loading...
Pembukaan TMMD di Karanganyar. Foto/Humas Kab

KARANGANYAR- Program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) di Jawa Tengah diklaim telah menurunkan signiikan angka kemiskinan di Jawa Tengah. Hal itu terungkap saat digelar pembukaan TMMD 2018 di Karanganyar.

Pada tahun 2017 angka kimiskinan 13.01 persen dan pada tahun 2018 sdauh menjadi 11.32 persen.

Meski belum signifikan namun jika program TMMD ini terus dilakukan setiap tahun maka penurunaan akan terus bertambah.

“TMMD konsisten pemberdayaan ekonomi dan daya saing produk desa. Memanfaatkan tanah pekarangan untuk kegiatan ekonomi juga akan menambahkan kesejahteraan masyarakat,” papar Sekda Kabupaten Karanganyar, Samsi saat membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranomo dalam program TMMD Senkuyung di Desa Jumantoro, Kecamatan Jumapolo Karanganyar, Senin (16/10/2018)).

Baca Juga :  Hasil Pilkades Serentak Karanganyar, Bupati Minta Yang Kalah Legawa, Yang Menang Tak Jemawa! 

Dia menambahkan program TMMD yang dilakukan secara serentak tersebut dapat menambah semangat goyong royong warga. Semua masyarakat desa ikut andil dan guyub rukun membangun desa. Gorong royong telah menjadi saripatinya bangsa Indonesia.

“Inti dari kekuatan bangsa adalah persatuan dalam kebhinekaan. Sangat relewan pembangunan kebersamaan dan kesejahteraan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Antrian Membeludak, Sejumlah Pilkades Karanganyar Sempat Memanas dan Nyaris Ricuh. Warga Sempat Teriak-Teriak
Loading...

TMMD juga konsisten untuk membangun pemberdayaan ekonomi rumah tangga. Ekonomi kerakyataan yang siap berdaya saing. Dengan memanfaatkan tanah pekarangan untuk ekonomi.

Serta memberperdayakan perempuan dan disabilitas. Program TMMD juga memberikan perlindungan untuk perempuan dan anak.

Lebih jauh, Samsi mengatakan inovasi desa terus berkembang. Salah satu contohnya aplikasi surat menyurat dengan menggunakan tehnologi internet. Pihaknya juga berharap program ini juga menangkal paham  radikalisme, dan bahaya narkoba.

“Melalui TMMD dapat melakukan edukasi kesiapsiagaan bencana supaya masyarakat melek dan tanggap. Sebab Indonesia berada di kawasan rawan bencana alam. Setidaknya dengan pengetahuan tersebut bisa mengurangi dampak dari becana alam,” imbuhnya. Wardoyo


Loading...