loading...
Loading...
Kondisi retakan menghiasi cor jalan Sambirejo-Musuk di wilayah Pelang Sambirejo. Retakan di banyak titik itu menuai protes dari warga setempat. Foto/Wardoyo

 

SRAGEN- Warga di wilayah Sambirejo menyayangkan pengerjaan proyek pengecoran jalan Sambirejo-Musuk. Pasalnya belum ada sebulan dicor, kondisi jalan yang baru separuh itu kini sudah dipenuhi banyak retakan.

Retakan itu terlihat di banyak titik. Salah satu tokoh masyarakat setempat, Priyono mengatakan kondisi jalan cor yang retak itu memanjang di wilayah Pelang, Jetis maupun Musuk. Padahal proyek senilai Rp 4,7 miliar yang dikerjakan PT Sempalan Jati Kudus itu belum lama selesai dicor.

“Banyak yang sudah retak dan pecah-pecah. Di Pelang, Musuk dan Jetis semuanya hampir ditemukan pecah dan retak. Ya kecewa saja, masa anggaran miliaran belum ada sebulan sudah pecah. Padahal ini baru separuh cornya,” paparnya Senin (15/10/2018).

Ia menduga cor retak dan pecah karena pengerjaan yang tidak sesuai prosedur. Sepengetahuannya, selesai pengecoran yang biasanya langsung disiram, akan tetapi pengerjaan jalan itu tanpa disertai penyiraman sehingga akhirnya beton jadi pecah.

“Harapannya ke depan kalau ada  pengerjaan proyek bisa lebih baik dan sesuai prosedur. Kalau belum difungsikan saja sudah retak dan pecah, bagaimana nanti kalau dibuka. Apa ya bisa tahan lama,” tukasnya.

Foto/Wardoyo

Laporan kerusakan proyek cor yang baru dikerjakan itu juga sampai di meja DPRD. Wakil Ketua DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto mengaku banyak menerima laporan soal kondisi pengerjaan jalan Sambirejo-Musuk yang sudah retak dan pecah. Menurutnya, banyak keluhan dan aduan dari warga soal kualitas pengecoran yang sudah rusak meski belum ada sebulan.

“Saya curiga pecah itu selain tidak disiram, campuran cor K300 itu juga perlu dipertanyakan. Karena retakannya nggak cuma kecil tapi memanjang dan hampir di sepanjang titik jalan. Di Jetis, Musuk dan Pelang hampir semua sudah pecah,” terangnya.

Menurutnya laporan dan temuan warga itu sebenarnya sudah langsung diteruskan ke pimpinan DPU maupun PPK. Namun hingga kini belum juga ada respon.

Ia juga mempertanyakan kinerja pengawas yang tak segera menegur sehingga keretakan berlanjut di banyak titik. Kemudian ada juga temuan jarak besi dowel yang tidak beraturan.

“Mestinya jarak besi dowel 40 sentimeter tapi ada yang jaraknya 75 sentimeter namun ada juga yang 30 sentimeter,” urainya.

Bambang meminta harusnya kerjaan jalan yang pecah itu tidak dibayar. Hal itu sebagai konsekuensi karena pekerjaan tak sesuai kualitas. Sebab dari pengamatannya yang juga paham tentang konstruksi bangunan, kondisi jalan retak dan pecah itu secara teknis sudah tak bisa diperbaiki lagi.

“Mau ditambal juga nggak bisa, wong retakannya seperti itu. Makanya kami minta DPU jangan menerima begitu saja. Masa anggaran susah payah nyari utangan Rp 200 miliar, hasilnya malah pengerjaannya asal-asalan. Lha belum selesai saja sudah pecah-pecah, bagaimana nanti kalau sudah digunakan,” terangnya.

Dari papan proyek tertera proyek jalan itu dikerjakan dengan durasi 120 hari. Namun tidak disebutkan kapan dimulai dan kapan jatuh temponya.

Sementara kondisi pengecoran baru separuh-separuh dan terputus-putus. Wardoyo

Loading...