Beranda Umum Opini Strategi Pengembangan Kewirausahan dan Pemasaran di Era Digital

Strategi Pengembangan Kewirausahan dan Pemasaran di Era Digital

41
BAGIKAN
Drs. Suharno, MM, Ak, Dosen Prodi Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi Surakarta

David McClelland, mengatakan suatu negara akan makmur bila minimal jumlah penduduknya 2 (dua) persen menggeluti bidang kewirausahaan. Saat ini jumlah wirausaha di Indonesia baru sekitar 1,56 persen, sehingga bidang wirausaha harus  mendapat prioritas utama bagi pemerintah dan stakeholder lain, termasuk perguruan tinggi untuk mengembangkannya.

 

Apakah kewirausahaan itu? Definisi kewirausahaan sangat banyak dan beragam. Salah satunya adalah usaha kreatif yang dibangun berdasarkan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru, memiliki nilai tambah, memberi manfaat, menciptakan lapangan kerja, dan hasilnya berguna bagi orang lain.

Modal seorang wirausaha adalah kreativitas bukan modal dalam bentuk uang. Selama ini sering kita dengar seseorang enggan berwirausaha dengan alasan tidak punya modal uang. Kesalahan berfikir ini harus diluruskan. Setiap orang memiliki modal untuk menjadi wirausaha, karena kreativitas bermula dari ide atau gagasan yang bersumber dari otak. Bukankah setiap orang memilikinya?

Kunci sukses mengembangkan krearitivas yang akan menghasilkan inovasi sebenarnya sangat sederhana bisa kita rumuskan dalam 5 N: nontoni, niteni, niroke, nambah-nambahi dan nemoke. Ada pula yang merumuskan dalam ATM (amati, tiru dan modifikasi). Bisa disimpulkan agar seseorang tertarik berwirausaha, maka perlu dimotivasi dan dirangsang ketertarikan terhadap sesuatu yang ada dilingkungannya. Tidak usaha jauh-jauh. Sebab ada jutaan peluang usaha disekitar kita. Asal kita mau berfikir dan jeli melihatnya.

Menjadi wirausaha penuh tantangan. Hidup merdeka dan menyenangkan. Namun harus bertanggungjawab dan berani mengambil resiko dalam setiap langkah dan keputusan yang diambil. Menjadi bos atas diri Anda sendiri.

Melihat karakteristik dan watak yang harus dimiliki wirausahawan di atas. Masihkah Anda percaya bahwa wirausaha itu bakat bawaan karena faktor keturunan ? Menjadi wirausaha itu harus bermodal uang yang banyak ?

Kapan saat tepat menjadi wirausaha ? Bidang apa yang bagus ? Simak pendapat almarhum Bob Sadino berikut ini “ Bisnis yang bagus adalah bisnis yang dibuka. Bukan yang ditanyakan terus “ ungkapnya. Pelajaran yang bisa kita ambil dari nasihat Om Bob Sadino adalah menjadi wirausaha itu harus mau berproses. Proses harus dijalani, kita harus belajar dari masalah yang dihadapi. Berani jatuh bangun. Learning by doing.  Tidak bisa sukses tiba-tiba,  seperti membalikkan telapak tangan.

Pengetahuan dan ketrampilan manajerial  ini harus dimiliki oleh seorang wirausahawan yaitu planning, organizing, actuating dan controlling (POAC). Bila tidak maka, resiko kegagalan dalam berwirausaha cukup tinggi. Wirausaha harus siap mental. Harus siap gagal, namun juga harus siap untuk bangkit kembali dari kegagalannya. Apa penyabab utama kegagalan dalam berwirausaha. Dalama sebuah penelitian disebeutkan ada tiga faktor penyebab kegagalan dalam berwirausaha yaitu tidak memahami strategi pemasaran, tidak memiliki kegiatan manajerial dan kendala dalam pendanaan.

Dari uraian tersebut, nampak jelas mengelola usaha tidak bisa hanya andalkan intuisi semata. Apalagi saat ini telah terjadi perubahan besar pada bidang pemasaran. Kemajuan tehnologi utamanya internet membuat perencanaan dan strategi pemasaran juga harus diubah dengan basis digital atau internet.

Konsep pemasaran konvensional sudah tidak sesuai lagi dengan pola dan perilaku masyarakat. Setiap orang memiliki benda ajaib yang bernama HP yang slalu dibawa kemanapun. Tidak pernah lepas dari genggaman. Dari benda ajaib tersebut informasi didapatkan, tidak terkecuali informasi dan transaksi binis, lewat media sosial (facecbook, twitter, Instagram)  maupun portal-portal bisnis lainnya yang dapat digunakan secara gratis, seperti buka lapak, dan sejenisnya.

