loading...
Loading...
Tanda bukti pelaporan di Polda dan Kejati Jateng. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN- Kasus dugaan permainan dan jor-joran sogokan yang mewarnai seleksi perangkat desa (Perdes) di 192 desa di Sragen, resmi dilaporkan ke Polda Jateng dan Kejaksaan Tinggi Jateng. Laporan dilakukan oleh beberapa perwakilan dari aktivis, peserta seleksi dan relawan yang merasa prihatin atas indikasi kecurangan dalam proses seleksi.

Data yang dihimpun, laporan digawangi oleh koordinator, Aziz Kristanto dan perwakilan relawan keadilan sekaligus peserta seleksi, Yudi Ananda. Yudi mengungkapkan laporan ke Polda dan Kejati dilakukan pada Kamis (16/8/2018).

Di Polda Jateng, laporan langsung diterima di bagian Direskrimum sedangkan di Kejati diterima oleh bagian pelaporan Kejati Jateng. Menurutnya, hal yang dilaporkan adalah dugaan pelanggaran MoU seleksi Perdes dan indikasi permainan suap yang terindikasi dilakukan secara sistematis dan terorganisir.

Baca Juga :  Diwarnai Bagi-Bagi Uang Saku dari Danramil, Kesebelasan PS Masaran Raih Juara Turnamen Sepakbola HUT TNI 

Laporan di kedua institusi itu, juga dilampiri beberapa alat bukti dan dokumen penguat. Diantaranya dokumen hasil seleksi Perdes di tiga desa, Mojorejo, Puro dan Sidodadi.

“Kami memandang dari tiga desa yang dijadikan lampiran itu adalah contoh kasus indikasi kecurangan serta pelanggaran dari MoU yang dibuat LPPM dengan tim penjaringan Perdes tingkat desa. Pelanggarannya pasal 5 ayat 2 butir f,” papar Yudi, Sabtu (18/8/2018).

Laporan ke Polda Jateng. Foto/Istimewa

Selain bukti itu, tim juga melampirkan sejumlah barang bukti lainnya. Menurut Yudi, salah satu rekaman yang memperkuat adalah adanya bukti otentik berupa rekaman yang berisi instruksi dari salah satu kekuatan di Sragen terkait sistem pengumpulan dan aliran uang.

Dalam rekaman juga memuat sistem permainan sogokan melalui oknum Kades pengepul ke salah satu petinggi Sragen.

Baca Juga :  Ringsek, Begini Penampakan Truk New Widuri Yang Masuk Jurang Tewaskan 1 Orang di Tangen Sragen. Bagian Belakang Ada Tulisan Menyentuh! 

“Bukti rekaman otentik itu juga kami lampirkan. Di dalamnya sangat jelas perintah dan muara aliran uangnya. Tak perlu kami sebutkan, yang jelas salah satu petinggi Sragen,” terangnya.

Bukti lain adalah tanda terima setoran uang yang dibahasakan sebagai uang penitipan sebesar Rp 500 juta.

“Dari peserta ke oknum pengepul,” tukasnya.

Sementara, Aziz Kristanto menambahkan aksi melapor ke Polda dan Kejati ditempuh mengingat banyaknya indikasi kecurangan, manipulasi nilai dan jor-joran sogokan yang mengiringi. Pihaknya berharap laporan bisa segera ditindaklanjuti oleh Polda dan Kejati.

“Tuntutan kami permainan dibongkar semua, pelaku dan aktor intelektual yang terbukti bermain diproses hukum semua. Kemudian hasil seleksi dibatalkan dan digelar ujian ulang yang transparan,” tandasnya. Wardoyo

 

Loading...