JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Menengok Perjuangan Ratusan Ibu-Ibu di Kampung Jamu Gendong di Desa Sono, Mondokan Sragen Yang Bikin Staff Kementerian Desa RI Trenyuh 

Staff Kemendes RI, Luluk Nur Hamidah didampingi Faturrohman saat berpose bersama kelompok ibu penjual jamu gendong di Sono, Mondokan. Foto/Wardoyo
Staff Kemendes RI, Luluk Nur Hamidah didampingi Faturrohman saat berpose bersama kelompok ibu penjual jamu gendong di Sono, Mondokan. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Kementerian Desa (Kemendes) mengapresiasi dan mendorong agar kelompok usaha di desa bisa terus berkembang. Pihak desa diharapkan bisa memberikan penguatan modal dan pemberdayaan melalui Dana Desa.

Hal itu disampaikan Staff Kementerian Desa RI, Luluk Nur Hamidah saat bertemu dengan kelompok penjual jamu gendong di Desa Sono, Mondokan dalam tasyakuran juara gapura nasional, Sabtu (15/9/2018) malam.

“Kemajuan daerah itu ditopang dari desa yang maju. Kami sangat apresiasi di desa Sono ini ada kelompk ibu-ibu penjual jamu. Kami berharap desa bisa mengalokasikan dana desa untuk pengembangan kelompok jamu gendong ini,” paparnya.

Luluk menyampaikan dirinya siap memperjuangkan aspirasi dari warga, maupun ibu-ibu kelompok penjual jamu di Sono agar bisa mendapat bantuan. Termasuk jalan yang masih rusak, nantinya juga akan diperjuangkan lewat legislator PKB yang ada di Sragen agar segera diperbaiki.

Baca Juga :  Geger Mayat Pria Ditemukan Tergeletak di Persawahan Desa Jurangjero Karangmalang Sragen. Saat Ditemukan Dalam Kondisi Begini!

Malam itu, Luluk hadir didampingi Ketua Fraksi PKB Sragen, Faturrohman, legistator PKB asal Dapil V, Nasihul Anshori dan pengurus PKB, Nur Sugiyanto.

Dalam kesempatan itu, Faturrohman menyampaikan pihaknya melalui Fraksi PKB siap memperjuangkan aspirasi warga Mondokan, utamanya Desa Sono agar lebih maju lagi. Terutama akses jalan yang masih rusak dan pemberdayaan kelompok ekonomi warga, seperti penjual jamu gendong.

Baca Juga :  Ramai-ramai Pilkada Ditunda, Bupati Sragen Tegaskan Penundaan Tanpa Kepastian Bukan Solusi. Sebut Dampak Kondusivitas, Legalitas Pemerintahan Hingga Potensi Polemik Berkepanjangan Perlu Dipikirkan!

Sekdes Sono, Sutardi mengungkapkan ada sekitar 200 ibu-ibu di desanya yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong dan penjual jamu keliling. Profesi ini hampir 30 persen dari warga selain profesi utama sebagai petani.

“Mereka jualannya keliling keluar desa. Ada yangbke Pungkruk, Sidoharjo, Tanon bahkan sampai Semarang. Dulu awalnya ada pendatang yang usaha jamu, lalu ajak ibu-ibu lainnya jualan jamu. Sekarang pada buat sendiri dan dijual keliling,” paparnya.

Pihaknya mengapresiasi kehadiran staff Kementerian Desa. Warga sangat berharap ada perhatian lebih terhadap Desa Sono mengingat lokasinya yang terpencil dan jalan masih banyak yang rusak. Wardoyo