loading...
Loading...

JAKARTA – Setelah terjadi erupsi pada Juli 2018 dan 30 Desember 2018, Gunung Agung kembali melontarkan lava pijar pada Sabtu (19/1/2019) sekitar pukul 02.45 WITA.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, PVMBG, Devy K Syahbana mengatakan, erupsi Gunung Agung tersebut mengarah ke  tenggara sejauh satu kilometer keluar kawah.

Devy mengatakan, erupsi tersebut tercatat di peralatan seismik Gunung Agung terjadi dengan durasi 2 menit 8 detik.

“Amplitudonya 23 milimeter, overscale. Jadi, murni erupsi. Tinggi abu 700 meter. Lontaran lava pijar teramati,” kata dia.

Menurut dia, lontaran lava pijar itu masih belum berbahaya karena masih berada dalam radius area yang direkomendasikan untuk dikosongkan dari aktivitas manusia. PVMBG merekomendasikan area dikosongkan dalam radius 4 kilometer.

Baca Juga :  Heboh, Kepala Ngocor Dikepruk Gelas Saat Asyik Goyang Dangdut

Devy mengatakan, lontaran lava pijar dalam erupsi Gunung Agung terakhir terpantau jelas saat erupsi tanggal 30 Desember 2018.

“Terakhir, saat erupsi 10 Januari 2019 tapi gak begitu jelas. Sekarang ada lagi,” kata dia.

Potensi lontaran lava pijar tersebut yang menjadi salah satu alasan PVMBG meminta pengosongan radius 4 kilometer dari puncak untuk mencegah jatuhnya korban.

“Supaya pemerintah daerah setempat dan BPBD tetap berpegang pada rekomendasi kami,” kata Devy.

Devy mengatakan, dirinya perlu mengingatkan lagi soal rekomendasi ini karena masih mendapati warga nekat masuk ke area berbahaya tersebut.

“Saya lihat Instagram masih ada yang suka naik dan bawa turis,” kata dia.

Baca Juga :  Ada Usulan Mengganti Sekjen PKB dengan Direktur Eksekutif

Menurut dia, jalur masuk menuju puncak Gunung Agung relatif tidak ada penjagaan khusus.

“Masuknya bisa lewat beberapa tempat.”

Ada dua jalur utama yang kerap digunakan warga menuju daerah seputaran puncak Gunung Agung.

“Jalur selatan dari Pasar Agung. Satu lagi dari barat, dari Besakih. Kalau orang lewat, ya lewat saja,” kata Devy.

Mengingat bahaya erupsi yang mengancam, Devy meminta warga bersabar menunggu aktivitas Gunung Agung reda.

“Erupsi ini sudah lebih dari 1 tahun, tapi kita harus sabar menunggu sampai betul-betul menurun. Ritme aktivitas Gunung Agung memang lama. Dia gak pernah erupsi kurang dari 1 tahun. Malah ada yang sampai 3 tahun,” kata dia.

Baca Juga :  Jokowi: Pemblokiran Internet Demi Kebaikan Bersama

Makin menurunnya aktivitas gempa susulan atau after-shock Gempa Lombok memperbesar potensi terjadinya erupsi Gunung Agung.

“Kemarin terganggu Gempa Lombok, jadi seolah-olah sudah selesai karena sudah gak ada erupsi. Begitu after-shock gempa Lombok berkurang, erupsi lagi,” kata dia.

Terhitung sejak erupsi pertama 30 Desember 2018, erupsi Gunung Agung kembali muncul pada 10 Januari 2019 dan 19 Januari 2019.

“Ini balik lagi ke fase sebelum gempa Lombok, setiap 10 harian ada erupsi,” kata dia.

Kendati demikian, PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Agung.

“Kalau makin berkurang bagus. Kalau kian naik aktivitas erupsinya, baru kami akan evaluasi lagi,” ujarnya.

www.tempo.co

Iklan
Loading...