Beranda Nasional Jogja Terungkap! Rumah di Jalan Gadjah Mada Yogya Ini Jadi Titik Awal Lahirnya...

Terungkap! Rumah di Jalan Gadjah Mada Yogya Ini Jadi Titik Awal Lahirnya Tamansiswa

Pasangan pemilik gedung tempat pendirian Tamansiswa Wintono-Retno Wikaningtyas menjelaskan sejarah rumah Jalan Gadjah Mada 26 | Istimewa

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di tengah gempuran modernisasi pendidikan, jejak awal lahirnya gagasan besar Ki Hadjar Dewantara justru bermula dari sebuah rumah sederhana di sudut Kota Yogyakarta. Fakta ini terkuak dalam kegiatan napak tilas yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.

Puluhan peserta berusia 18–25 tahun dibuat terdiam saat menginjakkan kaki di bangunan tua di Jalan Gadjah Mada Nomor 26, Sabtu (2/5/2026). Rumah yang tampak biasa itu ternyata menyimpan sejarah penting: menjadi tempat tinggal pertama Ki Hadjar Dewantara sepulang dari pengasingan di Belanda pada 1919, sekaligus lokasi berdirinya Perguruan Tamansiswa pada 3 Juli 1922.

Rombongan disambut langsung oleh keluarga penghuni rumah saat ini, pasangan Wintono dan Retno Wikaningtyas Darmastuti, serta cucu Ki Hadjar Dewantara, Purbo Wijaya. Suasana hangat pun tercipta dalam dialog yang membuka kembali memori sejarah yang nyaris terlupakan.

Retno Wikaningtyas mengungkapkan, rumah tersebut awalnya dikenal dengan alamat Jalan Tanjung Nomor 26 sebelum berganti nama menjadi Jalan Gadjah Mada. Kini, bangunan itu difungsikan sebagai TK Al Husna sekaligus tempat tinggal keluarga.

“Rumah kami ini rumah keluarga. Sekarang digunakan sebagai Gedung TK Al Husna dan tempat tinggal kami. Dulu beralamat jalan Tanjung No. 26, sekarang menjadi Jalan Gadjah Mada No. 26. Kami mengetahui jika di rumah ini didirikan Tamansiswa oleh Ki Hadjar dari cerita ibu dan kakak kami,” ujarnya, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Ia juga menjelaskan adanya hubungan kekerabatan dengan Ki Hadjar Dewantara. “Kakek kami RM Brotosudirdjo adalah saudara sepupu Ki Hadjar dari garis KGPAA Pakualam III,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bermain di Tepian Sungai, Bocah 14 Tahun Hilang Terseret Arus Progo

Keterangan tersebut diperkuat oleh berbagai sumber, termasuk tokoh Tamansiswa sekaligus Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ki Priyo Dwiarso. Ia menuturkan bahwa Ki Hadjar sendiri pernah mengonfirmasi tinggal dan mendirikan Tamansiswa di lokasi tersebut.

“Saya murid Ki Hadjar kelahiran 1943 dan sampai dengan 1959 tinggal bersama se halaman dengan keluarga beliau di Jalan Tamansiswa 25. Ki Hadjar membenarkan sejak kepulangan beliau dari negeri Belanda tahun 1919, tinggal dan mendirikan Tamansiswa di rumah Jalan Tanjung No. 26,” jelasnya.

Pengakuan serupa juga datang dari cucu Ki Hadjar, drg. Widyawati. “Iya benar, romo saya ngendika, eyang kami Ki Hadjar tinggal dan mendirikan Tamansiswa di rumah itu,” katanya.

Kegiatan napak tilas ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Dewantara 2026 yang digagas komunitas Cakra Dewantara. Perjalanan dimulai dari Pura Pakualaman, menelusuri jejak kelahiran Ki dan Nyi Hadjar, lalu menuju rumah bersejarah tersebut, hingga berakhir di kompleks Tamansiswa di Jalan Tamansiswa 25.

Selain napak tilas, rangkaian kegiatan juga mencakup pameran, workshop, lomba dolanan anak, hingga seminar yang berlangsung hingga Minggu (3/5/2026).

Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, refleksi terhadap pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga mengemuka. Ki Sutikno menilai, ajaran Ki Hadjar relevan untuk menjawab persoalan pendidikan karakter saat ini.

“Pendidikan karakter yang menjadi salah satu problem saat ini, menurut Ki Hadjar, harus dimulai dari sportivitas atau swadisiplin yaitu daya memerintah dari dalam diri sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  Dana Penelitian Tersedot MBG, Picu Merosotnya Semangat Dosen Meneliti

Ia juga menekankan pentingnya konsep Trikon sebagai landasan pendidikan bangsa. “Tamansiswa harus menjaga persatuan dan percaya diri. Jika diterapkan, konsep Trikon Ki Hadjar yaitu Kontinyu, Konvergen dan Konsentris dapat diharapkan lahir kader-kader bangsa yang punya jati diri dan membanggakan,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Pekan Dewantara 2026, Febry Fajar Mabruroh, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar terbuka bagi generasi muda.

“Desain Pekan Dewantara adalah sebagai ruang belajar. Silakan menggali gagasan Ki dan Nyi Hadjar tentang pendidikan berbasis sistem among. Prinsipnya dua, yaitu kemerdekaan dan kodrat alam,” jelasnya.

Ia berharap peserta tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi juga membawa pulang nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

“Harapan kami, semoga kegiatan ini berkesan dan ada sesuatu yang dapat dibawa pulang bagi yang mengikutinya,” pungkasnya. [*]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.