JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Horor Suara Gemuruh Dari Batu Raksasa Sesaat Sebelum Tragedi Longsor Bukit Cisolok Sukabumi

teras.id
teras.id

SUKABUMI- Ada kisah lain dari tragedi Longsornya lereng Bukit Sorandil yang melenyapkan Kampung Cimapag Cigarehong, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Menurut warga, sebenarnya sudah memberikan tanda-tanda alam sebelumnya.

Ada retakan tanah yang terus membesar di lereng bukit yang dianggap biasa oleh warga, sempat terjadi pergerakan tanah (longsor) dengan skala kecil beberapa tahun silam.

Seperti kesaksian sejumlah warga, pasca longsor yang menelan Kampung Cimapag Cigarehong, Senin (31/12/2018) petang sebelum Magrib. “Ada retak di atas Bukit Sorandil, dibawah batu hideung (hitam) warga disini juga semua sudah tahu dari dulu tapi kami kira efeknya tak begini. Kalau longsor kecil sering,” ungkap Suhati, nenek berusia 67 tahun yang rumahnya selamat dari amukan longsor.

Batu hideung ini memang menjadi penanda area awal longsoran (mahkota longsor) yang berada dilereng bukit. Batu besar berwarna hitam ini juga menjadi pembatas hutan dengan kawasan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian, sawah.

Adanya retakan, lereng bukit Sorandil dengan kemiringan lebih dari 30 derajat, tingginya intensitas hujan, dan mininya pohon keras penahan tanah, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan penyebab utama longsor di Cisolok. Longsor ini berdampak cukup parah karena keberadaan Kampung Cigarehong Cimapag yang ada dibawah lereng bukit6 nyaris tanpa ada daerah penahan longsor atau buffer zone.

Baca Juga :  Kemenkes: Hingga Kini Ada 1.146 klaster Penyebaran  Covid-19, Mayoritas Klaster Pesantren

Dalam rilis yang disebar BPNP ke media melalui BPBD Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Cisolok memang masuk peta merah rawan pergerakan tanah, dengan kategori menengah hingga tinggi. Kontur tanah di perbukitan Sorandil labil, dan saat ini nyaris tanpa pohon – pohon penopang karena beralih fungsi menjadi sawah.

Dalam rilis yang dikeluarkan Dr. Sutopo Purwo Nugroho M.Si Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB ini menyebutkan daerah rawan longsor tidak boleh dijadikan pemukiman. Tata ruang dan imflementasinya menjadi kunci untuk mengatasi longsor.

“Jika dibiarkan saja maka longsor dapat menjadi bom waktu yang selalu terjadi saat musim hujan. Daerah berbukit dengan lereng yang memiliki lereng lebih dari 20 derajat, sistem tata air guna lahan yang kurang baik, lereng terbuka dan gundul, serta memiliki retakan tapal kuda yang membuat aliran rembasan air, dapat menjadi tanda akan terjadinya longsoran,” tulis Sutopo dalam rilis tersebut.

Baca Juga :  Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber: Pelaku Alfin Andrian Bawa Pisau dari Rumah, Polisi Sebut Ada Indikasi Rencana Pembunuhan

Jika gejala ini terjadi, segera tutup retakan di atas tebing dengan material lempung, tanami lereng dengan tanaman berakar dalam, perbaiki tata air dan guna lahan,  dan selalu waspada jika mulai ada mata air atau rembesan air pada lereng, pungkas Sutopu.

Bahkan abah Asep Nugraha, pemanggu adat kesepuhan Sinar Resmi mengungkapkan fakta sejarah longsor yang sama di lereng bukit yang sama 20 tahun silam. Dikutip dari laman tempo.co, Abah Asep menuturka bahwa pemukiman yang longsor adalah Kampung Cigarehong hanya berjarak kurang lebih dari Kampung Cimapag, dan masuk dalam wilayah Kasepuhan Adat Sinar Resmi.

Kampung itu berada di lereng yang dekat dengan perbatasan Banten dan Taman Nasional Gunung Halimun-Gunung Salak. Menurut Abah, warga kampung adat yang hidupnya nomaden atau berpindah tempat mulai mendirikan kampung itu sekitar 1941-1942 di tanah adat.

“Kampung terus berkembang, beranak pinak di situ,” ujarnya.

Awalnya penghuni Kampung Cigarehong hidup dari bertani dan beternak dengan banyak kandang. Lama-lama area sawah bertambah di lereng perbukitan. “Sekitar 20 tahun lalu pernah terjadi longsor, waktu itu belum banyak sawah,” kata Abah.

www.teras.id