Beranda Umum Opini Maraknya Pembayaran Non Tunai di Era Digital

Maraknya Pembayaran Non Tunai di Era Digital

141
BAGIKAN
Ghea Maharani Mahasiswa S2 Magister Manajemen UNS

Pembayaran non tunai bukan hal yang baru di era serba teknologi seperti sekarang ini. Sistem pembayaran yang less cash ini sudah banyak dilakukan di beberapa negara. Contoh pembayaran non tunai yaitu kartu debit dan kartu kredit yang digunakan untuk pembelanjaan di toko besar atau swalayan. Namun seiring berkembangnya teknologi, pembayaran non tunai dapat dilakukan tidak hanya dengan kartu tersebut dan juga untuk tujuan lain selain pembelanjaan.

Selain kartu debit atau kredit, kemudian penggunaan e-banking, sekarang sudah bermunculan e-money dan e-wallet. Beberapa negara sudah banyak menggunakan transaksi non tunai seperti Kanada, Inggris, Jerman, Jepang, Perancis dan lain-lain. Di Korea sudah menggunakan kartu e-money  untuk pembayaran angkutan umum seperti bus atau kereta, di Thailand juga sudah memberlakukan voucher untuk makan di mall. Bahkan negara Jepang sudah menggunakan retina mata untuk sarana pembayaran.

Di negara Sakura tersebut, pembayaran dapat dilakukan dengan tatapan mata. Dengan hanya mengunduh aplikasi di smartphone, pemindaian retina untuk mengidentifikasi pembeli dapat dilakukan. Saat ini, mereka juga sedang mengembangkan electronic toll collection (ETC) untuk pembayaran penggunaan jalan tol. Mereka tidak perlu menggunakan kartu namun kendaraan mereka sudah terdaftar otomati melalui sebuah alat yang terpasang di depan mobil, sehingga akan mengurangi waktu yang terbuang untuk membuka jendela untuk mengeluarkan kartu. ETC ini sudah terhubung dengan kartu kredit sehingga dengan otomatis akan masuk tagihan ke kartu kredit pengguna.

Sementara di China, sebuah restoran menggunakan senyuman untuk membayar makanan, disertai nomor telepon.   Betapa mudahnya pembayaran dengan transaksi non tunai. Sedangkan di benua Asia, Tiongkok menjadi juaranya. Menurut laporan yang ditulis Vice.com, Tiongkok diprediksi menjadi negara pertama yang sepenuhnya meninggalkan uang tunai.

Hal ini disinyalir berkat pengontrolan internet yang ketat oleh negara. Dengan penduduk terbesar di dunia dengan pilihan jasa yang tersedia relatif terbatas, maka keberhasilan satu sistem akan cepat menjalar dan diadopsi banyak orang. Kini masyarakat Tiongkok menggunakan WeChat Pay dan Alipay untuk melakukan transaksi nontunai untuk berbelanja, makan siang, bahkan sekedar membeli majalah di toko kelontong.

Apa sih manfaat transaksi non tunai ini? Yang pasti pembayaran atau transaksi non tunai lebih praktis dan efisien biasa tinggak gesek atau menunjukkan kartu saja pada alat pembayarannya, memudahkan pembeli atau pengguna alat pembayaran tersebut, karena mereka tidak perlu membawa uang fisik yang banyak untuk berbelanja, meminimalisir aksi kejahatan karena pengguna tidak membawa uang tunai dalam junlah banyak, dan juga dengan pembayaran non tunai biasanya akan lebih terjamin pencatatannya. Salah satu manfaat adanya pembyaran non tunai ini dapat menekan biaya pengelolaan uang cash tentunya.

