JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Tragis, Tawuran Massal Petani dan Peternak Tewaskan 86 Orang

Ilustrasi/Tribunnews

Bentrok yang melibatkan petani dan peternak di Nigeria menewaskan sedikitnya 86 orang. Demikian keterangan polisi di negara bagian Plateau.

Beberapa laporan menyebutkan perkelahian berawal pada Kamis (21/6/2018) ketika petani warga suku Berom menyerang para peternak suku Fulani, dan menewaskan lima orang.

Belakangan, peternak suku Fulani melakukan serangan balasan yang berakibat jatuhnya korban jiwa yang lebih besar.

Kawasan Plateau di Nigeria bagian tengah ini memang sudah lama memiliki sejarah konflik kekerasan antara kelompok-kelompok etnis yang memperebutkan lahan. Jam malam sudah diberlakukan di tiga wilayah di negara bagian tersebut.

Komisaris Polisi Plateau, Undie Adie, mengatakan pencarian korban di beberapa kampung yang dilanda konflik berdarah itu menemukan 86 orang tewas dan enam cedera. Dia menambahkan, 50 rumah dibakar, juga 15 sepeda motor dan dua mobil.

Pemerintah negara bagian Plateau mengatakan jam malam diterapkan mulai dari 18.00 hingga 06.00 waktu setempat di Riyom, Barikin Ladi, dan Jos South untuk mencegah ‘pelanggaran hukum dan ketertiban’.

Konflik ini sebenarnya sudah lama berlangsung namun beberapa waktu belakangan memasuki tingkat kebrutalan yang baru.

Baca Juga :  Studi Profesor di Universitas AS Klaim Ada Kemungkinan Wabah Demam Berdarah Hambat Penyebaran Covid-19

Di wilayah Nigeria bagian tengah, komunitas petani yang menetap sering bentrok dengan para peternak yang berpindah-pindah, biasanya dipicu oleh akses atas tanah dan hak untuk memberi makan ternak di padang rerumputan.

Namun aksi balas dendam sudah meledak menjadi perang komunal antar-suku, yang sepanjang tahun lalu menewaskan ribuan orang.

Dan kawasan ini juga rawan dengan ketegangan agama, antara umat Islam yang umumnya tinggal di sebelah utara dan Kristen yang berdiam di selatan. Para peternak umumnya merupakan suku Fulani yang beragama Islam sedangkan mayoritas petani adalah umat Kristen.

Namun tidak jelas kenapa kekerasan terbaru ini terjadi. Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari, berulang kali menuding eskalasi terkait dengan meningkatnya tembak-menembak di Libia, yang berbatasan dengan Nigeria.

Sebagian pihak menuding kegagalan aparat keamanan, yang sedang sibuk menghadapi dua pemberontakan, kelompok radikal Islam Boko Haram di utara dan para militan di kawasan utara yang kaya minyak.

Gubernur negara bagian Plateau, Simon Lalong, mengatakan sudah diambil langkah ‘untuk mengamankan masyarakat yang terkena dampaknya dan mencari pelaku kejahatan’.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Arab Saudi Buka Kembali Layanan Umroh secara Bertahap. Jemaah Luar Negeri Diizinkan Datang Mulai 1 November 2020

 

“Sementara kita berdoa kepada Tuhan untuk memberi petunjuk dalam masa sulit ini, kita akan melakukan semua hal yang bisa dilakukan manusia untuk mengamankan negara bagian kita segera,” tuturnya.

Presiden Buhari -yang merupakan suku Fulani- berada di bawah tekanan untuk mengatasi ketegangan antara komunitas menjelang pemilihan tahun 2019 mendatang.

Aparat keamanan juga sudah dikerahkan ke negara bagian Benue, Nasarawa, dan Taraba untuk ‘mengamankan komunitas yang diserang serta mencegah serangan selanjutnya’.

Siapakan para peternak Fulani? Suku Fulani diyakini sebagai kelompok nomaden di dunia, yang ditemukan di wilayah Afrika Tengah dan Barat, mulai dari Senegal hingga ke Republik Afrika Tengah.

Di Nigeria, beberapa kelompok suku ini meneruskan tradisi hidup berpindah-pindah walau ada juga yang sudah tinggal menetap di kota-kota. Sebagian besar waktu peternak yang nomaden ini di kawasan semak-semak.

Mereka menggembalakan ternak mereka di kawasan yang luas dan sering kali memicu bentrokan dengan masyarakat petani. 

www.tribunnews.com