loading...


Foto/Wardoyo

SRAGEN- Pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyatakan bakal mengirimkan surat pembatalan terhadap hasil penilaian seleksi perangkat desa (Perdes) Desa Kecik, Tanon. Tidak hanya itu, LPPM juga mengakui ada human eror dari oknum-oknum di LPPM sehingga pembatalan akan dilakukan terhadap hasil di semua desa yang bekerjasama dengan LPPM UMS.

Hal itu disampaikan koordinator aksi  sekaligus calon peserta seleksi Perdes Kecik, Joko Kusyanto Jeki, Jumat (10/8/2018). Kepastian pembatalan untuk semua desa itu disampaikan jajaran petinggi LPPM saat pihaknya beraudiensi di LPPM UMS, Kamis (9/8/2018).

“Bahwa kemarin setelah Mojorejo selesai beraudiensi, kita dari Desa Kecik, Suwatu, Jono,  Sribit diterima beraudiensi. Hasilnya bahwa Ketua LPPM sudah mengakui ada kesalahan dan human eror dari oknum di LPPM. Mereka menegaskan siap mengirimkan surat pembatalan hasil ujian ke semua desa yang bekerjasama dengan UMS. Dan mereka siap melakukan tes ulang tanpa biaya. Dari LPPM menegaskan itu bukan kesalahan UMS atau LPPM tapi memang ada oknum di LPPM. Kemarin saya rekam semua pas audiensi, ” ujar Jeki, Jumat (10/8/2018).

Baca Juga :  Kebakaran Hebat Landa Mondokan Sragen. Dua Rumah Ludes, Uang Tunai Rp 12 Juta Hangus Jadi Abu 

Jeki yang gagal di pencalonan menguraikan aksi beraudiensi ke LPPM terpaksa ia tempuh bersama beberapa peserta lain,  lantaran gerah melihat indikasi kecurangan dana kejanggalan pada proses seleksi Perdes di Kecik. Menurutnya calon yang terpilih sangat kentara terkesan dikondisikan nilai ujian tertulisnya.

Yakni mereka mendapat nilai ujian  tertulis 90 lebih semua, padahal ada beberapa yang secara kemampuan jauh di bawah peserta lain. Ada pula calon yang jadi, sempat dipergoki keluar ruangan untuk merokok saat ujian berlangsung dan mengakui mumet mengerjakan.

Baca Juga :  Di Desa Sejuk Sukorejo, TMMD Reguler Kodim Sragen Resmi Dibuka Pangdam. Gubernur Tekankan Semangat Gotong Royong 

“Tapi anehnya yang mumet ngerjakan dan ditinggal keluar merokok,  nilainya malah tertinggi 90 lebih. Tiga calon yang jadi nilainya juga sama di atas 90 semua. Kita yang mati-matian ngerjakan sampai sirahe koplak hanya dapat di bawah 50,” terangnya.

Atas keputusan LPPM itu, Jeki mendesak agar dilakukan tes ulang lagi dan tidak lagi dengan LPPM.

“Kami sudah tidak percaya dengan LPPM. Sebab katanya dijamin transparan, faktanya apa masih dimainkan juga. Kami minta ujian ulang dikembalikan ke daerah dan dilaksanakan dengan pengawalan. Tapi kalau nanti masih dimainkan juga, kita akan lawan lagi, ” tandasnya.

Sementara, kabar pembatalan juga dibenarkan dari peserta dari Desa Suwatu, Jono, dan Sribit.

Baca Juga :  Memukau, Suara Emas 5 Sinden Cilik Sambirejo Bikin Pejabat Tinggi TNI dan Ribuan Warga Terpana 

Sebelumnya, Ketua Panitia LPPM UMS,

Sudaryono menyampaikan soal ada peserta yang terindikasi bawaan dan mayoritas nilainya bisa mencapai 90, pihaknya mengakui itu kemungkinan faktor eror.

“Mungkin saja ada human eror saat input data. Kami siap untuk melakukan tes ulang tanpa biaya dan sebaiknya dilakukan secepatnya,” tandasnya.  Wardoyo

Loading...