Siklus pemasaran diawali dengan menganalisis lingkungan sekitar, kemudian kita mencoba membaca perilaku konsumen dengan cara memprediksi terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen. Setelah itu barulah menyusun strategi atau rencana tindakan melalui segmentasi (memilah) calon konsumen, targeting (memilih)  konsumen  dan positioning (menempatkan) produk dibenak konsumen.

Strategi yang disusun dioperasionalkan dengan menerapkan taktik membuat sesuatu yang berbeda dengan produk yang sudah ada (differ), menerapkan konsep marketing mix(product, price, place dan promotion). Dilanjutkan dengan selling (penjualan) yang menekankan pada tiga hal (benefit, solution, dan fiture). Bila salah satu dari tiga unsur tidak terpenuhi, maka dapat dipastikan produk akan instant dan sesaat saja beredar di masyarakat.

Masih ingat dengan booming jemani, gelombang cinta, dan sejenisnya. Produk tersebut pernah menjadi buruan masyarakat dengan harga yang tidak masuk akal. Namun kemana saja produk itu sekarang  berada? Tiba tiba menghilang, seperti ditelan bumi.

Pemasaran Digital

Pemasaran digital menerapkan pemasaran dengan berbasis internet yang dapat diakses on line melalui media sosial, seperti facebook, Instagram, twitter dan sejenisnya. Pemasaran model ini sangat efektif dan memiliki jangkauan luas bisa masuk penjuru dunia. Tidak ada sekat batas negara, ruang dan waktu. Bisa diakes 24 jam. Sayang masih belum banyak wirausahawan yang sadar menggunakan media sosial untuk melakukan pemasaran.

Apabila menggunakan cara menggunakan juga masih vulgar dan nampak kasar. Padalah dalam pemasaran yang menggunakan media sosial, kita harus menerapkan strategi “ tidak langsung jualan “. Yang kita utamakan adalah membangun hubungan saling percaya dan jaringan terlebih dahulu. Cara melakukan penawaran produk harus dikemas “ soft “, tidak vulgar dan tidak langsung, sehingga mampu membuat pengguna media sosial tertarik dan mencari tahu lebih lanjut terhadap produk yang kita tawarkan.

Media Sosial

Pengguna internet dan media sosial di Indonesia sangat besar sekali sekitar 136 juta. Hampir setiap orang mengakes internet setiap hari khususnya media sosial. Dari kota sampai pelosok desa. Dari anak-anak sampai orang tua. Baik wanita maupun pria. Sangat sayang bila media ini tidak dimanfaatkan untuk melakukan pemasaran.

Facebook

Facebook adalah situs media sosial dimana kita bisa menemukan kerabat atau kolega di mana pun berada. Interaksi yang dilakukan gratis.  Saat ini di dunia tercatat lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif dan lebih dari 80 juta merupakan pengguna aktif  dari Indonesia. Facebook sarana ampuh untuk melakukan pemasaran produk maupun pemasaran bagi para politikus. Sekaligus bisa menjadi pedang bermata dua bila tidak bisa menggunakan dengan benar.

Twitter

Twitter merupakan media sosial yang paling sederhana. Kesederhanaan twitter tercermin dari batasan penggunaan 140 karakter untuk setiap Tweet. Tweet di sini berarti kicauan atau kalau dalam Facebook dikenal dengan istilah Status. Harus pandai-pandai menggunakan twitter bila ingin mendapat follower yang banyak. Umumnya twitter digunakan bagi tokoh, politikus, artis dan pemuka masyarakat yang banyak memiliki pengikut.

Instagram

Instagram adalah media sosial berbasis aplikasi. Tidak hanya menyediakan fasilitas media sosial, namun juga menyediakan fitur photo editing.Jumlah pengguna Instagram di seluruh dunia sekitar 500  juta orang. Bisa mengecoh, karena manipulasi gambar, objek bisa lebih nampak sangat indah dari yang sesungguhnya. Sangat cocok digunakan bagi wirausahawan yang usaha bidang kuliner, busana, dan sejenisnya yang menonjolkan aspek visual.

Dengan menggunakan media sosial kegiatan pemasaran bisa fokus pada  target pasar yang dituju.Terhubung dengan target pasar di mana pun berada, tidak ada sekat ruang dan waktu. Bila  tepat dalam menyusun strategi dan taktik produk, informasi bisa viralke penjuru duniadengan biaya sangat murah dengan hasil sangat efekftif. Bukankah begitu? Sudahkah Anda menggunakannya? ****