Penerapan di Indonesia

Sejak tahun 2014, Bank Indonesia telah mencanangkan Gerakan Non Tunai di Indonesia. Pemerintah cukup gencar melakukan kegiatan-kegiatan mencanangkan gerakan non tunai ini, antara lain adanya pembayaran transaksi pemerintah seperti pembayaran gaji, pajak, retribusi,dan lain-lain. Pembayaran Program Bantuan Sosial Keluarga Harapan dan Bantuan Pangan Non Tunai juga dilakukan melalui kerjasama dengan Bank Umum Milik Negara. Selain itu pemerintah juga mencanangkan pembayaran non tunai di sektor transportasi seperti jalan tol, kereta komuter, bus transjakarta, parkir dan lain-lain.

Sekarang ini mulai bermunculan aplikasi yang mendukung transaksi non tunai tersebut yang berfungsi sebagai uang elektronik yang sekarang banyak digunakan di Indonesia seperti T-Cash, Ovo, YAP keluaran dari Bank BNI dan Sakuku dari Bank BCA. Ada juga uNIK yang merupakan  aplikasi mobile social banking yang menyediakan layanan jasa uang elektronik berbasis server dan layanan laku pandai.

Baca Juga :  Tantangan Perbankan di Era Kekinian

Melalui aplikasi uNIK penggunanya dapat melakukan aktivitas perbankan seperti menabung, membayar tagihan, memberi uang saku, isi pulsa, hingga transfer ke sesama pengguna. Layanan ini diciptakan oleh PT Espay Debit Indonesia Koe (EDIK) yang bekerja sama dengan PT Square Gate One (SGO), dan PT Pembayaran Lintas Usaha Sukses (PLUS).

Aplikasi-aplikasi tersebut digunakan sebagai uang eletronik yang dengan mudah dapat digunakan, tinggal download di smartphone pengguna dan mengisi depositnya. Hampir mirip dengan kartu kredit atau kartu debit, aplikasi ini menawarkan diskon-diskon menarik serta tentu saja menawarkan kemudahan dan praktis. Selain bisa digunakan untuk pembelanjaan, beberapa aplikasi dapat digunakan untuk pembelian pulsa tanpa biaya tambahan, bisa sebagai e-wallet yang dapat menyimpan dana yang tidak mungkin dimasukan ke dompet pengguna. Disamping itu penggunaan aplikasi ini bisa dijamin keamanannya, karena dilengkapi dengan penggunaan nomor PIN (Personal Identification Number) .

Namun pembayaran melalui non tunai mungkin belum begitu marak di kalangan masyarakat, di luar pemakaian kartu debit dan kartu kredit. Masyarakat Indonesia masih nyaman menggunakan uang tunai dalam melakukan pembelanjaan. Penggunaan e-money juga kebanyakan hanya digunakan untuk pembayaran jalan tol. Walaupun begitu, pengguna e-money masih belum begitu banyak, terbukti dengan antrian pembayaran tunai lebih panjang daripada pembayaran menggunakan e-money. Walau Indonesia sudah terlihat seperti “melek teknologi”, namun pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia masih terbilang kalah dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Setidaknya ada dua hal yang menjadi penghambat utama kebijakan ini, iklim atau ekosistem bisnis dan permasalahan klasik infrastruktur. Selain jaringan infrastruktur seperti internet yang belum menyeluruh ke seluruh pelosok negeri, tertinggalnya perkembangan transaksi elektronik di Indonesia juga dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan yang masih rendah. Sebuah cashless society akan terwujud bila mayoritas masyarakatnya memahami bagaimana melakukan tata kelola keuangan atau literasi keuangan.

Pemerintah sebaiknya  lebih banyak melakukan pengenalan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kepraktisan penggunaan e-money tersebut untuk mendongkrak penggunaannya atau bekerjasama dengan pihak Bank yang bisa mengeluarkan e-money. Kerjasama dalam hal pemasarannya melalui program-program khusus untuk pengguna e-money ini, seperti yang banyak dilakukan untuk produk kartu kredit atau debit. Selain itu pengenalan juga dapat dilakukan dengan turut serta dalam event-event yang besar di daerah-daerah sehingga lebih mengenalkan transaksi non tunai ini di masyarakat yang lebih banyak. Penerapan sistem pembayaran non tunai secara keseluruhan diperlukan dukungan dari berbagai pihak. *****