era digital membawa manfaat bagi kehidupan. Pendidikan harus menjadi media utama untuk memahami, mengusai, dan memperlakukan teknologi dengan baik dan benar. Pemimpin dan juga karyawan harus paham dengan era digital ini baik manfaat maupun kekurangannya agar terhindar dari dampak negatifnya. ****