loading...
Loading...
Bangunan produksi baru hasil revitalisasi di kompleks Pabrik Gula Mojo Sragen. Foto/Wardoyo

 

SRAGEN- Pihak PTPN IX dan manajemen Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen menyampaikan progress revitalisasi pabrik gula bersejarah di Sragen itu sudah mencapai 95 persen. Diharapkan, akhir Oktober, revitalisasi bisa kelar dan awal 2019 PG Mojo sudah beroperasi dengan peralatan baru serta kapasitas yang meningkat.

Hal itu terungkap dalam laporan perkembangan terakhir proyek revitalisasi PG Mojo yang digelar jajaran manajemen, pihak kontraktor dan PMN PTPN IX, Selasa (2/10/2018).

Manajer PG Mojo Sragen, ER Setiyoso mengungkapkan revitalisasi PG Mojo yang didanai pemerintah pusat dimulai setelah giling bulan Oktober 2017 dengan dana Rp 225 miliar. Berdasarkan capaian terkini, progress pembangunan sudah mencapai 95 % dan tinggal tahap finishing.

Baca Juga :  Inspektorat Sragen Ungkap Temukan 599 Penyimpangan Anggaran, Munculkan Kerugian Keuangan Negara Hingga Rp 2,782 Miliar

Ia menguraikan revitalisasi yang dilakukan mulai peremajaan peralatan. Di antaranya mulai dari depan meliputi meja tebu, penggerak gilingan, pemurnian evaporator, centrifugal hingga stasiun pengemasan.

“Ini sudah tinggal satu pekerjaan di tahap akhir. Kita akan melakukan mechanical completion dan harapannya akhir Oktober sudah selesai. Sehingga 2019 PG Mojo bisa mulai beroperasi dengan penuh harapan, peralatan dan kapasitas yang makin meningkat,” paparnya Selasa (2/10/2018).

Setiyoso menjelaskan revitalisasi memang tak mengganti peralatan secara keseluruhan. Masih ada peralatan lama yang dipertahankan mendampingi peralatan baru.

Atas kondisi itu, diperlukan waktu untuk penyesuaian konektivitas antara peralatan lama dengan yang baru.

Baca Juga :  HP Terciduk Ada Video Wik Wik, Siswa SMK di Sragen Ini Malah Tertawa Saat Diinterogasi Petugas Satpol PP. Akui Hasil Download, Takut Jika Ketahuan Ortu 
Kondisi peralatan mesin-mesin di kompleks PG Mojo pasca revitalisasi. Foto/Wardoyo

Hal itulah yang sedikit berdampak pada performance hasil produksi gula yang sementara masih belum bisa berstandar SNI.

“Tapi kami sudah melakukan kesepakatan dengan semua petani tebu PG Mojo pada tanggal 27 September kemarin. Intinya bahwa PG Mojo akan bertanggungjawab menggiling seluruh tebu petani dan membeli dengan harga Rp 9.700 perkilogram sesuai ketentuan pemerintah sebagai konsekuensi penyesuaian konektivitas tersebut,” jelasnya.

Dengan progress revitalisasi yang sudah mendekati finish, Setiyoso optimistis awal 2019, PG Mojo dengan performance pabrik dan peralatan baru, bisa lebih maksimal dalam beroperasi. Bahkan ia menggaransi dengan kapasitas peralatan, mesin-mesin yang baru, produksi akan lebih optimal sehingga semua tebu Sragen bisa terproses dan takkan lari ke mana-mana.

Baca Juga :  Innalillahi, Korban Kecelakaan Maut di Sumberlawang Sragen Ternyata Mahasiswi Asal Pati. Motor Scoopynya Ringsek Tak Berbentuk 
Rapat laporan revitalisasi PG Mojo. Foto/Wardoyo

Sementara, Ketua Tim Penyertaan Modal Negara (PMN) PTPN IX, M Subagyo Sanjoyo menambahkan mengacu kontrak, mechanical completion atau penyempurnaan mekanis sebenarnya dijadwalkan selesai 31 Mei 2018 dan PHO proyek 7 September 2018.

Namun mengingat adanya penyesuaian konektivitas antara peralatan lama dengan baru, akhirnya membuat kegiatan agak mundur dari target.

“Namun kami optimis 2019 bisa tercapai. Harapan kami nanti dengan sudah selesai revitalisasi, maka kapasitas produksi bisa meningkat dari kapasitas existing (saat ini) 2500 Ton Cane per Day (TCD) menjadi 25.000 TCD. Karena kapasitasnya nanti bisa sampai 40.000 TCD,” tandasnya. Wardoyo

Loading...