loading...
Loading...
Tempo.co

JAKARTA – Dulu menjadi ladang teror kemanusiaan, namun kini kondisi tersebut mendatang kan berkah bagi masyarakat yang tinggal di sana.

Hal itu berkat kreativitas warga dalam memanfaatkan barang yang ada, yakni sisa-sisa bom yang tidak meledak.

Nama wilayah tersebut adalah Desa Ban Napia di provinsi timur laut Xieng Khouang di Laos. Wilayah ini adalah tempat  yang paling banyak dibombardir di dunia.

Baca Juga :  Greenland Kehilangan 2 Miliar Ton Es

Warga desa tersebut terpaksa mengasah kreativitas menggunakan sisa bom yang tidak meledak untuk membuat perhiasan logam dan perkakas karena lahan pertanian masih beresiko oleh ledakan bom.

Salah satu warga bernama Vanthon dengan sigap menarik logam cair dari tanur dan menuangkannya ke dalam cetakan yang diukir di balok kayu.

Baca Juga :  Unik, Kapel Gereja Katolik Ini Dihiasi Ribuan  Tengkorak Asli

Beberapa detik kemudian, dia menghias seekor burung merpati berwarna perak yang pernah menjadi pecahan bom yang dijatuhkan di desa Ban Napia.

Vanthon, menanam padi di sebidang kecil tanah di dekar rumah. Tetapi perhiasan yang dibuat dari besi tua di tanur kecil rumahnya memberi suaminya penghasilan tambahan.

Baca Juga :  Greenland Kehilangan 2 Miliar Ton Es

“Ladang kami belum dibersihkan dari bom, jadi ini adalah sumber pendapatan utama kami untuk saat ini,” kata Vanthon,  Jumat (14/12/2018).

“Kami harus berhati-hati saat bertani, dan berharap bom tidak meledak. Ketika tanah dibersihkan, kami bisa bertani lagi,” tuturnya.

www.tempo.co

Loading...