loading...
Rempah manuk emprit

WONOGIRI-Pemerintah Kecamatan Eromoko memiliki cara unik untuk mengurangi populasi hama pertanian berupa manuk emprit alias burung pipit. Burung pemakan padi itu ditangkap dan diolah menjadi makanan nan nikmat.

Rempah manuk emprit, begitu nama makanan berbahan burung pipit tersebut. Rempah manuk emprit, oleh Pemerintah Kecamatan Eromoko ditampilkan saat dihelatnya Festival Jangan Lombok di halaman Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Selasa (7/8/2018). Penyajiannya disandingkan bersama jangan lombok atau sayur cabai.

“Rempah manuk emprit ini merupakan makanan anti mainstream. Tinggi protein tapi rendah kolesterol,” ungkap Camat Eromoko, Danang Erawanto.

Baca Juga :  Puluhan Pedagang dan Jukir Ikuti Rapid Test di Pasar Ngadirojo Wonogiri, Yang Reaktif Bakal Dihubungi Langsung Oleh Tim

Ide pembuatan makanan unik itu, menurut dia, salah satunya lantaran burung pipit merupakan hama dan musuh petani. Selama ini petani sering kewalahan menghadapi serbuan burung pipit, terutama saat panen. Beragam cara ditempuh, mulai dihalau secara manual, memasang orang-orangan sawah, hingga pemasangan jaring perangkap.

“Lalu muncul ide itu. Burung pipit banyak bahkan populasinya melimpah, ibarat kata tidak perlu biaya untuk mendapatkannya. Selama ini juga jarang dimanfaatkan. Ya sudah dibuat rempah saja,” kata dia.

Baca Juga :  Ternyata Program Penghijauan Itu Tidak Sekedar Menanam, Harus Pula Diikuti Langkah Perawatan Rutin Seperti Penyiraman Pemupukan Hingga Penyiangan

Dia mempersilahkan petani menerapkan ide ini. Dia sangat bahagia saat hama pipit bisa ditanggulangi, makanan sehat dan bergizi serta murah pun didapat.

Untuk mengolahnya, jelas dia, cukup mudah. Pasalnya pipit termasuk burung berbadan kecil. Sehingga tidak butuh waktu lama memasaknya. Selain dirempah, bisa pula diolah dengan digoreng, dibakar, dan sejenisnya.

Muji, penikmat kuliner menyatakan, rasa rempah manuk emprit pas di lidah. Tekstur dagingnya lembut, tidak kasar, dan nglawuhi atau cocok dijadikan lauk.

“Nikmat dan lezat,” kata dia. Aris Arianto