JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Tak Cukup Hanya Kampanye, Para Caleg Perlu Dukungan dari Yang Tak Terlihat

pemilu
Ilustrasi

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kalau mau lolos menjadi wakil rakyat atau  legislatif dalam ajang Pemilu 2019, orang biasanya melakukan berbagai cara.

Misalnya dengan aktif melakukan kampanye, promosi, sosialisasi dengan mendatangi langsung konstituennya. Bisa juga dengan memasang baliho atau menyebar publikasi untuk meraih simpati warga.

Namun di luar itu semua, ada strategi di balik layar yang biasa dilakukan, misalnya dengan mendatangi orang pintar, minta doa restu rohaniwan, ziarah ke makam keramat dan serupanya.

Di Jawa Tengah, hal tersebut banyak terjadi. Ada yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun juga ada yang dilakukan terang-terangan.

Bahkan ada penawaran dari orang pintar untuk membentengi diri atau tubuhnya dipagari, dengan tujuan tertentu.

Yuliana, seorang caleg DPRD Kota Semarang mengaku tiba-tiba dihubungi orang yang belum dikenalnya.

Penelepon itu menawarkan hal-hal mistis, membentengi diri secara gaib.

“Dia bilang kalau tubuh saya harus dibentengi supaya bisa menang,” kata Yuliana di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Minggu (10/3/2019) saat acara deklarasi dukungan kepada capres.

Karena merasa aneh, Yuliana pun tidak mau mengikuti saran dan ajakan tersebut. Ia beranggapan cara tersebut tidak akan efektif membuatnya menang dalam Pileg 2019 ini.

“Jadi saya nggak tahu biaya berapa, syaratnya seperti apa. Saya cuma bilang nggak. Orang itu mengubungi dan menawarkann saya lewat pesan WhatsApp,” imbuhnya.

Yuliana mengaku tidak mencari dukungan atau menggalang suara dengan datang ke makam keramat atau orang pintar. Jika pun membutuhkan penguatan mental secara religius ia lebih nyaman beribadah dan memohon langsung kepada Tuhan.

“Strategi saya datang langsung ke masyarakat. Memberikan edukasi misalnya cara pencoblosan, dan sosialisasi hal-hal yang berkaitan dengan mekanisme Pemilu. Itu saya rasa lebih efektif dan kelihatan hasilnya dibanding datang ke dukun atau orang pintar,” kata Yuliana.

Berbeda dengan situasi di Kabupaten Tegal. Sebut saja makam Sri Susuhunan Amangkurat Agung atau Amangkurat I yang merupakan Raja Kasultanan Mataram di kompleks Makam Tegalwangi atau Tegalarum di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal.

Baca Juga :  Operasi Yustisi Penegakkan Protokol Kesehatan Terus Dimasifkan

Banyak Caleg berziarah ke makam tersebut. Bahkan, Cawapres juga sempat mendatangi makam Raja Amangkurat I tersebut.

Juru kunci makam, Agus Sholeh mengaku beberapa calon wakil rakyat kerap terlihat berziarah. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama-nama caleg yang rajin berziarah.

“Ada lah orang-orangnya. Banyak. Seringnya malam Jumat dan Jumat Kliwon mereka datang,” ungkap Agus.

Mereka, lanjutnya, berdoa di depan makam di sisi dalam agar hajat atau keinginan untuk menjadi wakil

rakyat dapat terkabul. Tingkah para caleg saat mendatangi makam juga aneh-aneh. Ada yang membawa buah-buahan, dan juga sesajen lain.

“Mereka (para caleg) mengatakan membawa barang bawaan itu sebagai wujud terimakasih dan bersyukur atas apa yang mereka dapatkan selama ini. Bukan apa- apa atau hal lain,” ucapnya.

