loading...
Loading...
ilustrasi/tempo.co

JAKARTA– Masa anak-anak adalah sebuah kegembiraan. Orang tua mana yang rela masa keemasan anaknya terenggut oleh penyakit? Karena itu, gejala-gejala awal sebuah penyakit pada anak perlu diketahui sejak dini, dan syukur bisa diatasi, salah satunya gejala penyakit ginjal.

Dokter spesialis anak, Eka Laskmi Hidayat memaparkan, gangguan ginjal pada anak terbagi menjadi dua, pertama bawaan sejak lahir yang ditandai dengan adanya kelainan bentuk ginjal dan saluran kemih.

Kedua, gangguan ginjal yang didapatkan setelah lahir biasanya ditandai dengan infeksi saluran kemih dan radang ginjal akibat berbagai proses yang bukan infeksi.

Gangguan ginjal pada anak juga terbagi atas akut dan kronik. Biasanya gangguan ginjal akut yang terjadi secara mendadak dan singkat ini disebabkan oleh penyumbatan sistem penyaringan ginjal, trauma luka bakar, dehidrasi, pendarahan, dan cedera atau operasi.

Adapun gangguan ginjal kronis terjadi secara perlahan lebih dari 3 bulan. Jika tidak segera ditangani akan dialami seumur hidup dan tidak bisa disembuhkan.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, pada 2017 terdapat 212 anak dari 19 RS di Indonesia yang mengalami gangguan ginjal dan menjalani cuci darah.

Baca Juga :  Cegah Diabetes, Ganti Nasi dengan Sego Jagung, Ini Keunggulannya

“Angka kematian dari kasus gagal ginjal pada anak ini mencapai 23,6 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, di RSCM sepanjang 2007 hingga 2009 terdapat 150 anak yang mengalami gangguan ginjal kronik, serta 13 proses transplantasi ginjal pada 2017 hingga 2018.

Untuk itu, orang tua perlu waspada dan mengenali gejalanya sejak dini. Pasalnya, jika sudah mengalami gangguan, ginjal tidak dapat lagi disembuhkan. Proses cuci darah yang dilakukan bukan memulihkan kerja ginjal, melainkan hanya untuk mengganti fungsi ginjal terutama dalam proses penyaringan limbah dalam tubuh.

Menurut Eka, beberapa tanda dan gejala yang umumnya dialami oleh anak yang mengalami gagal ginjal antara lain mual dan muntah, hilangnya nafsu makan, perasaan lemah dan lesu, mengeluhkan adanya sesak napas dan sakit perut.

Selain itu, anak akan mengalami mati rasa, kesemutan, terbakar di kaki dan tangan, akan ada pembengkakkan pada pergelangan kaki dan tangan, adanya darah dalam urin baik kasat mata maupun tidak kasat mata, serta peningkatan jumlah sel darah putih pada urin.

Orang tua harus peka terhadap gejala dan segera membawa ke fasilitas kesehatan jika melihat adanya tanda-tanda. Pasalnya, tidak sedikit orang tua yang membawa anak ketika sudah masuk pada stadium lanjut. Di RSCM sendiri, sambungnya, sekitar 22 persen penderita gangguan ginjal pada anak, datang setelah stadium lanjut.

Baca Juga :  Ternyata Herbal Hanya Bisa Mencegah Kanker Bukan Mengobati, Ini Penjelasannya

“Kalau sudah stadium lanjut, maka harus lakukan cuci darah atau transplantasi ginjal. Risiko kematian pada anak dengan gangguan ginjal kronik stadium akhir ini pun 30 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak pada umumnya,” terangnya.

Sementara itu, Cut Putri Arianie, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular mengatakan meskipun gangguan ginjal tidak selalu dapat dicegah, tetapi orang tua dapat menekan kemungkinan terjadinya gangguan ginjal pada anak.

Pertama, jika anak memiliki kondisi kesehatan jangka panjang yang menjadi penyebab gangguan ginjal, seperti diabetes dan hipertensi, orang tua harus memastikan kondisi kesehatan tersebut terkontrol, baik dengan menjalani gaya hidup sehat maupun konsumsi obat-obatan teratur.

Lakukan aktivitas fisik secara rutin yang diimbangi diet sehat dengan mengonsumsi gizi seimbang dan konsumsi air putih secukupnya setiap hari. “Pada anak konsumsi air minimal 6 gelas per hari dapat menurunkan risiko gangguan ginjal,”ujarnya.

www.tempo.co

 

Loading...