loading...
BMKG

JOGJA – Gempa dan tsunami laut di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah sangat mengejutkan banyak orang.

Para pakar geologi sebenarnya telah lama mengetahui, dan sejarah mencatat, wilayah Sulawesi Tengah ini berdiri di atas zona gempa.

Setelah gempa di palu juga terjadi likuifaksi yang mengubur sejumlah desa dan permukiman dan memakan Korban jiwa demikian banyak.

Loading...

Hingga Selasa (2/10/2018) malam, penghitungan jumlah korban meninggal sudah melampaui angka 1.234 orang.

Diperkirakan masih ada ratusan hingga ribuan orang lainnya belum ditemukan. Entah terkubur reruntuhan dan tanah maupun tersapu ke lautan.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan Donggala dan Palu berada persis di atas sesar Palu-Koro.

Catatan sejarah menujukkan gempa hebat dan tsunami pernah menerjang kedua wilayah ini.

Sesar ini memiliki segmentasi dengan panjang bervariasi antara 15 hingga 59 kilometer. Karakteristik pergerakannya sesar geser dengan kecepatan 4 cm/tahun.

Pergerakan sesar Palu- Koro ini empat kali lipat laju sesar besar Sumatera.

Data gempa besar di Palu tercatat mulai 1905, 1907, 1909, 1927, 1937, 1968, dan 2012. Gempa kuat terakhir terjadi 18 Agustus 2012, berkekuatan 6,2 skala Richter. Rapatnya interval gempa kuat di Donggala dan Palu ini menunjukkan sangat aktifnya sesar geser Palu-Koro.

Baca Juga :  Dianggap Berbuat Asusila, Pak Dukuh Gaten Tirtomulyo Bantul Dituntut Mundur

Nah, bagaimana menjelaskan gempa bumi dahsyat dan tsunami dalam sejarah peradaban bangsa- bangsa di Nusantara? Sejak kapankah tercatat? Seperti apa gambaran bencana alam itu dalam sumber-sumber sejarah kita? Bagaimana jejaknya?

Dimulai dari temuan jejak gempa dan tsunami di pesisir selatan Jawa yang belum tercatat dalam sejarah.

Peneliti LIPI, Eko Yulianto, lewat uji karbon menemukan deposit tsunami di pesisir Kulonprogo, DIY, berusia 300 tahun, atau diduga terjadi tahun 1699.

Deposit lebih tua ditemukan berusia 1.698 tahun, 2.785 tahun, dan 3.598 tahun. Deposit dengan usia lebih kurang sama ditemukan di Lebak, Banten hingga Cilacap, Jateng.

Temuan ini menunjukkan gempa besar dan tsunami dahsyat sangat potensial di sepanjang wilayah ini.

Gempa Bantul 2006 berpusat di dekat daratan Parangtritis, persis di patahan Opak yang memanjang dari Parangtritis hingga Piyungan berbelok ke timur mengikuti kaki pegunungan Nglanggeran hingga Bayat, Klaten.

Ke utara dari Piyungan memanjang melewati Prambanan hingga sebelah timur gunung Merapi.

Meski tidak ada dalam catatan sejarah, perbedaan ekstrem kontur daratan di sisi timur Parangtritis dan dataran sebelah barat, mengindikasikan pernah terjadi tunjaman akibat patahan hebat.

Entah berapa juta tahun lalu, namun mestinya kontur daratan Bantul dan Gunungkidul pernah di level sama.

Baca Juga :  Penggalangan Dana Korban Klitih, Sehari Di-'Posting Terkumpul Rp 3,6 Juta

Seperti halnya daratan Gunungkidul yang sambung menyambung dengan kontur perbukitan karst Wonogiri, Pacitan, terus ke timur hingga Malang, Lumajang hingga Banyuwangi.

Baca: Selasa Pagi, Gempa 6.3 SR Guncang Sumba, Berikut Lafaz Doa Saat Terjadi Gempa Bumi

Baca: Cerita Adelia dan Pasha Ungu yang Tidur di Tenda Bersama Para Pengungsi Gempa dan Tsunami Palu

Patahan yang ambles mulai dari sisi timur Parangtritis hingga Kulonprogo itu akhirnya sebagian besar terisi endapan vulkanis dari gunung Merapi di sebelah utara.

Endapan itu sebagian besar berasal dari gunung Merapi Tua dan kemungkinan sebagian dari gunung Bibi, yang jauh lebih tua.

Daratan yang patah dan ambles, yang sekaligus jadi pembatas tegas antara dataran rendah Yogya hingga Bantul dan perbukitan di Gunungkidul ini sedikit banyak menjelaskan mengapa daerah terdampak paling parah gempa 2006 terlihat dari Pundong (Bantul) hingga Berbah (Sleman).

Dari temuan dan pembacaan sumber sejarah kuna tertulis, bencana besar tertulis di Prasasti Rukam bertarikh 829 Saka atau 907 Masehi.

Prasasti ini dikeluarkan Sri Maharaja Dyah Balitung sebagai pemimpin kerajaan Mdang Mataram saat itu.

Prasasti tembaga ini ditemukan di Desa Petarongan, Parakan, Temanggung pada 1975. Inti prasasti itu adalah perintah dari Dyah Balitung lewat sang putra mahkota, Rakryan Mahamantri i Hino Sri Daksotamma Bahubajra Pratikpasaya, agar menjadikan Desa Rukam sebagai tanah sima (perdikan) bagi sang nenek, Rakryan Sanjiwana.

Baca Juga :  GEMPA M 7.1 di Sulawesi Utara, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami

Desa itu disebutkan hancur karena letusan gunung berapi. Namun tidak dijelaskan gunung api mana yang membuat desa itu hancur lebur.

Mengingat temuan ada di wilayah Parakan, diduga kuat gunung berapi yang dimaksud itu Gunung Sindoro.

Penemuan bangunan pemujaan dan permukiman kuno Mataram di Liyangan, Parakan, Temanggung menguatkan dugaan itu.

Situs berciri Hindu itu terkubur bermeter-meter di bawah permukaan oleh material vulkanik dari arah Gunung Sindoro.

Struktur bangunan mula pertama ditemukan tak sengaja ketika para penggali pasir menemukan batu-batu persegi di kedalaman lebih kurang enam meter.

Penelitian selama lima tahun terakhir menampakkan Situs Liyangan sebagai bangunan pemujaan dan kompleks hunian cukup besar.

Jejak lain bencana alam telah mengubur peradaban Mataram Kuna bisa disaksikan langsung di Candi Sambisari, Candi Kimpulan, Candi Losari, dan Candi Kedulan. Bangunan terakhir ini tengah dalam proses pemugaran candi induknya.

Candi Sambisari dan Kedulan yang berdekatan lokasinya di Purwomartani dan Tirtomartani, Kalasan, Sleman, saat ditemukan terkubur material vulkanik dari Merapi, sedalam 6-8 meter.

www.tribunnews.com

Loading...