JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Jatah Pupuk Dipangkas Ugal-ugalan Hingga 50 %, 10.000 Petani Tebu di Sragen Menjerit

Suasana audiensi petani tebu yang tergabung dalam APTRI Sragen di DPRD Sragen, Selasa (5/3/2019). Foto/Wardoyo
Suasana audiensi petani tebu yang tergabung dalam APTRI Sragen di DPRD Sragen, Selasa (5/3/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Ribuan petani tebu di wilayah Sragen menjerit. Pasalnya, jatah pupuk bersubsidi dari pemerintah yang dialokasikan untuk petani tebu Sragen tahun 2019 ini terjun bebas dibanding tahun lalu.

Tak hanya berkurang, jatah pupuk tahun ini dinilai sangat jauh dari rekomendasi serta kebutuhan petani. Bahkan, penurunannya mencapai 50 persen lebih dari alokasi tahun lalu.

Keluhan itu mencuat ketika perwakilan petani tebu Sragen yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Mojo Sragen menggelar audiensi di DPRD Sragen, Selasa (5/3/2019). Mereka beraudiensi menyikapi merosotnya jatah pupuk yang dinilai tak adil dan bakal mematikan nasib petani tebu.

Audiensi dipimpin Wakil Ketua DPRD, Bambang Widjo Purwanto, Ketua Komisi II Sri Pambudi dan dihadiri Kepala Distan Ekarini Mumpuni serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Muh Djazairi.

Ketua APTRI Sragen, Parwanto mengatakan lewat audiensi, petani tebu menyuarakan merosotnya jatah pupuk tahun ini.

Menurutnya penurunan sangat drastis. Untuk jatah pupuk ZA yang tahun 2018, petani dijatah 700 kg atau 7 kuintal perhektare. Tapi untuk tahun ini, terjun drastis hanya dijatah 300 kg atau 3 kuintal saja perhektare.

Pun dengan jatah Phonska yang tahun lalu perhektare diplot 600 kg atau 6 kuintal, tahun ini juga dipangkas separuhnya hanya tinggal mendpaat 300 kg atau 3 kuintal perhektare.

Baca Juga :  Bikin Miris, Berikut Daftar 19 Warga Sragen Positif Terpapar Covid-19 Hari Ini. Ada 6 Orang asal Mondokan dan 7 Orang dari Sidoharjo

“Untuk ZA turunnya 57 persen, untuk Phonska 50 persen. Ini kan sudah enggak adil,” papar Parwanto kepada wartawan.

Ia mengatakan penurunan drastis itu amat merugikan petani. Sebab dampaknya otomatis akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tebu.

Padahal kebutuhan dosis yang sudah dihitung oleh tim ahli, minimal dosisnya 6 kuintal ZA dan 5 kuintal Phonska perhektare.

“Kalau hanya 3 kuintal 3 kuintal sampai di mana. Harapan kami, kalaupun toh dikurangi mestinya yang proporsional. Misalnua 6 persen atau 14 persen. Enggak terus langsung 50 persen begini,” timpal Giyanto, Wakil Ketua APTRI.

Parwanto menambahkan jumlah petani tebu yang akan terdampak di Sragen mencapai sekitar 10.000 petani. Itu belum termasuk tenaga buruh, pegawai di PG Mojo dan lain-lain yang selama ini menggantungkan pencaharian dari pertanian tebu.

Kepala Dinas Pertanian Sragen, Ekarini Mumpuni mengatakan penurunan alokasi terjadi karena jatah pupuk yang turun dari pemerintah memang menurun. Hampir semua jenis pupuk yang diusulkan di 2019, realisasinya jauh di bawah usulan di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Terkait problem alokasi di petani tebu, pihaknya berjanji akan melakukan kajian ulang. Kajian diperlukan untuk mengambil langkah menyikapi persoalan penurunan alokasi pupuk untuk perkebunan tebu itu.

Baca Juga :  Rumah Suharto di Plupuh Sragen Diamuk Kobaran Api. Warga Sempat Berhamburan Bantu Pemadaman, Kerugian Jutaan Rupiah

“Nanti akan kami rapatkan dengan tim dan KP3. Hasil arahan dan rekomendasi dari pimpinan sidang tadi juga akan kita jadikam bahasan. Nanti hasilnya seperti apa, kita akan laporkan juga ke pimpinan,” tegasnya.

Wakil Ketua DPRD sekaligus pimpinan audiensi, Bambang Widjo Purwanto meminta agar KP3 dan dinas terkait segera melakukan kajian ulang terkait persoalan itu. Ia berharap kajian dilakukan sesegera mungkin mengingat saat ini pupuk sudah sangat dibutuhkan oleh petani tebu itu.

Ia juga meminta agar ada alokasi tambahan bagi petani tebu. Hal itu untuk menyelamatkan nasib petani tebu agar tak sampai terpuruk. Pihaknya juga menyayangkan kebijakan pemerintah yang seolah makin tak berpihak ke petani.

Sebab realitanya, hampir setiap tahun, jatah pupuk untuk petani maupun petani tebu, terus dipangkas dan semakin merosot.

“Mestinya kalau pun harus diturunkan kan sedikit saja. Nggak seperti ini, masa diturunkan sampai 50 persen. Makanya kami melihat ini sudah tidak turun lagi tapi terjun bebas. Harapan kami segera ada kajian, dan ada alokasi tambahan bagi petani tebu. Karena pupuk itu ibarat makanan bagi tubuh. Kalau makanannya saja jauh dikurangi, pastilah pertumbuhannya akan makin sulit. Kalaupun bisa hidup, paling hanya hidup-hidupan,” tandasnya. Wardoyo