loading...
ilustrasi

JAKARTA –  Melemahnya nilai tukar rupiah, salah satunya disebabkan oleh keputusan pemerintah memberangkatkan jemaah haji dan umrah dalam jumlah yang besar. Keputusan tersebut, dinilai dapat menguras  devisa negara.

Hal itu diungkapkan oleh mantan Deputi Senior Bank Indonesia Anwar Nasution. Dia  mengatakan,  aksi tidak dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi Indonesia di Mekah dan Madinah.

“Indonesia mengirim jamaah umrah dan haji terbesar. Habis devisa untuk itu,” kata Anwar Nasution, dalam diskusi bertajuk “Bisakah Bersatu Menghadapi Krisis Rupiah?” di Gado-gado Boplo Menteng, Jakarta Selatan, Sabtu (8/9/2018).

Anwar Nasution menjelaskan, yang dimaksud dengan banyaknya jumlah jamaah haji dan umrah malah menggerus devisa adalah karena pada akhirnya uang yang dikeluarkan oleh para jamaah hanya akan mengalir ke luar negeri.

Baca Juga :  Gubernur Jabar Ridwan Kamil Copot Dirut Bank BJB, Ini Alasannya

“Emang ada restoran padang di Mekah, misalnya? Enggak ada, kan? Paling warung-warung kecil. Ini yang salah, tidak dimanfaatkan dengan baik,” kata dia.

Sebelumnya, Anwar juga mengatakan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga dikarenakan fundamental ekonomi di Indonesia masih sangat lemah. Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia dianggap belum mampu menahan gejolak dari luar.

“Bohong pemerintah itu mengatakan kalau fundamental ekonomi Indonesia kuat. Omong kosong,” kata dia.

Buktinya, kata Anwar Nasution yang juga mantan ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah yang berada di angka 10 persen. Jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya yang berada di angka 20 persen, rasio penerimaan pajak Indonesia hanya setengahnya.

Baca Juga :  Tergiur Tawaran Jadi Model Top, 2 Siswi SMA Malah Kehilangan Kegadisan. Dijebak dan Diperkosa Agen Gadungan

“Padahal kita udah 73 tahun merdeka. Ngapain merdeka kalo ngutang melulu, pinjam melulu,” ujar dia.

Lebih jauh, Anwar menilai ekonomi Indonesia saat ini sangat rawan terhadap gejolak dari luar negeri yang menyebabkan jika bunga meningkat maka biaya pembayaran utang di Indonesia juga meningkat. Selain itu, jika kurs meningkat juga mengakibatkan naiknya harga suatu komoditas.

“Tempe, itu harganya naik karena impor kedelainya,” tutur dia.

Anwar Nasution juga mengatakan lembaga keuangan dalam yang ada di Indonesia juga dinilai masih sangat lemah. Lembaga keuangan yang dimaksud yaitu bank pemerintah seperti empat bank negara (BUMN). “Maksudnya 4 bank negara ini enggak bisa lawan bank-bank seperti CIMB, Maybank dan juga Development Bank of Singapore.”

Baca Juga :  Ini Cara Hitung Nilai Hasil Tes SKD dan Tes SKB CPNS 2018, Simak Lolos atau Tidak

www.tempo.co


Loading...