Agus sering bilang kepada para caleg yang berziarah di makam Raja Amangkurat agar meminta sesuatu, tetap berdoa kepada Allah. Jangan minta kepada orang yang sudah meninggal. Berdoa di makam keramat silakan tapi tetap mohon kepada Allah.

“Saya sering menekankan kepada mereka untuk berdoa agar apa yang diberikan Allah kepada Amangkurat, juga diberikan kepada mereka, seperti berkah dan karomahnya. Jangan ke sini semata-mata agar jadi anggota dewan,” katanya.

Makam tersebut diakui menjadi magnet calon legislator untuk mendulang suara. Selain berdoa di depan makam, para caleg juga menempelkan alat peraga kampanye di dinding depan kompleks akam.

Dengan begitu, mereka berharap para peziarah yang ramai mendatangi makam melihat alat peraga yang berisikan untuk memilih mereka saat hari pemungutan suara 17 April 2019 mendatang.

“Itu tidak tahu siapa yang memasangnya. Tidak izin dulu. Saya mau mencopotnya, takut dikira saya merusak atau melanggar,” imbuh Agus.

Di Brebes, sejumlah caleg juga berziarah ke makam keramat. Sebut saja Andrian (35) seorang caleg DPRD Brebes rajin blusukan bertemu warga dan mendatangi majelis pengajian di dapilnya. Dia juga ziarah ke makam-makam tokoh serta penyebar agama di Brebes.

“Kami anggap ziarah politik itu sebagai hal yang biasa dilakukan. Karena kami menginginkan sesuatu, ya harus berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar hajatnya terkabul. Karena sedang ziarah ke makam, ya sah-sah saja kami berdoa di depan makam,” ucap caleg DPRD Brebes itu.

Baca Juga :  Bangun Mental Baja dalam Berbisnis, Ganjar Fokus Kembangkan UMKM di Jateng

Menurutnya, berdoa di makam boleh saja asalkan memintanya tetap kepada Allah, bukan pada pusara tokoh yang didatangi.

Selain mengunjungi makam keramat di Brebes, ia juga kerap mendatangi makam tokoh agama di Tegal. Hal itu dilakukan rutin setiap sekali dalam seminggu.

Terkadang, ia pun harus menginap jika sesampai di makam yang di tuju sudah malam.

“Biasanya setelah menyambangi satu lokasi pada satu acara tertentu dan selesainya malam hari, dan saya ingin berziarah ya saya langsung ke sana. Kalau semisalkan malam hari ya beberapa kali saya menginap,” tuturnya.

Berziarah ke makam saat malam hari, kata dia, lebih khusyuk karena jumlah pengunjung tidak sebanyak saat siang hari. Perasaan juga lebih tenang saat malam hari. Tidak ada ritual khusus yang dilakukannya saat berziarah.

Hanya saja, ada doa khusus yang diajari guru spiritualnya saat mendatangi lokasi makam dan berdoa di samping pusara.

“Saya pikir banyak caleg melakukan ritual politik tersebut agar bisa melenggang mendapatkan suara banyak. Itu sudah jadi rahasia umum, ada yang terang-terangan ada yang tidak mengakuinya,” imbuhnya.

Sementara itu, Rizki Ubaidillah (30) caleg DPRD Brebes mengatakan tidak pernah melakukan ziarah ke makam keramat dan berdoa agar dapat mendulang keunggulan suara.

“Sejak periode pertama dan mau kedua ini, saya tidak pernah melakukan itu (ziarah ke makam keramat). Saya hanya ziarah ke makam leluhur. Di sana saya berdoa agar diberikan berkah dan bisa terwujud keinginannya,” kata pria yang akrab disapa Uki itu.

Mengunjungi makam leluhur lebih memiliki tujuan. Selain berharap mendapatkan berkah yang terbaik juga sekalian mendoakan nenek dan buyutnya. Untuk mempersiapkan batin, menghadapi hari pemungutan suara, ia hanya melakukan puasa sunah.

www.tribunnews.com