loading...


Peserta seleksi Perdes Desa Gesi saat menggeruduk ke balai desa, Kamis (9/8/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN-  Kisruh penolakan dan protes hasil ujian seleksi perangkat desa (Perdes) yang ditangani Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus berlanjut. Kali ini, para peserta dari Desa Gesi, Kecamatan Gesi dan Karangudi Ngrampal juga menggeruduk balai desa dan LPPM UMS untuk menbeberkan kejanggalan serta menuntut digelar ujian ulang.

Di Gesi, para peserta menggeruduk panitia desa di balai desa, Kamis (9/8/2018). Di balai desa, mereka mempertanyakan beberapa kejanggalan dari hasil nilai ujian yang ditangani LPPM UMS.

Salah satu peserta, berinisial TK menuturkan kejanggalan terjadi hampir sama dengan di desa lain yang bekerjasama dengan LPPM UMS. Kejanggalan di desanya diantaranya hasil nilai ujian tertulis,  empat calon terpilih mendapat nilai mengejutkan 90–94.

Baca Juga :  Jadi Pusat Perhatian, Muncul Kampung Merah Putih dan Kampung Unik di Desa Sukorejo Sambirejo Sragen 

“Untuk calon terpilih nilai tertulis 94, yang Kasi Kesra nilai tertulisnya 90,

formasi Kaur Tata Usaha nilai tertulisnya 90, dan calon terpilih Kaur Keuangan nilai tertulisnya 90. Yang peserta lain sarjana nilainya hanya di bawah 60. Njegleknya sangat jauh,” ujarnya diamini peserta lainnya.

Padahal, kata dia, dari 4 orang yang dapat nilai 90 itu ada satu orang yang mengalami 2 kali ganti laptop. Dan dua kali pula ganti flasdisk saat tes berlangsung.

“Kami juga makin yakin karena di lapangan beredar kabar tembakan-tembakan uang,” timpal peserta lainnya.

Mereka kemudian menggeruduk LPPM UMS, Jumat (10/8/2018) untuk mendesak dilakukan ujian ulang seperti desa lain, Kecik,  Suwatu, Tanon, Ketro, Mojorejo dan lainnya.

Baca Juga :  Trenyuh, Ratusan Warga Desa Sukorejo Rela Antri Demi Dapat Pengobatan Gratis di Lokasi TMMD Kodim Sragen. Ternyata Ini Alasannya!

“Kami hanya ingin dilakukan ujian ulang dan transparan. Karena indikasi permainan ini sangat menyakitkan dan merugikan masyarakat yang susah payah sekolah, kuliah dan ingin benar-benar mengabdi ke desa, ” tukas TK.

Aksi protes juga terjadi di Karangudi,Ngrampal yang juga ditangani LPPM UMS. Salah satu tokoh masyarakat setempat, Narwan menyampaikan kejanggalan di desanya juga sama dengan modus yang terjadi di desa lain yang bekerjasama dengan LPPM UMS.

“Nanti setelah dari UMS, kami akan lapor ke Tim Saber Pungli Kabupaten dan Polres. Indikasi kecurangan dan rekayasanya mencolok banget.

“Ada salah satu peserta yang motret hasil test word dan excel calon yang jadi, nggak ngerjakan tapi nilai malah paling tinggi,” tandasnya.

Baca Juga :  Tuntut Kejelasan Nasib, Ribuan Guru Honorer Sragen Bakal Geruduk Bupati 

Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman menyampaikan saat ini masih melakukan penyelidikan terkait maraknya indikasi kejanggalan, kecurangan hingga permainan yang mengiringi proses seleksi Perdes di Sragen.  Wardoyo

 

Loading...