loading...
Loading...
Tribunnews

Meski mendapat penolakan dari DPRD Jateng, namun Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan proyek tersebut tetap mengutamakan kepentingan rakyat.

Bahkan, rencana tersebut mendapat dukungan dari DPR RI.  Dikatakan bahwa keberadaan jalan tol Bawen-Yogyakarta sangat mendukung keberadaan bandara NYIA yang bakal hadir di Kulonprogo.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan hal itu kepada Tribunjogja  Sabtu (27/10/2018). Terkait rencana jalan tol yang mendapat penolakan dari kalangan DPRD, Ganjar Pranowo mengatakan semua bisa didiskusikan, bahkan diperdebatkan.

Namun kepentingan masyarakat, tetap harus yang diutamakan. Menurut Ganjar, kehadiran jalan tol dimaksudkan untuk menumbuhkan sektor pariwisata. Dengan akses yang mudah, maka akan banyak orang datang ke Jawa Tengah.

“Jangan selalu bilang kalau ada tol ekonomi di sekitar mati. Banyak jalan untuk mengreasi hadirnya satu pembangunan. Ini yang harus dilakukan,” ungkapnya.

Pun dengan keberadaan Candi Borobudur. Untuk mengundang wisatawan, harus memperbanyak event. Seperti Borobudur Marathon, semua akan menikmati.

Hotel, guest house sampai rumah warga akan menjadi tempat menginap para tamu. Artinya memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Kita genjot pariwisata, kita datangkan banyak orang. Ada yang bilang dolar naik aduh gawat, ya justru kita gairahkan pariwisata,” kata politisi PDI Perjuangan ini.

Jalan terus

Sebelumnya, pada Selasa (23/10/2018) usai acara Musrenbang Jawa Tengah di Hotel Grand Artos, Magelang, Ganjar Pranowo juga memastikan rencana pembangunan jalan tol Bawen-Yogyakarta akan terus berjalan.

Pihaknya tengah melakukan sinkronisasi, harmonisasi dan penyempurnaan data untuk merealisasikan salah satu program strategis nasional tersebut.

Baca Juga :  Densus 88 Gerebek Sebuah Rumah di Playen, Gunungkidul

“Jalan tol (Bawen-Yogyakarta) masih berjalan. Sekarang masih perencanaan jadi sabar dulu, karena kita masih mensinkronisasi dan harmonisasi dengan tata ruang, dan juga kerja sama dengan Pemda DIY untuk merealisasikannya,” ujar Ganjar.

Rencana pembangunan tol tersebut sempat mendapat penolakan dari kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah.

Pasalnya, rencana proyek itu disebut akan mengancam lahan subur di sepanjang daerah yang akan dilalui jalan tol.

Kalangan dewan juga mempersoalkan faktor kegempaan yang berpotensi terjadi pada titik-titik pembangunan.

Namun, alasan tersebut disangkal oleh Ganjar Pranowo. Ia mengaku telah melakukan pengecekan terkait hal-hal yang bisa menghambat pembangunan tol tersebut.

Seperti untuk faktor kegempaan, pihaknya sudah berbicara dengan pakar geologi dan tak benar adanya potensi gempa tersebut.
Terkait lahan subur yang dapat tergusur, pihaknya mengatakan sebagian besar adalah lahan tadah hujan, dan sedikit lahan subur.

“Catatannya kemarin itu , satu karena faktor kegempaan ternyata setelah dicek, tidak benar. Kedua soal lahan subur, ternyata lebih banyak lahan tadah hujannya. Ketiga untuk alternarif kereta api belum ada projek atau dorongan kita memakai itu. Jadi yang sudah ada kita kerjakan dulu,” ujar Ganjar.

Rencana pembangunan proyek Jalan Tol Bawen-Yogyakarta ini juga mendapat dukungn dari Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Ada beberapa alasan mendasar kenapa DPR RI mendukung proyek pembangunan proyek Jalan Tol Bawen-Yogyakarta.

Baca Juga :  Pemilihan Ketua Umum Kagama Periode 2019-2024, Ganjar Pranowo Kembali Terpilih

DPR RI menilai pembangunan jalan tol di Yogyakarta sangat penting dan perlu dilanjutkan untuk mendukung konektivitas perhubungan darat dari adanya bandara baru internasional di Temon, Kulon Progo.

Dukungan DPR RI

Anggota Komisi V DPR RI, Idham Samawi mengatakan, dari paparan pihak PT Angkasa Pura I dan PT Pembangunan Perumahan-KSO (PP-KSO), diketahui bahwa NYIA akan mampu menampung penumpang hingga 14 juta orang secara umum atau 20 juta orang pada kapasitas puncaknya.

Hal itu akan membawa impact berupa semakin terbukanya jalur penerbangan langsung (direct flight) semisal dari Sidney, Tokyo dan lainnya tanpa harus transit terlebih dulu di Bali ataupun Jakarta.

Komisi V menilai rencana pembangunan jalan tol Bawen-Yogyakarta perlu dilanjutkan untuk mendukung konektivitas dan kelancaran transportasi darat tersebut.

Hal itu disebut Idham sebagai program yang konkrit, jangan sampai terjadi ketika pesawat sudah bisa langsung landing tanpa harus lewat Bali atau Jakarta tapi justru ada masalah di perjalanan daratnya.

Misalkan terkait perhubungan darat dari lokasi bandara menuju area kota atau tujuan wisata.

“Penerbangan dari Bali ke Yogyakarta itu hanya satu jam. Kalau perjalanan daratnya malah sampai dua jam, sama saja omong kosong. Komisi V sepertinya sepakat semua, menilai proyek tol ini harus jalan terus,”kata Idham di sela kunjungan spesifik Komisi V ke proyek pembangunan NYIA di Temon, Jumat (26/10/2018). #tribunnews

Loading...