loading...
Loading...
Wakil Ketua DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto saat mengecek kondisi Jembatan Plampang di Wonotolo-Plosorejo Gondang yang jebol terputus usai banjir bandang, Sabtu (9/3/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Warga di Desa Wonotolo, Plosorejo dan beberapa desa di Kecamatan Gondang terpaksa harus memutar akses melalui jalur alternatif sejauh empat kilometer. Hal itu menyusul terputusnya Jembatan Plampang di perbatasan yang menjadi akses vital penghubung kedua desa tersebut.

Jembatan utama itu ditemukan terputus bagian pilarnya serta ambrol bagian penopang dan talud. Jembatan yang kali terakhir direhab 2010 silam itu jebol setelah diterjang banjir bandang dua malam lalu, Kamis (7/3/2819).

“Kondisi rusak parah dan memang enggak bisa dilewati lagi karena pilar sudah putus. Kalau tak segera diperbaiki maka akan menyeret tanah-tanah warga di sekitarnya. Harapan kami dinas terkait segera turun tangan. Karena ini akses utama dan jalur vital penghubung antardesa sampai ke Desa Srimulyo” papar Wakil Ketua DPRD Sragen asal Gondang, Bambang Widjo Purwanto saat meninjau lokasi jembatan yang rusak, Sabtu (9/3/2019).

Baca Juga :  Terbongkar, Korupsi Pungli Alsintan Sragen Gunakan Sandi Uang Administrasi. Apri Akui 5 Kali Setor ke Sudaryo Antara Rp 2,5 Juta Hingga Rp 35 Juta

Dari hasil pengecekannya, ambrolnya jembatan juga diduga dipicu oleh keberadaan bangkai kayu besar yang melintang tersangkut di bawah jembatan.

Kayu trembesi berukuran besar yang disebut keramat dan tersangkut di jembatan itu menutup jembatan sehingga tekanan air sungai akan memecah dan beralih menghantam ke sisi talud dan samping jembatan.

Potensi ancaman pengalihan arus itu sudah terlihat dengan tergerusnya pekarangan di dekat jembatan yang semakin meluas.

Atas kondisi itu, legislator asal Gondang itu meminta BPBD untuk segera turun mengevakuasi pohon trembesi keramat yang menutup jembatan.

Baca Juga :  Pimpin Sertijab, Kapolres Minta Kasat Reskrim Berlari Ungkap Kasus Korupsi Sragen. Kasat Lantas Diminta Tekan Kasus Laka 

“Kalau kayunya nggak segera diangkat, bukan tidak mungkin kalau sungai meluap lagi, maka jembatan bisa runtuh total. Lalu tanah di sekitarnya akan makin tergerus. Karena arus akan terpecah karena tertutup kayu,” tukasnya.

Sementara untuk perbaikan jembatan, menurutnya karena kerusakan akibat bencana maka tak harus menunggu mekanisme anggaran. Akan tetapi bisa menggunakan dana tanggap darurat atau diajukan ke pusat.

“Apalagi jalan ini juga jalan DPU. Jadi tanggungjawabnya pemerintah daerah,” tukasnya.

Mulyadi (53) warga Dukuh Cengklik, RT 7, Wonotolo, Gondang menuturkan keberadaan Jembatan Plampang memang sangat vital bagi warga beberapa desa utamanya Wonotolo dan Plosorejo.

Baca Juga :  Geger Mobil Merah Mendadak Terbakar Hebat Saat Melintasi Jalan Gabugan Tanon. Warga dan Polisi Langsung Berjibaku Bantu Pemadaman 

Sejak jembatan terputus dan ditutup dua hari lalu, masyarakat harus memutar sejauh 4 kilometer melewati jalur lain.

“Harapannya ya segera diperbaiki. Karena ini akses utama sehari-hari yang dilewati warga. Mau ke pasar, mau ke sawah, ke sekolah dan ke kecamatan lewatnya jembatan ini. Lalu pohon trembesi yang hanyut dan nyangkut bawah jembatan ini juga harus segera diangkat. Karena warga memang nggak ada yang berani mengangkat karena itu pohon yang dikeramatkan di Tlogosari sana,” terangnya.

Terpisah, Kepala Pembina BPBD Sragen Tatag Prabawanto saat dikonfirmasi mengaku akan segera menerjunkan tim untuk melakukan evakuasi batang kayu di lokasi jembatan. Wardoyo

 

Loading...