Beranda Umum Internasional Beginilah Rasanya Puasa di Ruang Antariksa

Beginilah Rasanya Puasa di Ruang Antariksa

44
BAGIKAN
Iklan Baris Joglosemar News
Stasiun Antariksa Internasional (ISS). (NASA)

Seorang astronot asal Malaysia, Sheikh Muszapar Shukor, sempat mengalami puasa di antariksa. Shukor adalah astronot asal Malaysia pertama yang dikirim ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada 2007. Dia mengemban misi riset selama 10 hari.

Misi tersebut dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadan yang jatuh pada bulan September-Oktober dalam kalender Masehi. Hal yang menarik dan menjadi masalah untuk berpuasa Shukor saat itu adalah ISS mengorbit pada bumi selama 16 kali tiap hari ya. Itu berarti astronot selalu melihat matahari terbit dan terbenam tiap 90 menit sekali.

Pertanyaannya, bagaimana cara Shukor berpuasa? Jamaluddin Jarjis, Menteri Sains Malaysia saat itu, mengatakan, Shukor sebetulnya tidak diwajibkan berpuasa, terlebih waktu matahari terbit dan terbenam sangat cepat.

“Shukor sebetulnya bisa mengganti puasanya saat dia kembali ke bumi,” kata Jarjis, seperti dilansir laman Space.com, kala itu. Sebaliknya, Shukor malah berharap tetap bisa berpuasa meski tugas utamanya adalah riset. “Saya sudah mendapatkan pelatihan puasa di antariksa dalam pelatihan.”

Dewan Fatwa Nasional Malaysia kala itu juga sempat mengeluarkan aturan soal salat di antariksa. “Waktu siang dan malam selama 24 jam harus disesuaikan dengan zona waktu tempat peluncuran,” tulis Dewan, seperti dilansir media lokal dan dikutip Space.com.

Baca Juga :  Aktivitas Mudik di Bangladesh Ini Masih Lebih Parah Ketimbang Indonesia

Untuk arah kiblat, Dewan Fatwa menyatakan setiap muslim yang berada di antariksa, apabila sulit menghadap kakbah, diharuskan menghadap ke bumi sebagai kiblat. Soal wudu, bisa digunakan tisu atau handuk basah.

“Nanti, Shukor juga boleh salat tanpa berlutut karena pasti akan sulit di tempat dengan gravitasi nol,” kata Jarjis mengutip Dewan Fatwa.

www.tempo.co