JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Terbongkar Pengakuan Kebohongan 17 Remaja Korban Bisnis MLM Yang Ditemukan Terlantar di Gemolong Sragen. Begini Sandiwara Mereka Membohongi Orangtua! 

Para ABG dan remaja yang diduga korban bisnis MLM saat diamankan di Polsek Gemolong Selasa (8/1/2019) malam. Foto/Wardoyo
Para ABG dan remaja yang diduga korban bisnis MLM saat diamankan di Polsek Gemolong Selasa (8/1/2019) malam. Foto/Wardoyo

SRAGEN-Kasus terungkapnya 17 remaja dan ABG di bawah umur dari berbagai daerah yang telantar akibat tergiur bisnis MLM *-Net di Sragen oleh Polsek Gemolong, akhirnya menguak tabir kebohongan mereka. Hampir semua remaja yang berasal dari Jateng bagian barat itu ternyata mengaku selama berbulan-bulan memendam kebohongan dan bersandiwara ke orangtua mereka.

Mereka berbohong dengan mengaku sudah mendapat kerja mapan di wilayah Solo dan sekitarnya dengan gaji Rp 3 juta perbulan. Selain itu, mereka juga berbohong ketika meminta uang Rp 8,6 juta hingga Rp 9 juta untuk mendaftar di MLM *-Net yang berpusat di Sragen itu.

Pengakuan itu terungkap ketika mereka diwawancara Joglosemar di Polsek Gemolong. Seperti pengakuan Eling Sumaryo (20) remaja asal Banjarnegara, Jateng.

Ia mengaku sudah meninggalkan rumah sejak 5 bulan lalu demi bergabung dengan MLM *-Net. Awalnya ia ditawari kerja oleh tetangganya teman sekolahnya.

“Waktu itu ditawari kerja di Gudang Mal gajinya Rp 3 juta. Gak bilang tempatnya di mana. Begitu ketemu saya langsung diajak ke gedung presentasi *-Net di Sragen itu. Lalu disuruh duduk mencermati orang sukses yang presentasi di depan. Lalu saya tertarik dan daftar,” ujarnya.

Eling mengaku saat itu ia diminta membayar Rp 8,6 juta sebagai member atau anggota. Uang itu dibayarkan dengan mendapat selembar sertifikat anggota dengan istilah TCO dan dapat kartu katalog serta satu produk mirip tutup gelas transparan berukuran kecil yang disebut dengan Cakra untuk alat terapi.

Baca Juga :  Ponpes Ustadz Habib MA di Tangkil Sragen Masih Ditutup, 10 Santri dan Anaknya Isolasi Mandiri. Total 121 Orang Terlacak Kontak Erat dan Jalani Swab

“Bilangnya itu produk dari Hongkong. Tawarannya memang menggiurkan. Gajinya Rp 3 juta perminggu kalau dapat anggota 3 kiri 3 kanan. Akhirnya saya minta uang ke orangtua dengan alasan saya hilangkan laptop perusahaan. Setelah dikirim Rp 8,6 juta saya transfer ke rekening Pak H di Banjarnegara untuk daftar,” paparnya.

Ia juga mengaku selama 5 bulan, hidupnya berkumpul dengan teman senasib di Gemolong. Ngontraknya berpindah-pindah dengan makan seadanya.

Saat ditanya selama 5 bulan itu apakah dia keliling mencari anggota baru untuk ditawari gabung, Eling mengaku tidak. Selama itu ia dan teman-temannya hanya di kontrakan dan mencari anggota hanya dilakukan lewat SMS atau WA.

“Iya Pak, saya terpaksa bohong ke orangtua biar ditransfer uang. Malah sepeda saya Yamaha Vega saya bawa ke sini, hilang dipinjam teman saya. Saya juga pingin segera pulang Pak,” tutur Eling.

Senada, GAL (15) asal Purbalingga, sudah hampir sebulan meninggalkan rumah demi gabung MLM yang sama. Dia mengaku awalnya diajak tetangganya bernama Mas Trimo lewat SMS dengan tawaran diajak kerja enak gaji besar.

“Janjinya diajak kerja di toko baju di Solo, gajinya sebulan Rp 1,9 juta. Akhirnya saya mau dan langsung berangkat. Saat itu naik bus turun Terminal Solo. Habis itu langsung dibawa ke gedung preesentasi di Sragen. Di situ banyak orang, cuma dengerin yang ceramah sudah sukses. Lalu tertarik dan bayar uang pangkal Rp 8,7 juta,” kata remaja jebolan SMP di Purbalingga itu.

Baca Juga :  Kabar Duka, Mubaligh Muda Habib M Asal Sragen Kota Positif Terpapar Covid-19. Awalnya Gejala Batuk, Memburuk Lalu Dirujuk ke RSUD Moewardi Solo, Sumber Penularannya Masih Misteri

Karena sudah terobsesi gaji besar dari komisi MLM, GAL kemudian menyusun sandiwara ke orangtuanya. Ia mengaku sudah kerja di Solo dan kena musibah menghilangkan laptop milik pimpinannya.

Ia kemudian minta kiriman uang Rp 9 juta untuk mengganti laptop itu. Orangtuanya yang tak curiga kemudian mengirim uang yang lantas digunakan untuk mendaftar.

“Saya belum dapat produknya karena masih nunggu kiriman dari Hongkong. Saya tertariknya kerjanya nggak jelas kok hasilnya jelas. Setiap seminggu dikumpulkan di gedung presentasi. Tapi sampai sekarang saya belum dapat gaji jadi ya belum dapat bayaran,” katanya.

GAL juga mengaku sudah berbohong ke orangtuanya dengan mengaku sudah kerja mapan di toko baju di Solo. Padahal selama sebulan di Gemolong, ia makan seadanya dan tidur ngontrak bareng rekan senasibnya.

“Modal yakin aja Mas,” ujarnya agak ngeyel.

Kanit Reskrim Polsek Gemolong, Ipda Mujiyanto mewakili Kapolsek Gemolong juga sempat menginterogasi beberapa remaja itu. Hampir semuanya mengaku awalnya diajak oleh teman atau tetangganya dengan tawaran kerja mapan gaji besar.

“Rata-rata memang bohong ke orangtuanya agar dikirimi uang untuk daftar jadi member di MLM itu. Ada yang ngilangin laptop, kamera perusahaan dan disuruh ngganti. Padahal uangnya dipakai untuk daftar ke MLM itu. Kan kasihan, mereka ternyata berbulan-bukan bohong ke orangtuanya. Ngakunya kerja ternyata terlantar, malah minta transferan,” tuturnya di Mapolsek. Wardoyo