loading...

Wakil Ketua DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto saat menggelar sidak kelangkaan solar di SPBU Pilangsari, Jumat (17/8/2018). Foto/Wardoyo

KARANGANYAR- Pengelola SPBU mengaku, pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang sempat terjadi beberapa hari terakhir, disebabkan karena pasokan yang terbatas. Salah satu Supervisor yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, beberapa hari lalu, pihaknya terpaksa membatasi pembelian solar bagi angkutan sebanayak 35 liter, karena terbatasnya pasokan.

Jika pasokan ancar, lanjutnya, maka SPBU tetap melayani secara penuh, dalam arti tanpa pembatasan.

“Sempat ada pembatasan mas. Pembatasan pembelian kami lakukan karena pasokan terbatas. Kalau pasokan lancar, maka tidak kita batasi,” katanya sambil mewanti-wanti namanya tidak disebutkan.

Sementara itu, Supervisor SPBU Popongan, Arif mengatakan, sampai hari ini (Rabu ,6 September 2018, red) pasokan BBM jenis solar, masih lancar. Sekali order, menurut Arif, antara 8.000 liter sampai 16.000 liter.

“ Sampai hari ini lancar. Nggak tahu kalau besok. Selama ini jika kami melakukan order, selalu dikirim,” ujarnya, Rabu (09/09/2019).

Arif juga mengaku tidak melakukan pembatasan pembelian terhadap angkutan. Hanya saja, dalam pembelian dengan jerigen, harus menyertakan surat pengantar dari Kelurahan yang diketahui oleh Camat.

Loading...

“Tidak ada pembatasan. Kalau pembelian dengan jerigen harus ada surat dari kelurahan, kecamatan. Sudah ya mas, untuk selanjutnya, tanyakan langsung ke Pertamina Semarang,” pungkasnya.

Sementara itu, Unit Manager Communicatio dan CSR MOR IV PT Pertamina Semarang, Andar Titi Lestari ketika dihubungi hariankota.com melalui telepon selularya, membantah tentang habisnya BBM Solar.

Pertamina menjamin pasokan Solar Subsidi sesuai dengan kebutuhan rata-rata normal supply kepada konsumen pengguna di seluruh SPBU, khususnya di seluruh Solo Raya.

Menurut Andar, Kebutuhan rata-rata normal di wilayah Solo Raya dari Januari hingga Mei 2018 sebesar 604,9 KL. Pada bulan Juli 2018 ada peningkatan konsumsi yang sangat tinggi dan tidak wajar yaitu mencapai 760,5 KL.

Sehingga ada kenaikan yang tajam sebesar 26%. Untuk itu, Pertamina mengembalikan penyaluran kebutuhan solar sesuai dengan kondisi normal Januari hingga Mei.

“Ada kenaikan yang tidak wajar pada bulan itu, oleh karena itu kami mengembalikannya ke kondisi normal yaitu kondisi di bulan Januari hingga Mei 2018. Kami tetap menyediakan Solar, dari bio solar, dextlite dan Pertamina Dex, sehingga jika disampaikan bahwa SPBU Pertamina tidak melayani Solar karena habis, jelas itu tidak benar,” tandasnya. Wardoyo

 

Loading...