JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sukoharjo

Ini 3 Perang Kekinian Menurut Dandim 0726 Sukoharjo

Dandim 0726 Sukoharjo, Letkol Inf Candra AP berbicara di depan mahasiswa Univet Bantara Sukoharjo.
Dandim 0726 Sukoharjo, Letkol Inf Candra AP berbicara di depan mahasiswa Univet Bantara Sukoharjo.

SUKOHARJO-Perang zaman sekarang bukan lagi perang secara fisik. Namun dampak yang ditimbulkan justru lebih merusak.

Bahkan perang di era kekinian tidak hanya satu jenis, melainkan tiga jenis sekaligus.

Dandim 0726/Sukoharjo, Letkol Inf Chandra Ariyadi Prakosa, menegaskan hal tersebut, Kamis (6/9/2018). Menurut dia saat ini perang telah beralih dimensi tidak lagi perang dengan menggunakan senjata. Tapi dengan politik untuk memperebutkan suatu daerah yang kaya sumber daya energi.

“Sekarang sudah meluas ke sumber pangan dan sumber energi hayati di sekitar khatulistiwa,” kata dia.

Baca Juga :  Terus Naik Lur, Jumlah Kasus Terkonfirmasi Positif COVID-19 di Sukoharjo Kini Mencapai 620, Pasien Meninggal Sudah 31 Orang

Trend perang pada masa kini, jelas dia, ada tiga. Meliputi proxy war yaitu perang dimana salah satu pihak menggunakan pihak ketiga atau kelompok untuk berperang melalui berbagai aspek. Penyalahgunaan narkoba, demo yang anarkis, tawuran pelajar, paham radikalisme, LGBT itu semua masuk di dalam kategori perang proxy war. Perang ini merusak generasi mudanya dan nantinya akan merebut sumber daya alam yang ada.

Perang kedua, asimetrik warfare perang yang melibatkan dua aktor atau lebih dikembangkan melalui cara tidak lazim di luar aturan perang konvensional. Perang model ini memiliki spektrum dan medan tempur yang luas meliputi hampir di setiap aspek untuk mengkuasai sumber daya alam.

Baca Juga :  Bikin Deg-degan, Hasil Pengundian Akhirnya Paslon EA Memperoleh Nomor Urut 1 Sedangkan Joswi Dapatkan Nomor Urut 2, Resmi Terpasang di APK 26 September Mulai Kampanye

“Sementara itu cyber warfare perang dengan menggunakan jaringan komputer dan internet di dunia maya dalam bentuk pertahanan dan penyerangan informasi,” tandas dia.

Untuk menghadapinya dibutuhkan nasionalisme yang tinggi dari semua elemen. Pasalnya perang tersebut tidak hanya dihadapi tentara, melainkan seluruh elemen masyarakat.

“Tanamkan, tumbuhkan, dan kembangkan jiwa nasionalis. Jaga persatuan dan kesatuan NKRI,” terang dia. Aris Arianto