JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Kisah Pendamping PKH di Karanganyar Sempat Dikira Debt Collector. Akhirnya Digelontor 22 Motor Dinas 

Foto/Humas Kab
Foto/Humas Kab

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemberian bantuan itu berlangsung di Kantor Dinas Sosial Karanganyar. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karanganyar, Agus Heri Bindarto mengatakan, PKH itu merupakan program dari Kementrian Sosial.

Dimana di PKH itu ada Pendamping PKH yang bertugas membantu pelaksanaan program pelayanan penyaluran program PKH.

“Ada sebanyak 22 sepeda motor yang diberikan kepada pendamping PKH dengan status pinjam pakai. Dari 22 orang pendamping yang mendapatkan bantuan berupa sepeda motor, yakni 17 orang Koordiantor PKH Kecamaatan, 2 Koordinator PKH Kabupaten, 2 Supervisor PKH Kabupaten, dan 1 orang Koordiantor operator PKH Kabupaten,” katanya.

Baca Juga :  Produk UMKM Mulai Tembus Pasar Internasional, Pemkab Karanganyar Raih 2 Penghargaan Nasional dari Kemenkop dan Mark Plus. Ini Kategorinya!

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karanganyar Agus Bindarto menjelaskan, karena jumlah PKH di Karanganyar yang banyak sekitar 124 orang dan anggaran belum mampu. Saat ini bantuan diberikan kepada koordinatornya terlebih dahulu untuk pendampingan setiap hari.

Ia menuturkan, untuk harga per unit sekitar Rp 17 juta sekian, dan itu diambilkan dari APBD Karanganyar 2019, tegasnya.

Sementara itu, biaya perawatan sepeda motor ditanggung oleh penerima. Sedangkan pajak ditanggung separuh-separuh antara penerima dan pemerintah. Adapun penerima hanya diberikan STNK untuk operasional sehari-hari.

Baca Juga :  Nekat Tenan Gelar Hajatan Tanpa Izin dan Langgar Prokes, Pesta Campursari di Lalung Karanganyar Dibubarkan Paksa Satpol PP dan Polisi. Ratusan Tamu dan Penjoget Kocar-Kacir

“Sebulan sekali kita ada rapat, nanti sekalian dicek, sepeda motornya dirawat apa tidak,” jelasnya.

Supervisor PKH Kecamatan, Hanindya Lutfi,  mengaku dengan menggunakan sepeda motor ini (plat merah) mempunyai nilai prestise di masyarakat dan resmi karena ada stiker PKH juga.

“Pernah pengalaman pas Monitoring dan Evaluasi (Monev) karena pakai baju hitam dikira depkolektor,” jelasnya. Wardoyo